
Happy Reading
•
•
Setelah beberapa saat Selin pun kembali keruangan Sean dengan membawa secangkir kopi yang di pesan Sean tadi.
"ini kopinya bos" Selin sambil meletakkannya di dekat tangan kanan Sean
"hm" Sean pun mencicipinya sambil mengerutkan alis
"ini kopi apa ? " tanya Sean tak suka, pasalnya kopi yang sering ia minum tak mempunyai rasa seperti ini
" ada apa bos, apakah kopinya tidak enak ? " tanya Selin serius
"tidak, buat kembali" Sean mendorong Cangkir kopi itu menjauh darinya tapi tak di sangka kopi itu malah tumpah mengenaik tangannya dan terpercik ke kemeja putihnya seketika membuat Sean tertegun melihat tangannya yang kotor serta bajunya, ia melihat kotoran itu semakin membesar dan merembes hampir memenuhi tubuhnya, padahal itu hanya halusinasinya sendiri.
"sana cepat!!" Sean berteriak tanpa memindahkan tatapannya pada kotoran yang merambat itu
"baik bos" Selin mengambil kembali cangkir itu dan berbalik dengan cepat untuk keluar ruangan Sean
Sean yang tak merasakan kehadiran Selin lagi ia pun tak dapat lagi menahan dirinya ia segera berlari kedalam kamarnya sambil melepaskan pakainnya tergesa.
"haa....haa...." seakan sesesak nafas Sean berusaha meraup banyak oksigen sebanyak-banyaknya, ia pun menggosok badannya dibawah pancura shower bak orang kesetanan
"haaa....ha..." itu pun ia lakukan masih dengan nafas yang tak beraturan.
Setelah beberapa saat Sean keluar dan segera menelpon Leo untuk membawakannya baju ganti serta menyuruh Leo mencegah Selin masuk ke ruangannya.
Seperti yang sudah-sudah Leo datang dengan paper bag yang berisi pakainnya Sean, sambil menggerutu.
"kau itu harusnya pergi berobat bukan malah menyusahkan ku terus" ucap Leo yang tengah duduk di atas kasur Sean sambil menyilangkan kakinya
"aku tidak sakit Leo" ucap Sean dingin tanpa menatap Leo
"siapa yang bilang kau tak sakit" ucap Leo tetap menimpalinya walau ia tahu bahwa Sean tak suka jika ia disinggung perihal penyakitnya.
"aku tidak sakit!!!" Sean langsung berteriak keras dihadapan Leo dengan mata memerah menahan amarah, sedangkan Leo yang melihatnya hanya mampu memalingkan wajah agar tak ikutan emosi melihat Sean yang tak berdaya itu.
Sedangkan Sean melangkah pergi meniggalkan Leo, ia ingin pergi menenangkan dirinya ia merasa sedikit sumpek berada di dekat Leo sekarang
Saat keluar dari ruangannya ia berpapasan dengan Selin yang ingin mengantarkan kopinya, tetapi Sean tak menghiraukan Selin yang hendak berbicara, Sean melaluinya begitu saja bahkan tanpa melirik Selin sedikit pun.
"orang itu kenapa sih, tadi marah-marah, sekarang cuek seperti orang tak kenal" Selin bingung sendiri memilih tetap membawa kopi itu masuk keruangan CEO dan kembali melanjutkan tugasnya.
Niatnya tadi ingin tanya Sean ingin kemana karena tugasnya harus mendampinginya saat bertemu dengan klien, apalagi sekarang ia masih baru, namun jadwal yang diberikan Leo tadi Sean tak ada kegiatan keluar kantor hari ini.
"Selin" suara Leo dari depannya
"astaga!!" Selin kaget sambil menyentuh dadanya saat Leo tiba-tiba ada didepannya
"pak Direktur mengagetkan saya"
"maaf, tapi Sean kemana ? " tanya Leo dengan wajah cemas
"oh pak bos tadi keluar, tapi saya tidak tahu kemana" ucap Selin jujur
"baiklah, tidak papa, karena dua jam lagi sudah waktunya pulang kantor, apalagi Sean tidak ada kau bisa pulang sekarang Selin" ucap Leo sebelum menghilang di balik pintu ruangan Sean.
•••
Karena kontrak yang ia tanda tangani mengharuskannya tinggal di apartemen Sean maka Selin pun berada di apartemen Sean sekarang dengan barang-barangnya yang memenuhi ruang tamu
Sebelum ia ke catatan sipil tadi ia telah meminta Sean untuk memberikan barang-barangnya di apartemnya karena disini ia tak punya baju dan perlengkapan lainnya, jadi Sean menyetujuinya saja.
Setelah berganti pakaian santai, Selin pun membereskan pakaiannya yang ada dalam kardus untuk ia masukkan kedalam lemari pakaian yang ada dikamarnya.
