
Tinggal jauh dari orang tua sudah lama Aldo jalani semenjak usianya menginjak dunia perkuliahan. Walaupun kerap kali mengalami gangguan, Aldo selalu menahan diri untuk tak menceritakan hal itu pada keluarganya.
Sejak kecil Aldo selalu di perlakukan bak raja dalam istana. Semua keinginannya selalu tersedia tanpa ia minta terlebih dahulu. Dia yang mendapat perlakuan itu tentu saja merasa senang. Namun itu tak berlangsung lama. Semua itu berlangsung ketika dia masih kecil. Semua kesenangan dan kebahagiannya hanya ia rasakan sebelum dia menjadi seorang pelajar di salah satu sekolah favorit di kota kelahirannya.
Tak ada seorangpun yang mau berteman dengannya. Di panggil dengan sebutan "Anak Mami" sudah tak asing lagi di pendengarannya. Ketika semua anak di biarkan untuk menikmati masa kecilnya dengan teman-teman sebayanya, seorang Aldo justru terkurung di ruangan yang sesak penuh dengan barang-barang tak berguna. Dia hanya bisa menikmati itu semua dibalik jendela kaca kamarnya seolah menjadi saksi kebahagian mereka semua.
Aldo selalu mencoba untuk mengerti kekhawatiran orang tuanya. Dia selalu berfikir, "Apakah salah jika orang tua menyayangi anaknya? Apakah salah jika seorang anak di sayangi orang tuanya? Apakah salah jika orang tua khawatir pada anak semata wayangnya?" Tentu saja tidak! Tak ada yang salah dari pernyataan itu, yang salah yaitu ketika mereka melakukan itu secara berlebihan.
Aldo merasa ada sesuatu yang kedua orang tuanya sembunyikan darinya. Tak mungkin jika keluarganya begitu mengkhawatirkannya sedangkan tak ada suatu apapun yang pernah mengancam dirinya.
Dan benar saja, menurut buku mendiang neneknya, "akan ada dua keturuan di keturan kelima yang salah satunya memiliki kelebihan melebihi mereka semua dan yang lainnya memiliki kekurangan yang juga melebihi mereka semua."
Aldo kecil tak mengerti maksud dari kutipan tersebut. Sampai suatu saat dirinya mulai menunjukkan dan mengalami serangkaian kejadian-kejadian aneh. Awalnya dia mengira karna pohon di halaman rumah yang di tebang, mengingat umurnya sudah sangat tua, tak mungkin jika tak ada penghuninya.
Namun setelah di fikir-fikir, dirumah bukan hanya ada Aldo saja. Bahkan ada seorang anak bayi yang baru beberapa hari lalu di lahirkan. Kenapa bukan adik sepupunya saja yang dia ganggu, bukannya mereka lebih suka mengganggu anak-anak?. Itu semua terjawab ketika salah seorang temannya mendekatinya, lalu menceritakan tentang dirinya yang memiliki kelebihan. Dan tak lupa juga ia menceritakan sebuah fakta tentang diri Aldo yang bahkan dia sendiripun tak mengetahuinya.
"Jempol kaki lo bolong Do, mungkin ini alasan lo jadi anak mami. Pasti orang tua lo tau tentang ini, maka dari itu mereka selalu berusaha menjaga lo dari kejadian-kejadian buruk yang mungkin saja akan terjadi pada lo"
Disitulah Aldo mulai mendapatkan kepingan-kepingan puzzle yang harus dia susun sedemikian rupa agar bisa mengetahui rahasia besar keluarganya yang ditutup-tutupi dengan rapih dari dirinya.
Pertama, kedua orangtua dan keluarganya memperlakukannya melebihi apapun, tak pernah berpaling sedikit saja apalagi meninggalkannya barang sedetikpun. Itu semua karna banyak sekali yang mengincarnya.
Kedua, dia adalah salah satu keturunan yang memiliki kekurangan melebihi kekurangan yang di miliki masing-masing keluarganya.
Ketiga, sudah lama ia selalu berfikir mengapa bukan adik sepupunya saja yang mengalami apa yang Aldo alami selama ini. Ternyata dia adalah keturunan yang dimaskusud buku itu sebagai seorang yang memiliki kelebihan melebihi mereka semua.
Dan jika Aldo perhatikan, dia dan adik sepupunya terlahir sebagai keturunan kelima di keluarganya. Dan mereka hanya berdua. Sudah pasti dua orang dari keturan kelima adalah dia dan Rangga, adik sepupunya.
