Tasya Story

Tasya Story
NINETEENTH!



Beberapa bulan telah berlalu semenjak kepergian Aldo. Setiap harinya setelah pulang kuliah, Tasya akan menyempatkan diri untuk berkunjung ketempat peristirahatan terkahir kekasihnya. Walaupun Tasya sudah mulai mengikhlaskan kepergian Aldo, tapi tetap saja ia masih tidak bisa terima jika Aldo meninggalkannya dengan cara seperti ini.


Tasya memilih menjauhkan dirinya sejenak dari keluarga dan teman-temannya. Ia merasa sedang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri saat ini. Tasya tak mau jika nantinya akan ada korban selanjutnya akibat dendam arwah yang tak mampu menyentuhnya.


Dari hari ke hari, minggu ke minggu, ia mulai terbiasa dan merasa nyaman dengan kesendiriannya. Namun terkadang di saat-saat tertentu, ia tak mampu mengendalikan pikirannya yang terbang melayang kesana-kemari tanpa mampu ia kontrol. Disitulah ia akan merasa sangat terpuruk tatkala ingatannya berhenti di suatu hari dimana ia sangat menikmati kebersamaannya bersama Aldo, keluarga, dan teman-temannya.


Sebenarnya ia sangat ingin kembali bersama-sama mereka semua. Tapi selalu ia urungkan, ini terlalu sulit baginya. Tasya sering berfikir, "jika kamu dendam padaku, kenapa bukan aku saja yang kau bunuh. Kenapa harus dia!" jeritnya dalam hati kemudian mulai menyalahkan dirinya kembali.


***


"Kita gak bisa biarin ini, apa lo semua gak kasian ngeliat Tasya sendirian. Dia pasti butuh seseorang yang bisa ngertiin keadaan dia saat ini. Disinilah peran kita sebagai seorang sahabat di butuhkan," tegas Jeno yang merasa sangat tak berguna sebagai sahabat.


"Terus kita harus gimana? Kita harus maksa Tasya untuk nerima kita yang mau menemaninya dengan alasan sebagai sahabat? Lo mikir lah, dia masih sedih. Dia butuh waktu sendiri buat nenangin diri. Kita harus menghargai keputusan dia Jen," Kate sangat prihatin dengan keadaaan Tasya saat ini, bahkan ia pernah berusaha mendekati Tasya namun selalu di tolak.


"Bener kata Kate, kita harus menghargai keputusan Tasya Jen, dia butuh waktu sendiri sekarang. Nanti kalau keadaannya sudah membaik baru kita semua datangin dia," sela Tiro datar.


"Gue sih ikut kalian aja, kalau kalia mau datangin Tasya sekarang ataupun nanti sama aja sih menurut gue," Hani menatap wajah temannya satu persatu yang terlihat terkejud mendengar ucapannya. "Kenapa?" Tanyanya bingung.


"Heem, lo gak kasian gitu liat temen sendiri lagi kesusahana, atau lo malah seneng?" Tanya Jeno sedikit geram.


"Lo berdua kok malah nyalahin gue sih, ituakan keputusan Tasya. Mau dia gimana-gimana juga kan urasan dia. Toh, kita semua juga udah berusaha mau membantu tapi selalu di tolak!" Ujarnya dengan sedikit nada tinggi.


"Tapi seenggaknya lo tunjukin gitu rasa prihatin lo sebagai teman. Setelah pemakaman Aldo juga gue gak pernah liat lo deketin Tasya lagi, kenapa? Apa lo udah ngerasa aman karna Aldo udah gak ada, jadi arwah itu gak bakal gangguin kita?" Awalnya Kate masih bisa terima ketika Hani bersikap biasa saja disaat semua temannya berbondong-bondong memberikan kalimat penyemangat untuk Tasya. Sedangkan dia...


"Kalo pemikiran lo seperti itu, maka lo salah besar! masalah ini belum selesai, hanya belum di mulai!" Lanjut Kate.


"Maksud lo apa?" Hani menatap Kate horor. Perasaannya jadi campur aduk. Memang benar jika dia pernah berfikir arwah itu tak akan mengganggu lagi. Tapi dia tak tahu menahu tentang masalah yang akan datang selanjutnya.


Kate memilih dian bukan berarti dia tak mau menjawab pertanyaan Hani, hanya saja dia sendiripun tak begitu mengetahui persis apa yang akan terjadi. Semuanya hanya samar-samar. Dia hanya diberikan beberapa clue yang sudah ia pecahkan sebelumnya dengan susah payah. Namun dia sangat yakin, ada yang tidak beres. Akan ada sesuatu yang menimpa mereka untuk yang kedua kalinya.


Permainan di mulai...