
Matahari menggelap, tujuh cahaya membelah bumi dan aurora bersebaran dilangit malam.
Vinda terbangun dari mimpi buruknya dan melihat dirinya terbangun entah ada dimana, seluruh pandangannya putih dan tak ada apapun disana. Ia tersadar bahwa sebelum ia berada di tempat itu ia sedang bersama ria dan dian, ia langsung beranjak dari tempat ia berbaring dan melihat ke sekitar. Dan benar saja, seluruh tempat itu putih melompong tampa ada apapun di sana. Vinda pun dengan cemasnya berteriak memanggil manggil nama ria dan dian, ia berpikiran bahwa jika ia berada di tempat itu pasti ia tidak sendirian.
Vinda berlarian sambil meneriakkan nama mereka berdua, namun sepertinya ia hanya berlari lari tampa arah dan tujuan yang jelas. Saat itu dia tersadar bahwa tindakanya sia-sia, ia murung dan hampir meneteskan air matanya. Disaat yang bersamaan, terdengar suara samar samar yang sedang memanggilnya. Vinda pun tersadar akan suara yang memanggilnya tersebut, ia berlari dengan sekuat tenaga kearah suara tersebut dan suara tersebut pun juga semakin jelas kedengaranya.
Titik haru pun memuncak Disaat tampak sebuah titik dari kejahuan yang semakin berwujud mendekat, vinda terus berlari kearahnya dan benar itu dari dekat adalah ria dan dian yang sedang bersama. Sambil menjatuhkan rintihan haru, vinda semakin memelankan langkah kakinya. Ria yang saat itu memanggilnya pun berlari kearah vinda dengan tangisan dahsyat, mereka berpelukan seakan akan waktu mengalir begitu saja tanpa ada hirauan. Dian yang ada disitu pun hanya terdiam dan mengikuti arus aliran waktu yang berjalan.
Vinda menanyakan kepada dian apa yang telah terjadi, dan sepertinya dian juga merasa kurang paham. Di dalam benaknya sepertinya dian terpikiran akan sesuatu, ia berbalik arah dan mengulur ulurkan tanganya. Disaat yang bersamaan vinda menatapinya dengan wajah yang sinis, seakan ia mencurigai dian akan apa yang sedang dia lakukan. Tak lama vinda terkejut akan hal yang ada di sekitarnya, tiba-tiba ruangan putih polos nelompong itu berubah menjadi seperti awan di langit lepas.
Suasana nya berubah, dan pemandangan disekitarnya berubah drastis. seketika vinda merasa kakinya seperti memijak kapas yang amat lembut, vinda dengan shock memeluk ria dan bertanya tanya apa yang sebenarnya yang sedang terjadi. dari kejahuan tampak wajah dian yang sedang cengar cengir tersenyum dengan ekspresi jahatnya, vinda dengan tegasnya berkata "dian, apa yang sebenarnya kau lakukan! apa yang sedang terjadi sekarang?!".
dian yang saat itu mulai memahami situasi pun kembali berkata kepada vinda "jika kalian menjadi dewa apa yang akan kalian lakukan? ". vinda yang saat itu shock kembali berkata "apa apaan maksudnya itu, kenapa kau tiba tiba tanyakan itu! ". dian yang sudah tahu keadaanya hanya tersenyum jahat dan berkata "sepertinya ada yang salah dengan dunia ini".
vinda yang masih tidak mengerti arti ucapannya itu hanya bisa diam dan berasumsi bahwa tekanan mental yang dialami dian mengakibatkan stres dan halusinasi akut. dan sepertinya tidak hanya vinda saja yang berpikir demikian, ternyata ria juga memikirkan hal yang sama. sambil berpelukan mereka berdua memandangi dian dari jauh dengan tatapan 'orang stres' dan 'halusinasi akut'.
dian berjalan kearah vinda dan ria, sambil berkata "sinilah, ada yang ingin kutunjukkan kepada kalian". namun sepertinya vinda dan ria masih terbayangkan pemikiran 'orang stres' mereka dan semakin menjauhi dian.