Sejak saat itu Aldo lebih giat lagi dalam belajar agar bisa lulus dengan nilai terbaik dan mendapat beasiswa di luar kota. Hanya itu satu-satunya alasan yang bisa ia gunakan agar bisa keluar dari tempat dimana semua orang tak percaya jika ia bisa menjaga dirinya sendiri.
***
Langit jakarta malam ini tengah di guyur hujan begitu deras. Awan hitam mendung terlihat jelas walaupun langit sudah menghitam. Aldo menikmati pemandangan itu dari balik jendela kaca berbentuk persegi. Lagi dan lagi dia hanya dapat menjadi seorang saksi atas keindahan yang ada di hadapannya. Angin berhembus kencang membuat sedikit cipratan air itu terbawa angin, menyentuh permukaan kulit Aldo dan menciptakan sensasi dingin pada tubuhnya.
Aldo memang menyukai hujan, namun tubuhnya selalu menolak ketika ia membiarkan dirinya terhanyut dalam kedinginan air yang turun langsung dari atas langit itu.
Setelah hujan mereda, dia segera bergegas mempersiapkan dirinya untuk melakukan perjalanan jauh. Sepertinya ini akan melelahkan, fikirnya.
Walaupun langit malam tengah menumpahkan cairan beningnha, itu semua tak cukup untuk membuat orang-orang agar tetap berdiam diri saja di dalam rumahnya. Apalagi saat itu adalah akhir pekan.
Jalan demi jalan mulai ia telusuri. Walaupun macet selalu menyapanya di setiap tikungan tak akan membuatnya kesal. Rasa rindunya pada sang Bunda sudah tak bisa di bendung lagi.
Sesekali Aldo berhasil menyalip beberapa kendaraan di depannya menggunanakan mobilnya yang berlogo tiga berlian yang ia miliki dari hasil jeri payahnya sendiri.
***
Dari ujung jalan sana, Aldo dapat melihat banyak sekali orang yang berkerumun di rumahnya, sibuk keluar masuk seperti menyiapkan sesuatu. Ada satu orang yang sangat menarik perhatian Aldo. Tasya, dia melihat Tasya yang sedang menangis di pelukan Bundanya. Tak lupa dengan keempat temannya yang setia mengusap punggung Tasya dan bergantian memberikannya ucapan sabar.
Begitu banyak yang menarik perhatiannya disini. Apa yang sudah terjadi? Apa ada acara keluarga? Tapi mengapa semua orang bersedih dan mengapa tak ada yang memberi tahunya.
Semuanya tak luput dari pandangan Aldo, tenda biru, bendera kuning, mobil ambulance, dan... keranda?
"Ada apa ini?" Tanya Aldo pada sang Bunda. Bunda yang melihatnya hanya tersenyum seraya melambaikan tangan lentiknya pada Aldo. Bukan kah lambaian tangan merupakan isyarat dari kata "selamat tinggal".
"Ayah, ada apa ini?" tanya Aldo pada ayahnya. Ayahnya tak menghiraukannya, ia berjalan begitu saja tanpa menoleh sedikitpun. Aldo mulai berfikir, kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga membuat gadisnya menangis tersedu-sedu di pelukan sang Bunda, membuat Bunda mengusirnya dengan lambaian tangan dan Ayah yang tak menggubrisnya sema sekali.
Saat hendak menemui Tasya, Kate menghampirinya. Tersenyum tulus seraya melambaikan tangan. Mengapa semua orang melaimbaikan tangan padanya?, fikir Aldo lagi.
"Lo yang tenang ya di sana,Do" ucapnya dengan tulus.
"Gue kenapa Kat?"
"Oh lo belum sadar yah" jawab Kate prihatin, pasalnya semua tengah berduka, sedangkan Aldo tak tahu apa-apa.
"Lo masuk aja, sekali lagi semoga tenang yah, kita semua udah doain lo kok" lanjutnya lagi kemudian pergi meninggalkan Aldo di tengah kerumunan orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Aldo melihat Rangga, anak itu tengah menangis namun tak bersuara. Wajahnya lebih datar dari biasanya. Saat hendak menghampiri Rangga, tiba-tiba tiang tenda yang berada di belakangnya jatuh tepat mengenainya.
Saat itulah Aldo sadar jika dia adalah korban tabrak lari 3 jam yang lalu.