Stuck Between Two Worlds

Stuck Between Two Worlds
guild petualang



para petualang yang melakukan penelusuran mengikat dan mengurung mereka bertiga didalam jeruji kurungan, sepertinya mereka akan di kirimkan ke guild petualang.


"cih, kalo bukan gara gara aku terjatuh tadi pasti sudah aku bunuh mereka semua" ucap vinda pelan dengan kesal.


"aku bisa menghancurkan ini dengan mudah, tetapi tunggu dulu sepertinya kita akan dikirim ke guild petualang jadi bukankah ini yang dibilang orang tumpangan gratis? " ucap dian pelan sambil bergurau.


"ihh, ga lucu tau! " ucap vinda kesal.


[-]


"ngomong - ngomong apa yang sedang mereka bicarakan?" tanya salah satu petualang.


"aku tidak tahu, sepertinya orang orang aneh ini berbicara dengan bahasa yang berbeda" ucap salah satu petualang menjelaskan.


[-]


akhirnya mereka sampai di perbatasan masuk kota barat kerajaan abiusya, dan terus bergerak masuk ke ibukota kerajaan abiusya.


"sepertinya suara di luar semakin berisik" ucap vinda.


"wah... apa kita sampai di kota planet ini?? tapi sayang sekali aku tidak bisa melihat-lihat keluar karena kain penutup ini" ucap ria dengan sedih.


"mungkin kita harus menunggu hingga sampai ke guild petualang " ucap dian sambil mengcoding sistem.


"kau lagi, apa yang sedang kau lakukan sekarang... dasar developer sialan... bagaimana jika mereka melihatmu!" ucap vinda kesal.


"tidak apa-apa, mereka tidak akan melihat ini...hanya kita kita sajalah yang dapat melihat ini" ucap dian.


"jadi? apa yang sedang kau buat?" tanya kembali vinda.


"tenang saja.... kau akan tahu nanti" ucap dian dengan santai.


mereka bertiga terus bergerak, hingga akhirnya kereta kuda yang mereka naiki berhenti di suatu tempat.


"apa kita sudah sampai?" tanya vinda.


"sepertinya begitu" ucap dian.


"yey.... akhirnya kita sudah sampai... aku tidak sabar melihat penduduk sekitar" ucap ria kegirangan.


tiba-tiba kereta kuda yang mereka tumpangi kembali bergerak masuk ke dalam gudang kereta kuda di guild tersebut.


"apa yang terjadi" ucap vinda.


tak lama setelah kereta berhenti, ada terdengar beberapa suara langkah kaki orang mendekati kereta tersebut dan membuka kain penutup kurungan mereka.


"siapa para orang-orang aneh yang memakai pakaian lesuh ini!" ucap salah satu orang yang membuka kurungan tersebut.


"saya tidak tahu tuan, saat kami sedang menyelusuri fenomena aneh di gurun barat kami menjumpai mereka sedang menyusup ke dalam hutan aneh tersebut" ucap salah satu petualang.


"cepat bawa masuk mereka, aku akan laporkan ini kepada ketua guild!" ucap orang tersebut.


"baik tuan!" ucap para petualang.


para petualang menggotong kurungan tersebut dan membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan.


"kita mau dibawa kemana ini!" ucap vinda.


"wah... kuat banget mereka bisa ngangkat kita bertiga" ucap ria.


[-]


terdengar suara langkah kaki yang menuju ruangan tersebut, dan tak lama seorang nenek-nenek dan asistenya masuk ke ruangan tersebut.


"silahkan masuk nyonya besar, ini dia ruanganya!" ucap salah satu asistenya.


"hoho...terimakasih" ucap nenek tersebut.


"mereka adalah or-.."


"aku sudah mengetahuinya, sekarang ayo kita introgasi mereka" ucap nenek tersebut.


para asistenya mengeluarkan sebuah bola kristal putih dan menaruhnya di sebuah meja, nenek tersebut lalu menyuruh para asistenya untuk membuka kurungan mereka.


"apakah kita sudah bisa keluar sekarang?" ucap ria.


"tidak, mereka terlalu mencurigakan!" ucap vinda menarik tangan ria.


"tidak apa-apa, ayo kita keluar" ucap dian sambil berjalan keluar dari kurungan.


[-]


"hati-hati, lindungi nyonya!" ucap salah satu asisten.


"hoho... tidak apa apa, biarkan mereka mendekat" ucap nenek tersebut.


vinda dan ria mengikuti dian keluar, lalu mereka berdiri dihadapan nenek tersebut.


"salam kenal, namaku adalah sylkia dan aku adalah pemilik sekaligus ketua dari guild petualang ini" ucap nenek tersebut.


nenek tersebut tampak bingung melihat dian dapat berbicara dengan bahasa normal dan tidak seperti yang dibicarakan para petualang.


"apa kau bergurau, tidak ada kehidupan di barat dan hanya ada monster... pastinya tidak akan ada manusia yang hidup disana" ucap salah satu asisten.


