Stuck Between Two Worlds

Stuck Between Two Worlds
kembali ke rumah



"wah.... emang lebih enak kalau pulang ke rumah" ucap ria sambil menghela nafas berlari menuju pohon besar yang ada ditengah dunia dewa.


"jangan lari-lari... ayo kembali bekerja!! " ucap dian.


"bekerja?? emangnya apa lagi yang bisa kita kerjakan disini?! " ucap vinda.


"maaf, aku belum bilang... sebenarnya aku juga baru tahu ini, terdapat log jiwa yang terbengkalai di alam baka" ucap dian.


"catatan jiwa? apa maksudnya ?!" tanya ria sambil mendekat penasaran.


"yah... jika seseorang meninggal maka jiwa tersebut akan bergentayangan di alam baka hingga menunggu hari pembalasan " jawab dian.


"apakah maksud dari hari pembalasan itu adalah hari dimana jiwa dibangkitkan kembali, atau di reinkarnasi?? " tanya vinda.


"yah, benar sekali!! namun sebenarnya jiwa tidak dapat direinkarnasikan... " jawab dian.


"ehh.. ternyata begitu..." ucap ria membenarkan.


"jadi aku ingin menciptakan sistem yang dapat membuat jiwa bereinkarnasi ke dunia lain" ucap dian.


"wah.... bagus sekali... kalau begitu aku akan berusaha meneliti lebih keras lagi agar bisa mengimbangimu " ucap vinda sambil tersenyum.


"kalau begitu aku juga akan berusaha meneliti menciptakan makhluk baru" sahut ria.


"kalau begitu, ayo berjuang bersama-sama!! " ucap dian dengan semangat.


[5 menit kemudian]


"jadi, kenapa kita malah malas malas disini?? " ucap dian.


"ayolah.... kita masih baru pulang dan kau sudah ngotot ingin bekerja??" ucap vinda sambil ngemil.


"benar... lagian hidup ini harus dinikmati " ucap ria sambil minum soda.


"bukankah hidup kita abadi?? " sahut dian sambil ikut ngemil.


[xxxxxxxxxxxx]


[2 tahun kemudian]


Vinda dan ria sedang duduk di altar ditengah tengah pembagian wilayah dewa mereka.


"sudah 2 tahun sejak kita turun ke planet abiuse " ucap vinda.


"yah... Aku jadi rindu sama milia " ucap ria sambil berekspresi sedih.


"tidak apa-apa.... Bukankah dia sekarang sudah berumur 7 tahun? Berarti dia sudah semakin dewasa " ucap vinda.


"Btw, dimana dian?? " tanya ria.


"seperti biasa... Dia lagi bikin kode coding baru.." jawab vinda.


"kalo gitu aku juga akan berjuang meneliti !!" ucap ria dengan semangat.


"aku juga!! Kalo gitu aku pergi dulu yahh... " ucap vinda sambil pergi ke wilayahnya.


"byee.... " ucap ria sambil melambaikan tanganya.


[-x-]


[di wilayah vinda, melalui sudut pandangnya ia bereksperimen dan meneliti untuk mengembangkan teknologi yang ada di dunia lamanya]


Oke, waktunya bereksperimen... Aku mungkin juga harus berjuang, aku ga mau kalah sama ria dan dian.


Jadi, apa yang harus aku buat yah.... Ini membingungkan, aku harus segera mencari ide.


[setengah jam kemudian]


Ahh... Aku ingat, kalau saat dian melakukan coding system maka akan keluar layar proyeksi. Aku sudah pernah melihatnya dan itu berbeda dengan teknologi dari dunia lama kami, apa teknologi dibalik layar itu yah?? Arghhh... Aku jadi penasaran..


{kelas bersama vinda}


Jika diingat... teknologi proyeksi dari dunia lama kami menggunakan sorot lampu tembak RGB, sedangkan untuk teknologi disini tidak ada sorot RGB... Jadi kenapa yahh??


Seperti yang kita tahu dari sifat-sifat cahaya yaitu :



Cahaya merambat lurus


Cahaya dapat dipantulkan


Cahaya dapat dibiaskan



Dari opsi diatas saja kita sudah tahu bahwa teknologi di dunia lama kami itu menggunakan sorot cahaya yang dibiaskan dan dipantulkan.


RGB adalah singkatan dari Red, Green, Blue yang merupakan 3 lampu sorot berwarna merah, hijau, dan biru.


Jadi apa gunanya lampu RGB ini?


Jika ketiga warna tersebut dipadukan dan dibiaskan dengan ketajaman warna yang berbeda maka akan menghasilkan warna bias yang berbeda.


Terus, contohnya??


Contohnya gini, kalo kamu campurkan cat air atau cat acrilyc berwarna merah dan hijau, maka warna yang dihasilkan cat tersebut adalah coklat pekat.


Namun bagaimana dengan RGB?? Jika kamu memadukan sorot cahaya merah dan hijau maka warna yang dihasilkan adalah warna kuning.


Lah, kok bisa berbeda??


