
Suga pov
Apa semasa aku didunia banyak membuat orang bahagia?
Tidak sama sekali
Aku yang sombong, angkuh dan tidak mudah menebar senyum
Apa orang lain akan menyenangiku?
Jika tidak
Mengapa alam kuburku ini sangat terang
Seperti ruangan yang baru saja dipasangi bohlam 1000 wat
Tapi mataku belum sukses melihat sekitar
Apa malaikat siap mencambukku?
Buram, seluruh tubuh ini terasa sehabis mengangkat 5 karung beras.
Sakit sekali
Bodoh, Min yoongi
Kau baru saja berhalusinasi bahwa kau telah ditelan tanah
Aku baru sadar bau ruangan ini adalah bau yang sangat kubenci
Tempat yang kubenci
Jarum itu, juga sangat kubenci
Aku terkesiap kala melihat seorang laki-laki berpakaian serba putih tengah menyentil jarum yg sedikit mengeluarkan cairan
Siapapun tolong aku
Keluarkan jarum sialan yang menancap dilenganku ini
Aku benci
Sungguh, jika saja aku punya tenaga saat ini
akan kuhantamkan kepala setan ini ketembok
Hari tersial dalam hidupku
Mataku perlahan terbuka setelah beberapa saat menahan serangan dari gigitan jarum suntik yang tubuhku semakin lemah
"kau sudah bangun?"
"apa ada yang sakit?"
Suara perempuan, siapa dia?
aku tak diberi niat sama sekali melirik perempuan tersebut
"Dok, dia tidak amnesia kan? apa dia buta? Atau mungkin mendadak tuli dok? Kenapa dia diam saja, tidak menjawab pertanyaanku"
Perempuan bodoh, jelas aku sangat malas menanggapi hal seperti itu
"kau tenang saja noona, dia tidak apa-apa. Dia kan baru sadar"
Aku sangat yakin, orang yg menjawab pertanyaan itu adalah setan yang telah menyuntikku beberapa saat yg lalu
Aku mulai bisa mencerna semuanya setelah suara langkah kaki yg terdengar menjauh, kurasa seseorang telah keluar dari ruangan ini
Kulirik perempuan yang ada disebelahku ini.
Aku mengumpat berkali-kali dalam batinku
Mendengus sebal setelah melihat wajah yang membuatku buram sehari-hari
"hai" dia melambaikan tangan dengan senyuman dan suara chipmunk
"aku-
"kau dirumah sakit" alisku bertaut ketika mendengarnya dengan lancang memotong kata-kataku
"kau pasti akan bertanya 'aku ada dimana'? Iya kan?"
Aku berdecak seraya memalingkan wajahku dari tatapannya
"ck, aku ingin pergi"
Tanpa fikir panjang aku mencabut selang infus dengan paksa membuat perempuan disebelahku menjerit
"sugaa..."
"kim, tolong lepaskan. Ada yg lebih penting dan berharga dibanding nyawaku"
Aku terus meronta minta dilepaskan oleh cengkraman tangannya.
Aku mengaku kalah
Kekuatannya kali ini lebih besar dibanding diriku
"jangan ganggu aku, kau ini siapa
Jangan ikut campur urusanku"
..
Sial, padahal aku sudah berlari sekencang mungkin untuk menghindari kejarannya tapi langkahku tetap bisa dihalau
Aku menekan knop pintu yg bercat putih itu
Menampilkan adik dan ibuku yg masih menutup mata
"kau kemana saja?" Jungkook tak perlu tau jika aku baru saja pingsan
"maaf, tadi aku ketiduran dikantin?"
Jawaban asalku sukses membuat gadis dibekakangku yang sedari tadi membuntutiku membelalakkan mata
"kebiasaan, dimana saja pasti kau tidur"
"maaf kook" hanya kata itu yg bisa kuungkapkan
"aku ingat, kau yang menabrakku di lobby waktu itu kan?"