"tidak, kami memang berasal dari barat.. kami tinggal di pemukiman yang ada di balik bukit yang ada di gurun!" ucap vinda.


"tidak mungkin! kalian pasti adalah iblis yang menyamar!" ucap salah satu asisten membantah.


"tunggu dulu, sepertinya mereka bukan iblis" ucap sang nenek.


"tidak mungkin mereka berasal dari barat, karena tidak ada pemukiman di sebelah barat!" ucap salah satu asisten memegang sebuah buku.


"tidak, disana memang ada sebuah pemukiman... namun pemukiman tersebut adalah pemukiman kuno 10.000 tahun yang lalu" ucap sang nenek.


"apa!!" ucap para asisten bingung.


"apakah kau tahu tentang pemukiman kami?" ucap ria.


"yah... nenek ku dulu pernah bercerita kepadaku, ini adalah cerita turun temurun bahwa leluhur kami pernah ditolong oleh seseorang yang mengaku tinggal di permukiman yang ada disebelah barat" ucap nenek tersebut.


"ditolong?" ucap vinda bingung.


"yah... semenjak dunia ini mendapat berkat sang dewi semua orang bisa menggunakan kekuatan alam" ucap sang nenek.


"apakah nenek bercerita tentang asteroid yang menabrak planet ini?" ucap ria.


"dasar tidak sopan, beliau adalah tetua di sini?" ucap salah satu asisten.


"tidak apa-apa... ngomong-ngomong apa maksudmu dengan asteroid? planet ini?" ucap sang nenek bingung.


"ohh... tidak apa apa, maksud kami adalah apakah engkau bercerita tentang berkah dewi yang datang ke dunia ini?" ucap dian membenarkan.


"yah, itu yang sekarang sedang kubicarakan" ucap sang nenek.


"ngomong-ngomong apakah itu ada kaitanya dengan buku kitab yang ada di reruntuhan pemukiman itu?" tanya vinda kepada dian.


"yah... mungkin kau benar" ucap dian.


"wah... ini semakin menarik" ucap ria.


"jika berkenan, silahkan sentuh bola kristal ini" ucap sang nenek sambil menunjuk kearah bola kristal yang dikeluarkan asistenya tadi.


"bola apa ini?" ucap ria.


"ini adalah bola pengukur kekuatan yang kami dapatkan dari dungeon tingkat 10" ucap sang nenek.


"baiklah akan aku coba deluan" ucap ria sambil memegang bola tersebut.


tiba tiba dari arah bola tersebut keluar warna warni yang indah seperti pelangi.


"kenapa warnanya kebanyakan hijau yang muncul?" ucap ria bingung.


"baiklah yang lain apakah ingin mencobanya juga?" ucap sang nenek.


vinda dengan ragu ragu menyentuh bola tersebut dan tidak jauh beda, dari dalam bola keluar cahaya warna warni seperti pelangi yang indah.


"wah... ternyata tidak jauh beda yah.. cuman punya vinda warnanya lebih banyak emas" ucap ria.


"oke, saatnya giliranku!" ucap dian sambil mengulurkan tanganya.


belum sempat untuk menyentuh kristal tersebut, kristal nya tiba tiba langsung pecah dan hancur lebur. sontak kejadian tersebut membuat para asisten dan sang nenek terdiam dan kaget melihat respon benda level 10 hancur berkeping keping.


"kalau begitu aku akan pamit dulu... jika kalian menginginkan sesuatu kalian bisa membicarakanya dengan para asistenku" ucap sang nenek sambil pergi meninggalkan ruangan.


[xxxxxxxxxxxx]


"apakah kita membuatnya marah dengan menghancurkan bola itu?" ucap ria.


"entahlah apapun yang disebut 'benda level 10' itu pasti benda yang sanagat berharga" ucap dian.


[-]


"nyonya, apakah kita akan menuntut mereka mengganti rugi bola kristal itu?" ucap salah satu aaisten.


"tidak usah" ucap sang nenek.


mereka lalu memasuki ruangan pribadi, sang nenek duduk dan masih memikirkanya.


"apakah kalian tidak melihatnya? mereka sungguh tidak wajar... apa kalian lihat pakaian yang dikenakan mereka itu? pakaian tersebut asli sudah berumur 9.000 tahun!" ucap sang nenek.


"tidak mungkin!" ucap para asistenya.


"yah... dan saat membahas berkah dewi mereka menggunakan kata kata aneh dan mereka berbicara satu sama lain menggunakan bahasa yang bahkan tidak aku mengerti" ucap sang nenek sambil mengambil sebuah buku dari lemarinya.


"apa! bahkan nyonya besar juga tidak memahami bahasa mereka?" ucap para asistenya.


"satu hal lagi, tidak ada kekuatan di dunia ini yang mampu untuk menghancurkan benda berlevel 10 seperti bola kristal itu, walaupun begitu energi yang mereka tampilkan sungguh tidak wajar... apakah mereka asli atau tidak, sepertinya dunia ini akan hancur sekali lagi" ucap sang nenek sambil membuka buku kuno yang ada di tanganya.