"yah udah, kalo gitu aku tunjukin dari sini aja" ucap dian kepada vinda dan ria. dengan serius, dian mengulurkan tanganya ke samping kananya dan membayangkan sesuatu didepanya. tiba-tiba muncul sosok bayangan besar yang semakin lama semakin berwujud seperti kastil istana yang besar di hadapan mereka semua, dian dengan girangnya bersorak bahwa ia dapat membuat sesuatu yang dibayangkanya.
vinda dan ria yang saat itu melihatnya hanya dapat terdiam tanpa sepatah katapun.
"tunggu dulu, apa aku sedang bermimpi?!" ucap vinda dengan shock sambil mengucek-ngucek matanya. "wah... sepertinya racun dari katak kecil yang aku pelihara telah membuat aku berhalusinasi.. " ucap ria dengan riang. "ehem... kan udah aku bilang kalo kalian lagi ngga mimpi.." ucap dian dengan santai.
"ini semakin menjadi-jadi... apa yang sebenarnya sedang terjadi?! " teriak vinda dengan semakin shock. "sepertinya kita akan menjadi semakin gila" ucap dian.
[15 menit kemudian.... ]
"kita sepertinya sudah gila, dalam 15 menit kita sudah membuat dimensi kosong ini menjadi surga masa depan yang selalu didambakan umat manusia." ucap dian.
"yah, kan kamu duluan yang mulai... ini salahmu karena bikin kami jadi makin tertarik!" ucap vinda.
"wah, ga adil... aku juga pengen bikin yang gituan.. " ucap ria agak sedih.
"aku ga terlalu ngerti, cuman kalian coba aja sendiri" ucap dian.
"gimana caranya? " ucap ria.
"coba bayangin apa yang pengen banget kamu bikin, terus coba bayangin obyek itu ada di hadapan mu" ucap dian.
ria dengan girangnya membayangkan pohon beringin besar yang tidak sempat ia teliti di rumah orang tuanya. seketika hal yang sama juga terjadi, awan awan disekitarnya berkumpul dan menjadi sosok bayangan besar yang lama kelamaan berubah menjadi pohon beringin tinggi dan besar juga penuh dengan rumbai rumbai di dahan nya yang kokoh.
"Yey!... berhasil!!... cuman kayaknya 50 kali lebih besar dari pohon yang aku bayangkan deh. .. " ucap ria dengan girangnya.
"Btw, ngomong ngomong soal berhasil... itu vinda lagi ngapain disana?! " ucap dian sambil melirik kearah vinda yang juga sedang asik mencobanya.
"pft! ehh... a-aku... aku gak nyapa ngapain kok! " ucap vinda sambil membuang semua benda yang dibuatnya. dian hanya menatap vinda dengan penuh kecurigaan, "baiklah, kalo gitu ayo kita bagi wilayah dan bikin karya kita masing-masing" ucap dian.
"Yey! aku ga akan kalah lo.. " ucap ria dengan girang. "Hmm.. boleh juga tuh, siapa takut! " ucap vinda. "oke, kalo gitu wilayahnya kita bagi menjadi tiga yah, masing masing boleh berbuat sesukanya diwilayahnya.. " ucap dian.
[xxxxxxx]
"aneh, kenapa aku ga bisa bikin benda benda untuk buat taman yah? " ucap ria dengan sedih.
"aneh, aku juga tidak bisa bikin tanaman hias untuk apartemen yang aku buat?! " ucap vinda kesal.
"jika mendengar perkataan kalian aku sekarang sudah paham, kalian juga memiliki kelemahan yang berbeda. namun jika kalian bersama, kalian akan saling melengkapi satu sama lain" ucap dian.
mendengar pernyataan mereka sepertinya dian terpikiran akan sesuatu, sesuatu yang akan mengubah seluruh alam semesta.