Stay Gold (Miwaku Tekina Moon Light)

Stay Gold (Miwaku Tekina Moon Light)
Stay gold bab 5



Suga pov


Cahaya kecil mengintip dari celah jendela dan menyorot mataku membuatku terusik hingga aku terbangun dari kamar yg terlalu rapi ini. Berbanding terbalik dengan kamarku, ruangan minimalis ini sangat terawat hingga aku tak menemukan sedikitpun debu bertebaran.


tentu saja pelakunya adalah Jhope


Si pecinta kebersihan ini malah sudah menungging nungging disudut pintu mengepel lantai pagi-pagi seperti ini


Dia memang rajin, apalagi soal kerapian dan kebersihan. tak sepertiku, Jangankan membersihkan kamarku sendiri, membawa piring atau gelas kotor bekas makanku kedapur pun tak pernah kulakukan, aku tidak pernah menyentuh alat kebersihan. terkecuali saat dulu aku dihukum disekolah untuk membersihkan toilet karna aku terlambat


"kenapa kau masih disitu? dasar pemalas cepat mandi aku akan menunggumu dimeja makan"


Sungguh aku malas mendengar ocehannya


"iya, iya aku akan mandi".


Tadi malam aku menginap dirumah Jhope


Jujur,berada dirumahnya membuatku merasa nyaman walau rumahnya tak sebesar rumahku yg seperti istana.


Ibunya sangat menyayangi Jhope, bahkan memperlakukannya layaknya balita. tak jarang aku sering menjumpai Jhope disuapi ibunya ketika aku dan dia sibuk bermain game


Sumpah demi apapun aku geli melihatnya yg sudah tua bangka ini masih sering bergelantungan diketek ibunya


Tak ayal dengan ayahnya yg kini bekerja diluar negeri, ia juga sangat memanjakan J-hope


Mereka berdua masih sering menina bobokan J-hope ketika J-hope akan tidur


Seperti pagi ini, ibunya sudah menyiapkan dua gelas susu untukku dan Jhope


"Suga, ayo sini kita sarapan bersama"


Sahut eomma Jhope yg sedang menata makanan dimeja


Aku berjalan menghampiri mereka


"kau harus coba nasi goreng kimchi buatan eommaku,kau pasti ketagihan"


Eomma Jhope tersenyum mendengar pujian dari anaknya, kemudian berlalu menuju dapur


"lho bukannya aku sering makan nasi goreng ibumu, dan rasanya tak berubah tetap saja enak"


J-hope mendekatkan bibirnya ke telingaku ketika melihat ibunya datang dari dapur dengan membawa buah-buahan


"sekarang beda, eommaku kemarin baru saja dapat arisan. lihat saja wajahnya secerah baju yg direndam rinso semalaman. Aku memujinya agar dia memberi uang jajan lebih hari ini"


Aku tersenyum kecut mendengar akal bulus J-hope


"hei kenapa kalian malah bisik-bisik? Ayo cepat makan nanti terlambat"


Tegur eomma J-hope


Setelah makan tante jung ineu memberikan dua kotak makan untukku dan anaknya. sudah menjadi kebiasaan tante jung ineu selalu menyelipkan bekal untuk J-hope dari kami masih duduk disekolah dasar, sampai sudah semester akhir seperti sekarang.


aku pun tak luput dari kasih sayangnya jika aku menginap atau hanya main kerumah J-hope, dia sudah menganggapku seperti anaknya sendiri bahkan aku juga memanggilnya dengan sebutan 'eomma' sebagaimana J-hope.


langkah kaki ini terus berderap membuat suara ketukan akibat sepatu mahalku. berjalan dikoridor yg lumayan sepi seperti ini membuatku sedikit bergidik ngeri padahal ini belum terlalu sore


Kurasakan langkah ini semakin menyempit dan hampir saja aku jatuh tersungkur.


Ternyata penyebabnya adalah tali sepatuku yg lepas.


