
"aku capek, aku dengan semua ini"
Wanita itu berteriak dengan penampilan acak-acakkan serta wajahnya memerah
"berhenti berbicara atau-"
"atau apa hah?"
Wanita itu memotong pembicaraan suaminya
merasa terganggu remaja yg berada dilantai 2 itu menyumpal telinganya dengan headset dan menyalakan musik sekencang-kencangnya
sungguh, tinggal disini bagaikan hidup di kostan murah dengan tetangga yg sering membuat bising setiap malamnya
"eommaaa"......
Bugh!!
remaja itu mulai menjauhkan sedikit headset dari telinganya
merasa mendengar suara lain selain musik
Dan betapa terkejutnya ketika ia melihat dari atas, wanita yg sedari tadi mengoceh memarahi suaminya telah bersimbah darah saat ini.
Suga pov
Lantai cekung terbalik itu nenampilkan beribu motif disetiap bagiannya.
dengan kilauan cahaya yg terlalu indah untuk dilewatkan tanpa tatapan yg akan menghabiskan waktu semalaman.
wajah manis itu seakan terpampang diantara kilatannya.
Mengunciku untuk tetap bersilaturahmi dengan dinding tebal itu
Andai saja aku bisa meminjam kantong ajaib doraemon, ingin sekali rasanya meminjam mesin waktunya barang sebentar. Aku ingin mengulang kisah manis itu, kisah yg telah menjeratku mengikis semua impian yg telah kukibarkan, yg dengan paksa harus kukubur dalam-dalam
Sungguh, aku hancur tanpamu!
Aku muak untuk sekedar menitikan air mata, jujur pada diri sendiri jika aku tak dapat menahan semua kesedihan ini.
Aku yg terus berteriak setiap saat dalam batinku menginginkan keberadaannya.
Sampai kapan aku terus seperti ini?
Orang bilang jika kau melihat bintang, kesedihanmu akan hilang, kerinduanmu akan tergantikan
Omong kosong, buktinya ia tak dapat menghentikan kerinduan ini
namun harus kuakui aku tak dapat menolehkan pandanganku dari bintang-bintang yg kini kutatap diatas rooftop gedung ini. sendiri dengan semilir angin malam yg dingin menyapu permukaan kulitku, sedikit menerbangkan perasaan yg setiap hari semakin dalam ini.
Bintang dan kamu adalah kebahagiaanku
Kutatap hiasan rambut mawar yg sempat bertengger disurai gadis yg baru kukenal. Hati ini semakin hancur saja, aku benci mengakuinya.
tolong jangan siksa aku begini, aku lelah, aku ingin hidup damai.
Sepulang dari acara orang tua Riana, aku tidak langsung pulang, aku menerobos lift sampai lantai atas
entahlah, saat ini aku hanya butuh kesendirian.
Hingga kurasakan pahaku bergetar. seseorang telah menghubungiku
"Kuda peot" lirihku
Kutekan tombol hijau itu dan kutempelkan ketelingaku
Baru saja menempel aku telah menjauhkan benda pipih itu dari telingaku
"sugaaaaaa.... celana dalam ungukuu hilaaang"
ingin rasanya aku menenggelamkannya dipalung Mariana
Kasihan sekali, hari ini telingaku terus dianiaya oleh suara-suara cempreng, entah si gadis beo maupun sikuda peot ini suka sekali teriak-teriak
"shit, heh kuda burik bisa tidak kau pelankan suaramu, lama-lama ku potong pita suaramu itu" aku tak habis fikir dengan laki-laki yg bersuara mirip wanita ini, dia salah makan apa gimana?
"masa bodo, kau kan yg pakai celana kesayanganku hah? Ngaku aja"
"kenapa menyalahkanku?"
Jawabku tak terima dituduh memakai ****** buluknya
"lagipula, siapa lagi yg pakai, masa iya mamaku. kau memang sering kan memakai barang barangku tanpa izin"
Aku mengernyit, sikuda ini terus saja berteriak. tak sadar dengan ucapannya, ia juga sering meminjam barang-barangku tanpa dikembalikan
aku yg tak tau apa-apa ini dengan terpaksa menurunkan celanaku sedikit, sekedar mengecek apa yg dikatakannya itu benar
aku terkekeh pelan, pasalnya dugaannya memang benar. Aku memakai celana dalam kesayangannya yg berwarna ungu ini
"hehehe, iya aku pakai-"
"tuh kan, apa aku bilang" dia langsung nyerocos aja
"ya maaf aku salah pakai, gausah ribet dah nanti kubelikan yg baru"
Ini pantas masuk berita CNN.
Min Suga seorang rapper sekaligus penulis lagu telah mencuri celana dalam ungu milik lelaki yg bersuara mirip pekikan kuda yg disinyalir adalah Jhope temannya sendiri.
aku terkekeh mendengar Jhope yg terus mengoceh disebrang sana,
Sambungan telfon maksudnya.
..
