
Happy Reading
•
•
Sean dan Leo pun kembali melanjutkan rapat yang sempat tertunda tadi dan disinilah mereka sekarang diruang rapat, mereka membahas tetang rencana Sean untuk mempeluas cabang mereka di timur tengah dan jika itu belum bisa tercapai paling tidak ia garus menjalin kerja sama bisnis dengan orang sana kalau tidak sama sekali ia ingin agar dapat mendapat setidaknya satu prusahaan yang dapat ia ajak kerja sama walau bukan di timur tengah.
"oleh sebab itu, saya ingin menugaskan kalian, untuk membuat beberapa proposal kerja sama yang dapat dijadikan pegangan sebelum saya berangkat ke Dubai kurang dari dua minggu lagi" ucapnya panjang lebar
"dan saya menunggunya lima hari sebelum saya brangkat" ujarnya sambil melirik satu persatu peserta rapat
"oke kalian bisa keluar" sambil menggaruk alisnya yang tak gatal ia sedang berfikir ia tak boleh gagal untuk urusan ini
"Leo kau sudah menyelidiki tentang pangeran Dubai itu" tanyanya pda Leo tang masih sibuk dengan tablet miliknya
"iya, dia baru-baru ini dinobatkan sebagai seorang putra mahkota dan yang lebih memberi peluang pada kita, ia ingin memperluas bisnisnya kebeberapa negara yang ada di Eropa" Leo segera meletakkan Tabletnya karena ingin bicara serius
"tetapi ia hanya akan bekerja sama dengan pemimpin perusahaan yang telah menikah dan memiliki pandangan positif tentang pernikahan, bagaiman menurutmu" ucapnya sedikit lesu
"apa masalahnya?" tanya Sean seakan-akan itu bukan masalah baginya
"tapi kau kan belum menikah tuan Sean yang terhormat dan kemungkinan tidak dapat menikah" dengan geram Leo meninju udara di sekitarnya
"ck, gampang tinggal cari wanita yang bisa kita ajak kerja sama, bereskan" dengan enteng berkata tak melihat raut wajah Leo yang tambah masam
"baiklah kita lihat saja nanti" ucapnya capek ngehadapin sikap Sean sepanjang hari ini
"kau juga sudah boleh pulang" ujarnya utuk memberi sedikit istirahat untuk Leo ia merasa sedikit kasihan dengannya
"baiklah, tapi jangan lupa janji temu dengan perusahaan asal Jepang itu, di bar high light malam ini jam delapan jangan sampai telat" ucapnya sambil membereskan semua barang miliknya kedalam tas kerjanya.
"hm" Sean tengah duduk menyenderkan kepalanya pada senderan kursi sambil memejamkan kedua matanya, sebenarmya ia juga sangat lelah.
"jangan terlalu memaksakan diri" ucap Leo sebelum berlalu pergi sebab melihat Sean yang bagaikan menahan beban berat di pundaknya.
"hm" jawabnya dengan masih memejamkan mata untuk sekedar istirahat sejenak.
"Berrr...." getaran ponsel Sean yang ada diatas meja, dengan mata memerah karna mengantuk dan lelah, perlahan ia mengangkat panggilan tersebut.
"Sean kenapa belum pulang Nak" ucapan lembut ibunya yang terselip nada khawatir didalamnya membuat perasaan Sean menghangat seketika
"Iya Bu, Sean sedang beres-beres, sebentar lagi" ucapnya tak bohong karena memang setelah mendengar suara ibunya ia langsung membereskan mejanya untuk segera pulang.
"Hati-hati dijalan, jangan ngebut"
"Iya Bu siap" ucapnya sedikit semangat
"tutt..." panggilannya pun terputus
Setelah membereskan barang-barangnya Sean pun berjalan perlahan meninggalkan ruangannya dan melihat sekeliling yang nampak sepi karena jam sudah menunjukkan delapan belas lewat sepuluh menit yang menandakan jam pulang kantor sudah lewat satu jam.