Segera aku berjongkok menyimpul tali sepatuku dan menariknya kuat-kuat agar tak lepas dari peradabannya.


Setelah menyelesaikan permasalahan ini aku segera bangkit untuk melanjutkan langkahku, dan


"Dorr"


"shit" aku mengumpat berkali-kali


sungguh rasanya aku ingin mencubit ginjalnya. gadis aneh ini tiba-tiba saja berdiri dihadapanku. bagaimana bisa dia berada disini sedangkan tak ada tanda-tanda bayangan atau suara langkah kaki sama sekali


Darimana dia berasal?


Aku semakin dibuat takut saja


"kau kaget, aku tahu itu"


dasar gila sudah tentu aku sangat terkejut melihatnya tiba-tiba berada didepanku. dia ini setan atau apa?.


aku menghembuskan nafas perlahan mencoba untuk tidak emosi, walaupun sebenarnya aku ingin menarik hidungnya kuat-kuat


"sudah dua kali kau membuatku kaget. kalau aku sampai punya penyakit jantung, berarti itu salahmu"


"mwo? kenapa juga aku? itu salahmu sendiri, jika kau tidak melamun pasti tidak akan kaget"


"jangan menggangguku, aku sibuk" tegasku


"siapa juga yg ingin mengganggu


kucing rabies sepertimu"


"apa kau bilang?"


Sungguh, kata-katanya membuatku kesal


"tuh kan benar, kau sepertinya harus disuntik"


dia terus berucap tanpa memikirkan perasaanku yg sudah kesal karna panggilan 'kucing rabies'


"ah sudahlah terserahmu"


dapat kulihat dia terkekeh


aku semakin malas melihatnya


"Suga-ah"


Aku semakin geram saja dibuatnya


Aku membalikan badanku yg sudah dua langkah meninggalkannya tanpa berucap sedikitpun


"makalahku? besok persentasi terakhir, aku tidak mau nilaiku kosong. kau kan sudah berjanji akan menyelesaikannya segera"


aku jadi ingat tadi pagi Taehyung telah menyerahkan makalah gadis ini yg telah selesai, Taehyung memang cekatan dalam melakukan pekerjaan.


aku berfikir sejenak, boleh juga sedikit memanfaatkannya


"oh iya aku hampir lupa"


Kubuka ranselku dan mengambil tugasnya yg terlihat lebih cantik dari sebelumnya.


aku menyerahkan kertas tak berguna ini kepadanya.


Ia sangat antusias dan memekik senang


"eitss tunggu dulu"


aku segera menarik kembali makalahnya. membuatnya mengernyit dan mengerucutkan bibir yg mirip sekali dengan bebek


"ada syaratnya"


"hah syarat? syarat apa?"


"aku kan sudah menyalin dan menyelesaikan tugas sialanmu ini dengan cepat, apakah sekarang kau mau membantuku"


nada bicaraku sedikit melembut berharap gadis ini luluh akan rayuanku


"yak dasar kucing rabies, kenapa harus melibatkanku? Itu kan sudah tanggung jawabmu membuat anakku kembali cantik. pokoknya aku tidak mau membantumu"


suaranya itu apa tak bisa dikecilkan?


sungguh membuat telingaku menguing-nguing mendengar teriakan cemprengnya


"oh yasudah kalau tak mau membantu, berarti anakmu ini akan kuberikan pada ibu kantin untuk dijadikan alas gorengan" kali ini aku mengancamnya


"kau kejam sekali"


"aku memang kejam"


Balasku singkat.


Kutaruh kembali anaknya yg tak berguna ini kedalam tasku


"baiklah ibu kantin, hari ini kau dapat alas gorengan baru"


Aku bernada.


Dia terlihat begitu kesal dengan menghentak-hentakan kakinya kelantai


seperti bayi yg minta digendong


aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yg sangat lucu itu


"akh baiklah aku akan membantumu, tapi jangan susah-susah, aku belum belajar"


Akhirnya dia mengalah.


tbc