Sayup-sayup terdengar suara bising dikoridor tempat yg kupijak sekarang, entah suara darimana. mungkin tetangga yg minta uang belanja lebih dari suaminya
Semakin mendekat kearah pintu apartmenku suara itu semakin jelas saja.
Prang!!
"akh"
Suara benda jatuh dan suara wanita.
membuatku semakin mempercepat langkahku
Saat kubuka pintu badanku hampir luruh melihat keadaan didalam
"eommaaa...."
aku berteriak kencang melihat eommaku yg tergeletak dengan darah yg mengucur dari kepalanya
kulihat appaku yg berdiri, seakan kerasukan setan dia hanya diam, matanya melotot melihat melihat eomma yg terkapar
Bugh..
Aku menendang perut laki-laki yg kupanggil appa itu hingga ia jatuh terpental.
Tak ada waktu lagi, aku berlari menggedong eomma agar dapat pertolongan.
Author pov
Buk!
"hei, kalau jalan liat-liat dong"
itu Kimmy yg tertabrak oleh tubuh laki-laki dilobby. Kantong plastik yg dibawanya jatuh berhamburan beserta isinya.
"bukannya minta maaf malah ngeleos aja" kesalnya sembari tangannya bergerak memunguti barang belanjaannya
.
.
.
Ini sudah pukul tiga dinihari tapi laki-laki bertubuh tinggi itu terus melajukan motor sport nya dengan kecepatan tinggi. hingga hampir 2 jam perjalanan
Dia berhenti dipesisir sungai yg memperlihatkan banyak kerlap kerlip lampu di seberang sana.
"appa.. Gwenchana" dia memegang bahu orang yg dipanggilnya dengan sebutan appa itu
Namun, tangannya dilepaskan dari bahu kekar itu
"untuk apa kau kesini?" dia bertanya tanpa menoleh sedikitpun
"aku khawatir dengan keadaanmu. apa kau baik-baik saja" matanya sendu mengkhawatirkan keadaan ayahnya itu
"pulanglah Jungkook, urus mamamu"
laki-laki paruh baya itu pergi dan masuk kedalam mobilnya
"appa... Appaaa..."
Mobilnya terus melaju tanpa mempedulikan Jungkook yg terus memanggil manggilnya
Jungkook menghela nafas berat. Lalu ia putuskan untuk pergi dari tempat itu.
Kimmy pov
Ini kaki beneran bagus banget, dipakein snickers aja udah bagus apalagi pakai high heels cakep banget udah!
Aku yg sedari tadi terus memandang kearah sepatu baru yg dibelikan dady, baru menyadari keadaan setelah kuluruskan pandangan
Aku memekik melihat para mata-mata medusa yg seakan akan ingin menelanku bulat-bulat. aku berusaha tenang dan menghindar dari tatapan horor mereka
Lagipula aku salah apa?
Hingga terdengar dari telinga kananku suara-suara ghaib yg membuatku sedikit memelankan langkah
"hei katanya dia itu pacarnya"
" apa? Pacar? hahaha bahkan penampilannya saja mirip korban angin topan gaada bagus-bagusnya"
Aku menghentikan langkah dan menoleh kearah mereka, terlihat tiga orang wanita menatapku sinis dengan penampilan fashionistanya. riasan tebal yg terlihat dempul diwajah mereka, lipstik cerah dengan rambut warna warni persis anak ayam yg dijual abang-abang dipasar.
"siapa yg kalian sebut korban angin topan?" aku bertanya dengan lantang membuat salah satu dari mereka maju mendekatiku yg kuyakini dia adalah ketua genk cabe-cabean itu
"tentu saja kaulah, siapa lagi? lihatlah dirimu ini, kau memasang tarif berapa untuk semalam? Oh, atau jangan-jangan kau yg membayar Suga sampai Suga mau berkencan denganmu"
Aku sangat gondok, kedua tanganku mengepal, bisa-bisanya dia berbicara seperti itu
"jaga bicaramu itu"
"kenapa aku harus menjaga bicaraku, memang benar kan kau itu tak lebih dari seorang....
Perempuan itu menjeda kalimatnya, menghampiriku lebih dekat. tangannnya terulur memelintir rambutku dan kemudian berbisik
Gembel"
Aku semakin kesal, kesabaranku hilang
sungguh aku tak terima dengan perkataanya
Ingin sekali kulindas mulutnya itu dengan traktor sawah
Jantungku semakin berpacu dengan cepat, aku terlalu emosi
Kemudian kujambak rambutnya yg warna warni seperti kue lapis itu
Hingga membuatnya menjerit
"nah, rasakan ini. berani mengataiku kubotaki rambutmu ini hah"
Aku terus menarik rambutnya kuat-kuat membuatnya terus memekik kesakitan
"yak, sialan dasar gila lepaskan rambutku aawww sakiiitt.."