Jungkook tak menanggapinya sama sekali, padahal sibodoh Kimmy ini tengah menuduhnya seperti tersangka pencurian
Jungkook malah pergi melewati kami berdua tanpa mengatakan apapun sekedar pamit
"hei, sombong sekali dia, seperti dirimu"
Aku menoleh, dia menatapku seakan takut digigit
Kudaratkan bokongku ditempat duduk yang sedikit panas akibat Jungkook yang terlalu lama duduk disini
Menatap wajah sayu itu
Wajah yang tak pernah terlihat tua
Yang tetap cantik walau ia rapuh dimakan usia
Eomma bangun, Yoongi janji tidak akan membebankanmu lagi
"apakah dia ibumu?"
Dia hanya mendapat anggukanku
"dia koma, sudah seminggu lebih tak mau bangun dari tidurnya"
Awalnya dia mendengarkan dengan seksama hingga tiba-tiba
"huwaaaaaaaaa....."
Rasanya jantungku hampir bersafari dari tempatnya, mendengar gadis itu yang tiba-tiba menangis tapi suaranya terdengar seperti anak anjing yang tak sengaja sengaja terinjak
"kau kenapa?"
Entah harus berterima kasih atau harus tertawa melihatnya
Jika saja aku punya tenanga lebih, aku ingin menjitak kepala gadis ini
"ya, tentu aku sangat sedih"
Jawabku lirih
"dulu hiks aku juga sepertimu, hik hik ketika mommyku sakit, aku bolos sekolah dan menangis terus menerus"
Kufikir dia hanya pura-pura menangis
tapi lama-lama terlihat tulus, ketika dia menceritakan ibunya
Walaupun tak ada air mata yg keluar
"memangnya ibumu dulu sakit apa?"
"Mencret"
Sontak aku menganga.
Dengan polosnya ia menjawab, entah itu benar atau tidak, bibirku refleks melebar walau akhirnya hanya bisa kukulum
"sudah jangan menangis, eommaku akan baik-baik saja"
Ia segera menyudahi tangisannya
"Suga, sudah berapa hari kau tak makan?"
Aku menoleh sebentar
"dokter bilang asam lambungmu naik, dan ususmu terluka, makanya tadi kau muntah darah. Seharusnya kau dirawat"
Aku tersenyum kecut mendengar penuturan tak penting itu.
Lagipula, aku tak peduli dengan keadaanku
"apa urusanmu gadis? Tak usah sok peduli"
"kumohon, jangan siksa dirimu seperti ini, ibumu pasti akan sedih ketika ia bangun dan mendapati anaknya tidak sekuat kemarin. Dia pasti akan semakin sedih melihat anaknya yang hampir menjadi ranting kering.
katakan padaku siapa yang sekarang mirip mayat hidup?
Tubuhmu bahkan seperti tak teraliri darah sedikitpun. Aku tahu kau sangat terpukul, tapi bukan berarti harus mengorbankan dirimu, kesehatanmu juga penting.
Kau fikir dengan keadaanmu yg seperti sekarang ini akan mempercepat kesadarannya? Jika iya, mungkin hari ini kau sedang tertawa bersama ibumu"
Anak ini benar-benar membuatku berfikir lebih jernih, sedikit banyak memang benar, aku tak bisa terus-menerus seperti ini
Aku harus menjalani kehidupanku seperti biasa
"baik, aku akan makan"
Dengan sangat terpaksa dan malas aku harus mengiyakan nasihat dari nenek tua ini
"Terima kasih tuhan telah membuka hati kucing rabies ini"
Lagi-lagi dia tak bisa diajak kompromi
Membuatku sebal saja
"oh ya, kau mau apa sendirian dirumah sakit?"
"oh itu aku-
Astaga, Markutet"
Dia terkejut, sama halnya denganku
Ada apa dengannya?