Tetapi masih ada beberapa karyawan yang lembur termasuk Rea yang tadi sempat bersinggungan dengannya tadi siang, nampak di kubelnya sibuk tanpa menghiraukan Sean yang berjalan didepannya.
Sean pun tak ambil pusing karena ia ingin cepat pulang sebab sang Ibu sedang menunggunya.
•••
Tampak Selin keluar dari restoran membawa dua kantong sampah yang besar sehingga ia sedikit kesusahan mengangkatnya, yah setiap pulang ia memang harus membuang sampah sebanyak ini di pembuangan sampah di dekat sana.
"hufff" menghembuskan nafas perlahan sambil duduk di dekat tempat sampah untuk mengistirahatkan sedikit kakinya yang sangat pegal karena berdiri seharian.
Setelah merasa cukup Selin kembali ke Restoran tadi untuk mengabil sepedanya, ia akan pergi ke Bar high light tempat kerja ia selanjutnya.
Sambil mengayuh sepedanya perlahan Selin menikmati pemandangan kota di sore hari dengan matahati yang sebentar lagi akan tenggelam menyiptakan cahaya jingga yang menyinari gedung-gedung perkantoran yang tinggi sedangakan di bawah sini lampu-lampu jalanan telah dihidupkan pemiliknya membuatnya tampak indah sepanjang mata memandang.
Hampir dua jam Selin mengendarai sepedanya untuk sampai di Bar high light yang baru saja buka di depapan malam, membuat bisa beristirahat sedikit sebelum masuk bekerja.
Karena merasa bau kringat Selin pun menuju Toilet di Bar untuk mandi, yah ini sudah menjadi rutinitas hariannya, yang mandi di Toilet seperti ini, dari pada ia merasa tak nyaman dan juga bau badannya bisa saja mengganggu pelanggan jadi ia mandi terlebih dahulu.
"Clek" ia pun keluar dengan seragam pelayan yang sudah sempat ia ambil di loker pegawai sebelum masuk Toilet tadi
"Hay, mandi lagi" tegur Xander salah satu Bartender yang cukup akrab dengan Selin
"iya, mau gimana lagi kau kan tahu" ucap Selin sedikit kesal pasalnya Xander sudah tahu sedikit tentang kisah hidupnya selama ini
"yah, sudah ngak usah juga mukanya dimonyongin gitu, minta di tampol tu mulut"
"ck" sebal Selin
"ayo Bar sudah dibuka mungkin pengunju sudah datang"
"iya...iya" mereka pun berjalan bersisihan menuju ke tempat Xander dan benar beberapa pengunjung telah masuk dan menyesap minuman mereka dengan santai sambil bersenda gurau dengan teman-temanya.
"hey, Selin bawakan ini ke tuangan VIP nomor tiga, hati-hati disana ada orang penting" ucap atasan Selin memperingati
"Iya bos" Selin dengan patuh mengantar minuman itu dengan beberapa buah untuk di sajikan
"tok..tok.." Selin mengetuk sebelum masuk, karena takut mengganggu orang penting itu
"masuk" ucap suara dari dalam, Selin pun masuk mendorong troli yang berisi berbagai minuman beralkohol yang bernilai cukup mahal yang tak pernah Selin coba sekali pun.
Dengan pelan Selin meletakkan satu persatu botol alkohol itu dengan hati-hati karena bisa saja botol itu jatuh dan pecah, yang membuatnya bisa saja dipecat.
"ambil ini" sambil menyodorkan beberapa lembar uang pecahan $50 dan itu membuat Selin senang luar biasa karena selama ia bekerja baru pertama kali ia mendapar tip dengan uang pecahan $50 itu.
Setelah mengambil uangnya Selin keluar dari ruang VIP itu dengan menutup pintunya dengan pelan dengan perasaan yang gembira.
"kau kenapa Selin" tanya Xander melihat Selin yang tersenyum sendiri seperti orang mabuk
"hahaha aku dapat tip banyak dari pelanggan VIP dikamar nomor tiga" ucap Selin sedikit berbisik pada Xander
"wah.. Benarkah"
"iya dong"
"oke malam bisa traktir aku dong"
"oke deh tapi di restoran biasa aja yah" ucapnya sedikit memelas
"oke, sana kembali bekerja" Selin membalasnya dengan senyuman dan kembali bekerja karena malam sudah semakin larut maka pengunjung akan semakin bertambah.
