
Rangga dan Keyzia berjalan menuju parkiran. Kali ini tatapan sinis dari kakak-kakak kelas dan teman-teman seangkatan mereka terpasang sepanjang koridor. Keyzia menundukkan kepalanya lalu berusaha menyejajarkan langkahnya dengan langkah Rangga. Dalam hati ia sudah sangat gelisah, baru hari pertama masuk sekolah tapi sudah kenak masalah.
Sampai di parkiran, Keyzia segera masuk ke mobil Rangga. Ia bersecak, heran dengan Rangga mengapa ke sekolah membawa mobil semewah ini. Lain di otak Rangga, ia pikir Keyzia punya maksud tertentu mendekatinya dan sahabat-sahabatnya.
" Jangan norak lo! " ketus Rangga.
Keyzia mengerutkan kening, tak mengerti maksud ucapan Rangga. Pemuda itu malah cuek bebek sambil berkonsentrasi mengendarai mobilnya. Keyzia tak memperpanjang percakapan aneh mereka, ia hanya dia sambil menikmati Jakarta. Macet dan macet. Begitu pikirnya.
" Aarrgghhh! Sialan! Bisa nggak sih sehari aja nggak usah macet?! " gerutu Rangga.
Keyzia terlonjak mendengar gerutuan Rangga yang lebih mirip orang yang sedang mengamuk. Ia mengelus-elus dadanya lalu menatap sengit ke arah Rangga.
" Kalo mau ngagetin orang bilang dulu bisa kali, gue kan bisa siap-siap, " omel Keyzia.
" Bod*h! Mana ada yang kayak gitu heh? " ketus Rangga.
" Seenggaknya itu bikin stok kesesatan jantung gue stabil, " keukeuh Keyzia.
Keyzia mencibir. Diam-diam Rangga memperhatikan gadis di sebelahnya itu.
Tak lama kemudian, lampu merah berganti dengan lampu hijau. Rangga kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
" ******! Stooppppppp!!! "
Brak. Dugg.
Rangga mengelus-elus keningnya akibat terhantam kemudi. Ia menatap galak ke arah Keyzia yang tiba-tiba berteriak, gadis itu ternyata juga kejedot akibat ulahnya.
Keyzia langsung berhenti mengusap keningnya. Ia menatap Rangga, pemuda itu mengira bahwa Keyzia ingin menangis karena telah ia bentak. Sejurus kemudian Rangga membuka mulut hendak meminta maaf.
" Huaaaaa!!! " Gue lupa alamat rumah gue dimanaaaaa!!!!! "
Jdeerrrr. Rangga mengurungkan niatnya untuk meminta maaf, ia benar-benar sial hari ini. Terlebih lagi semua kesialannya karena Keyzia. Menyebalkan. Seharusnya ia tak pernah menyetujui usulan Joval untuk menjadikan gadis ini sebagai teman mereka.
" Nggaaa, kalo gue nggak pulang gimana? Aduuhhh... gue belum mau jadi gembel, huhuuuu. " Ucapan Keyzia lama-lama semakin ngelantur. Dalam hati Rangga mengamini. " Bagus! kalo lo jadi gembel kan nggak perlu masuk sekolah dan gue nggak bakal kena sial lagi. "
Keyzia mendelik mendengar jawaban Rangga. Bersama dengan pemuda yang bary di kenalnya, tidak membawa ponsel, baru pindah ke Jakarta kemarin dan lupa alamat rumahnya. Lucu. Ia belum siap kalau harus tidur di bawah kolong jembatan dan di emperan toko.
" Dasar anak TK. Cepat telfon ke rumah lo! " ketus Rangga.
" Berenti manggil gue anak TK! Gue nggak bawa ponsel, " jawab Keyzia. Rangga refleks memijat keningnya. Untung saja jalanan sepi jadi Rangga dengan mudah menepikan mobilnya atau lebih mudah lagi kalah ingin membuang Keyzia tinggal buka pintu, dorong itu anak TK dan pergi begitu saja.
" Hhh... ni pake ponsel gue. " Rangga menyodorkan ponselnya. Ia berusaha menghilangkan pikiran buruknya untuk menyeret Keyzia dari mobil mewahnya.
........................
"Selamat membaca ya guys 😍😍 "
Mohon dukungannya yang teman-teman jagan lupa Like and Komentarnya. 🙏🙏
Jangan lupa Votenya ya guys 🤩🤩