"nanti aku akan kesini lagi bye"
Dia langsung berlari seperti ibu-ibu komplek yang mengejar tukang sayur
Pintu telah tertutup, namun tak sampai lima detik terbuka kembali
Gadis itu menyembulkan kepalanya dibalik pintu
"oh ya, jangan lupa makan"
Siapa juga yang akan peduli dengannya.
Setelah kepergiannya ponselku berdering diatas nakas.
Lalu kuambil benda pipih itu
"Riana?"
Lirihku membaca penelfon itu seraya menekan tombol biru yang menandakan dia menghubungiku via video call
"hallo, Suga apa kau baik-baik saja? Kau dimana sekarang?"
Raut wajahnya terlihat sangat khawatir
Aku tak mungkin bilang jika keadaanku sedang tidak baik
"aku dirumah sakit, eommaku sakit"
"mwo? Sakit apa? Eomma kenapa? Besok pagi aku akan kembali ke Seoul, sekarang aku sedang di Gangnam. Aku akan segera menjenguk eommamu"
Hei, dia sangat perhatian
"terima kasih"
.......
Author pov
"kita pulang saja kim"
Taehyung sedari tadi merengek minta dibebaskan dari ruangan beraroma obat ini
Siang tadi Kimmy kalang kabut mendapati sahabat tercintanya ini mendadak demam tinggi ketika belajar bersama dirumah Kimmy hingga ia memutuskan membawa Taehyung kerumah sakit padahal Tahyung bersikeras menolak
"kau harus dirawat disini tetet, kau tidak dengar tadi dokter bilang apa? Kau ini kena gejala thypus, aku tak mau kau kenapa-kenapa"
Kimmy sudah seperti ibu yang was was mendapati anaknya yang tak mau menurut ini
"aku tidak apa-apa, aku akan lekas sembuh, kau tak perlu berlebih-
"e ssssstttt.... Diam, kau ini ya! Kalau kau berubah jadi hulk bagaimana? Aku tak mau kau sampai menghancurkan kota hanya karna kau tak mau dirawat dirumah sakit"
Taehyung sukses menganga, bagaimana mungkin pendapatnya yang tidak nyambung itu dikaitkan dengan keengganan Taehyung dirawat.
Anak ini memang ada ada saja
"kim sudahlah, aku hanya perlu minum obat, lagipula kalau sampai eommaku tahu dia pasti sangat khawatir. Terlebih Nana tak bisa jauh dariku. Kumohon Kim"
Kimmy berfikir sejenak, menimbang apa yg harus ia lakukan
Benar juga, bahkan mereka kerumah sakit tanpa sepengetahuan orang tua mereka
"tolong ratu" Taehyung menguncupkan kedua tangannya didepan dada, sambil beragyo yang membuat siapa saja gemas melihat tingkah Taehyung ini
memohon agar permintaannya dikabulkan
"baiklah, aku akan berkonsultasi dengan pawangmu"
Taehyung bersorak gembira keinginannya dituruti
"tapi jika kau tak minum obat, jangan harap rambut ditubuhmu itu akan tumbuh dengan sempurna"
Taehyung bergidik ngeri. Ancamannya bukan main-main ia selalu serius dengan kata-katanya
Taehyung hafal betul sifat siratu ular ini. Masih terngiang dalam ingatannya ketika dulu Taehyung enggan diajak naik wahana roller coaster ketika ia ikut kimmy dan orang tuanya liburan, ia diancam diberi ekor cicak, awalnya Taehyung tetap menolak namun setelahnya Kimmy benar-benar menepati perkataannya ia sengaja membawa ekor cicak sebagai ancaman untuk Taehyung karna ia tahu itu adalah musuh Taehyung. Taehyung hampir pingsan karna kaosnya dimasuki ekor cicak yg berakhir kedua orang tua Kimmy memarahi Kimmy habis-habisan.
Namun, bisa-bisanya dia tetap menggoda Taehyung. Orang tua Kimmypun sampai kewalahan dengan anak tunggalnya ini
..........