Jadi jawabanya ada pada pembiasan proton cahaya itu sendiri.... jika cat warna memantulkan cahaya dari warna yang dipadukan agar terlihat di mata, maka sorot RGB adalah sumber cahaya itu sendiri.


Kembali ke pembahasan utama tentang layar proyeksi, dari situ muncul pertanyaan yang lain yaitu :


"jika sorot RGB itu di arahkan dan difokuskan ke satu titik yang ditentukan maka bagaimana caranya agar menjadi sebuah layar proyeksi?? "


Oke, waktunya kita jawab... Jawabanya adalah pemantulan pada cahaya tersebut agar terlihat oleh mata.


Sebelum itu ayo kita sedikit bereksperimen...


Jika kamu memiliki sebuah laser, cobalah arahkan cahaya laser tersebut ke arah dinding di tembok luar rumah atau jalanan disaat malam hari. Maka akan terlihat sebuah titik kecil cahaya dari laser tersebut, kamu pasti dapat melihat cahayanya di jalan atau tembok tapi kamu pasti tidak dapat melihat jalur lintasan cahaya nya.


Jika kamu memiliki sebuah bedak bayi, tiupkan bedak tersebut ke arah laser dan seketika jalur cahaya pada laser akan terlihat jelas karena partikel bedak akan memantulkan cahaya yang merambat lurus ke tembok/jalanan saat malam hari.


Ahh... Dari eksperimen itu kita bisa memanfaatkan nya sebaik mungkin, contohnya adalah membobol bank yang mempunyai keamanan laser, toko perhiasan atau barang antik yang mempunyai keamanan serupa jadi dapat dengan mudah dibobol...


Maaf yah... Aku membocorkan rahasia cara membobol keamanan laser.


Dari penjelasan diatas juga bisa menjawab pertanyaan "mengapa luar angkasa itu gelap sedangkan banyak bintang yang bersinar?? " cuman untuk pertanyaan ekstrem ini ada campur tangan waktu di dalamnya.


Namun dari situ kita dapat ketahui bahwa cahaya memerlukan medium pemantulan agar terlihat oleh mata contohnya seperti bulan yang memantulkan cahaya matahari.


Kembali lagi ke topik utama, lantas bagaimana caranya??


Jawabanya adalah gelombang elektromagnetik.


Loh?? Bagaimana mekanisme nya?


Hahahaha.... Aku ga akan bocorin teknologi mutakhir masa depan, jadi kalian harus meneliti sendiri yahh!!


Oke... Lantas muncul pertanyaan selanjutnya, "bagaimana cara mengendalikan cahaya hologram tersebut sedangkan cahaya tersebut tembus pandang atau transparan??"


Oke... Jawabanya adalah sensor 360°, sensor ini berukuran sebesar fokus cahaya hologram dan dapat mengikuti perintah gerak tangan pengguna selama masih di dalam jangkauan sensor ini.


{kelas bersama vinda berakhir}


ada kemungkinan teknologi proyeksi disini adalah energi yang dapat langsung menyerap dan memantulkan cahaya atau proyeksi itu adalah energi itu sendiri.


Hmm... Ini menarik, aku akan mengembangkan sesuatu dari cahaya ini... Seperti phantogram?? Hahaha... Bercanda dehh..


(note : phantogram \= [phantom hologram] \= obyek maya (halu/tidak nyata) yang tampak nyata di dunia nyata menggunakan teknologi hologram)


(note_2 : author jadi dapat ide tentang teknologi AR)


[-x-]


Vinda dengan asyiknya meneliti tentang hologram dan tidak terasa sudah lebih dari 4 jam, disisi lain ria masih bermain main di hutan sambil memperhatikan sekitar untuk mencari ide.


"ahh... Hutan ini sangat nyaman, cuma rasanya ada yang kurang... Mungkin karena tidak ada hewan disini?? " gumam ria sambil memikirkan ide nya.


"ternyata begitu, walaupun di sini banyak tumbuhan tetapi tidak ada satupun hewan disini.... Rasanya jadi sepi... " ucap ria.


[-x-]


[melalui sudut pandang ria, ria mulai berpikir untuk menciptakan hewan yang akan mengisi kekosongan di hutan nya]


Baiklah, waktunya kita bereksperimen... Jadi apa yang akan aku buat pertama kali yah??


Apakah aku akan membuat makhluk buas? Makhluk fantasi? Atau hewan-hewan biasa??


Ahhh.... Aku jadi bingung...


Mungkin aku bisa membuat makhluk yang bisa menjaga hutan ini untukku...


Apakah itu elf?? Atau roh hutan??


Sepertinya aku pernah melihatnya di dalam sebuah anime, jika yang melindungi hutan itu adalah roh hutan... Tetapi yang menjaga hutan adalah elf...


Atau aku bisa membuat keduanya?? Mungkin elf yang bisa mengendalikan roh hutan menjadi kekuatanya??


Hmm... Yahh!!! Itu ide yang bagus, kalau begitu aku harus segera ke laboratorium!!