Karena merasa lapar selin berancana keluar untuk membeli beberapa stok makanan pokok,seperti lauk dan sayur-sayuran, yang beruntungnya ia pintar memasak jika tidak ia harus mengeluarkan biaya ekstra untuk satu kali makan, sementara uang simpanannya sudah menipis direkeningnya.
Beruntungnya dekat dari apartemen ini ada minimarket yang buka dua puluh empat jam, jadi Selin tak perlu mengeluarkan uang lagi hanya untuk membayar angkutan umum.
"selamat sore" sapa penjaga tokoh kepada Selin sambil tersenyum
"sore mbak" balas Selin dengan senyum yang ramah, Selin pun mengambil satu troli belanja untuk ia isi blanjaan yang mungkin lumayan banyak karena mengingat apartemen Sean yang tak punya apa-apa yang bisa dimakan hanya punya stok air yang lumayan banyak
Apa mungkin Sean tak pernah tinggal lama di apartemennya atau ia tak bisa memasak jadi tak pernah stok makanan apartemennya.
Selin berkeliling mengambil sayur-sayuran, daging-dagingan, seperti ikan, ayam, sapi, setelah merasa cukup ia mencari beberapa bumbu dapur yang ia perlukan, setelah dapat ia pergi lagi mencari buah-buahan yang ia sukai.
Banyak wanita yang merasah senang saat berbelanja maka Selin pun termasuk diantaranya, tetapi Selin suka berbelanja stok makanan seperti ini, kalau belanja baju ia tak terlalu senang.
Bahkan beberapa wanita jika sedang stres ia pergi berbelanja walau ia tak terlalu memerlukan barang tersebut karena ia sangat merasa terhibur jika matanya dimanjakan dengan sesuatu yang disukainya dan merasa puas saat sesuatu yang diidamkannya biasa ia beli walau harganya menguras dompet.
Setelah merasa cukup Selin mendorong troli blanjaannya ke meja kasir untuk di bayar, sambil menunggu antria Selin melihat-lihat beberapa novel baru yang mungkin bisa menemaninya nanti malam, di sana bebrapa novel best seller dari berbagai genre Selin pun mengabil satu buku yang bertema romance, karena sebenarnya ia sangat jarang membaca novel dengan gendre romance.
Setelah beberapa lembar ia baca tibalah gilirannya untukembayar belanjaannya yang lumayan banyak itu.
"total 2.500.000" ucap sang kasir menyerahkan struk pembeliannya
"ini kak, uang pas" ucap Selin sambil menyodorkan uang pas kepada sang kasir
"terima kasih" ucap Kasir sambil tersenyum sementara Selin membalasnya dengan senyum ramah
•••
Leo meghubungi Sean tetapi tak di angkat oleh pemiliknya, tak kehabisan akal Leo pun menghubungi sopir pribadi Sean dan jawaban yang di dapat tak sesuai harapan ternyata Sean tak pergi bersama sang supir.
Tak berselang lama Sean pun meghubunginya dan itu membuat Leo senang bukan main gimana tidak seharian ini ia mencarinya hingga malam belum juga menemukannya, ia tahu kemana Sean berada.
"halo Sean kau dimana ? " tanya Leo begitu panggilan tersambung
"aku ada di apartemenmu" jawab Sean santai berbeda dengan Leo yang terbengong mendengarkan jawaban Sean
"bagaimana bisa ? " Leo seperti orang linglung karena Sean
"cepat kemari, penting!!"
"tutt...." setelah mengatakan itu Sean memutuskan sambungannya secara sepihak
"dasar sahabat brengsek!! bukannya dari tadi ngabarin, aku jadi pusing sendiri" maki Leo pada ponsel yang mati kehabisan daya sesaat setelah Sean mengakhiri panggilannya
Sesampainya di apartemen Leo melihat Sean telah rapih dengan stelan jas dengan gagahnya duduk di sofa ruang tamu Leo.
"cepat ganti baju !" suruh Sean saat melihat Leo yang bengog melihatnya, seperti robot Leo hanya mengangguk dan berjalan menuju kamarnya
Tak berselang lama Leo pun keluar dari kemarnya dengan stelan jas yang serupa dengan yang dipakai Sean hanya beberapa ornamen yang mebuatnya berbeda.
"kemana ? " tanya Leo saat mereka telah memasuki mobil Sean
"kau diam saja" Sean masih serius mengemudi tak melirik pada Leo sedikit pun
•••
Dan di sinilah mereka sekarang di mansion keluarga Smith, pada bab sebelumnya saat Sean melakukan panggilan telpon dengan Grandma nya ia memberi syarat agar ia boleh membawa Leo pada makan malam kali ini dan sang Grandma pun menyetujuinya.
"itu Sean baru datang" ucap Grandma memberitahukan kepada para tamunya yang memang datang lebih awal dari janji temu mereka.
"Sean bukannya itu....." ucap Leo berbisik pada Sean sambil menatap tajam sang objek yang ia bicarakan
Siapakah yang dimaksud dengan Leo ?
•••