dengan sekuat tenaga dia membalikkan badan dan berusaha menjambak rambutku juga
Kini kami berdua saling tarik menarik rambut, dengan orang-orang yg berkerumun melihat aksi kami seperti acara perlombaan
Tak ada yg melerai semuanya nampak menikmati pertunjukan ini
"hei ****** aku tak akan membiarkanmu menyentuh rambutku, menyingkirlah sekarang"
dia terus menarik rambutku hingga rambut yg tadi terkuncir indah kini terburai
"sadar diri hei kau yang ******, dasar cabe-cabean wajahmu itu tak lebih seperti adonan tepung mendoan
dasar kampret"
aku semakin mengencangkan tarikanku, mengacak-acak rambutnya yg seperti kue pelangi
Dan menarik kepalanya kedepan dan kebelakang hingga membuatnyaa terlihat sangat kesakitan
beraninya melawanku yg punya tenaga super ini
"lepaskan sialan"
Dia memintaku melepaskan cengkeraman tanganku dari rambutnya, sedangkan kedua tangannya saja masih bertengger dikepalaku.
Hingga terdengar suara seseorang menerobos kerumunan menghentikan aksi seru kami
"hei berhenti, apa yg kalian lakukan?"
Dia adalah Riana, senior sekaligus mantan kakak kelasku
Aksi kami tak berhenti walau sudah dilerai, hingga harus dipisahkan secara paksa oleh Riana
"kalian ini apa-apaan? ini kampus, sikap kalian ini tidak mencerminkan perilaku yg benar"
Ustadzah sedang ceramah, sedangkan jamaahnya malah saling menatap dengan sinis seakan kembali ingin saking menyerang
"junior sialan yg berani menyerang seniornya, apa itu pantas?"
nah sekarang siapa yg juga menjadi korban angin topan? rambut cabe-cabean itu juga sudah menggelembung tinggi seperti gunung berapi yg siap meletus
"Kim, apa yg kau lakukan dengan Jennie?"
"dia yg pertama kali memulainya"
Aku balas menuduh, memang dia yg mulai
"kau yg menyerangku"
"kau yg mulai"
"kau"
"kau"
"kau"
"kau"
"cukuuuupp"
Kami berdua yg saling menuduh ini langsung terdiam
Riana cukup dewasa ternyata
"sudah sekarang kalian bubar, pergi semuanya"
Para penonton dan lawan gulatku pun bubar menyisakan aku dan Riana
"Kim, ikut aku"
Aku tak berdaya ketika Riana menarik tanganku
Kami berdua sudah berada disebuah kantin dan duduk berhadapan
"apa kau benar kekasih Suga?"
Aku yg tengah menyedot jus strawberry mendadak tersedak mendengar pertanyaanya
"uhuk uhuk huk oee oee.... ei e e e e eiii.."
"eh eh pelan pelan Kim"
Tangannya bergerak mengelus tengkukku
"bukan bukan, aku bukan pacarnya"
Aku melambai lambaikan tanganku, membela diri dari tudingan itu
"tak apa kau tak perlu malu, aku mengerti kok"
Aku hanya bisa terdiam melihat wajahnya yg tersenyum tiba-tiba menjadi muram
"kau harus siap konsekuensinya, pasti banyak yg akan membencimu, mengingat Suga itu tak mudah dekat dengan wanita, aku yg bahkan satu jurusan dengannya tak pernah melihatnya berjalan dengan perempuan atau mendapat kabar bahwa ia sedang dekat dengan wanitapun tak pernah. dia sangat dingin terhadap wanita, sikapnya terlalu cuek padahal banyak sekali yg mengaguminya"
"termasuk dirimu" aku ikut nimbrung ditengah kata-katanya
Ia hanya menggeleng
Kemudian mengusap tanganku yg terulur diatas meja
"tidak, aku hanya temannya.
Kau tenang saja aku akan selalu berada disampingmu"
Senyuman berkembang diantara kami
Sungguh Riana yg dulu tidak berubah, dia tetap ramah dan mudah menebar senyum kepada siapa saja
terima kasih Rin
Ditengah hangatnya percakapan kami
datang seorang perempuan
"Rinn kucari kemana-mana ternyata kau disini"
Dia yg awalnya berbicara pada Riana, mendadak menatapku
Tatapannya tak kalah horor seperti mata-mata lawan gulatku tadi
"oh, ini yg semalam bersama Suga di acara anniversarry orang tuamu Rin? Hhh rendah sekali selera Suga ini"
Ternyata dia adalah kelompok siluman berkepala kambing
salahku ini apa hei? mereka seakan ingin menginjak-injak harga diriku
"ssstt sudah, SinB kenalkan ini Kimmy adik kelasku sewaktu SMA"
Dia hanya diam dan sesekali mendelik kearahku
lalu aku? Hello.. apa aku juga harus memperkenalkan diri kepada makhluk astral ini
aku menatapnya tak kalah sinis,jangan seenak saja mentang-mentang aku Maba.
"ah ayolah Rin, kita pergi saja dari sini"
Si Cabe itu menarik lengan Riana dengan paksa
"eh, eh aku pergi ya Kim, bye"
Ini Kampus terkutuk dengan para mahasiswa jelmaan siluman