•••
Sean yang tengah tertidur pun terbangun oleh suara ponsel yang lupa ia ubah mode silent
"ck, menggangu saja"
"ada apa" tanyanya pada si penelpon yang ternyata Leo
"kau dimana?"
"yah dirumah"
"kau tak lupa dengan janji hari ini kan" tanyanya memastikan karena jam sudah menunjukkan jam delapan malam
"janji ? "Tanyanya tak yakin
"oh.. Iya sial" ia menutu sambungan telpon secara sepihak tanpa mendengar tanggapan Leo
Sean pun bergegas berbenah diri dengan memakai pakaian yang sedikit santai untuk pertemuan ini, ia ingin pergi menandatangani proyek kerja samanya dengan perusahaan tekstil asal Jepang itu.
Dan ini pertemuan keduanya dengan pihak sana walau pertemuan pertamanya di Jepang dan yang sekarang bukan pemilik perusahaan yang datang tetapi ini adalah masalah penting yang tak boleh ia remehkan bukan.
Hampir saja kerja sama ini batal karena kecerobohannya yang melupakan pertemuan ini, iangatkan ia untuk memberi Leo bonus tambahan untuk pekerjaannya yang satu ini.
Dan disinilah ia sekarang di Bar high light di salah satu ruang VIP yang sudah dipesan pihak Jepang itu.
"selamat datang Mr. Yamada" ucap Sean dalam bahasa Jepang begitu melihat Yamada Arata memasuki ruang VIP nya
"terima kasih Mr. Smith" ucap membalas salaman Sean dengan bersahabat
Mereka pun berbincang sedikit mengenai beberapa hal remeh untuk menunggu minuman yang tadi mereka pesan.
"tok..tok.." suara ketukan pintu yang Sean perkirakan itu pelayan bar
"masuk" ucap Sean, Sean melihat pelayan itu sangat lamban untuk memindahkan botol alkoholnya pun sedikit tak sabaran
"Taruh saja disana, kau boleh kembali bekerja" ucap Sean sambil merogoh kantongnya mencari dompet, begitu membuka dompet ternyata uang cash nya tinggal beberapa, ia pun mengabil semua uang cash yang ada di dompetnya ia serahkan pada pelayan itu.
Hari ini ia sedikit lebih dermawan karena ia sedang senang sebab berhasil mendapat kerjasama yang menguntungkan dan uang seperti ini bisa dengan mudah ia dapatkan.
"ambil ini" sambil menyodorkan beberapa lembar uang pada pelayan tersebut yang tak lain adalah Selin.
setelah Selin keluar Sean dan Arata pun berbincang serius mengenai kerjasama bisnis mereka yang baru saja dimulai.
"rencana pemasokan untuk beberapa jenis kain akan kami buatkan proposalanya segera"
"tidak usah terburu-buru Mr. Smith" ujar Arata sambil menuangkan kembali sloki Sean yang nampak kosong itu.
"Kami harus cepat Mr. Yamada karena stok kain yang kami punya tinggal sedikit, apalagi tahun ini brand pakain Hock untuk musim dingin memiliki pesanan yang lumayan banyak bulan ini" ucap lugas padahal baru kemarin ia membaca semua itu
"baiklah kami sangat senang bekerja sama dengan anda Mr. Smith"
"saya undur diri karena dirumah istri lagi hamil tua" ucap Arata tak enak pada Sean kerena meninggalkannya sendiri.
"iya tak apa, salam buat istrimu" ucapnya begitu Arata berjalan keluar
Hari ini Sean sangat senang jadi ia lepas kendali meminum alkohol dan menjadikannya mabuk seketika, seakan lupa besok ia masih harus kekantor.
Ia pun berjalan sempoyongan keluar dari kamar VIP itu sesekali menabrak pelanggan bar yang lain dan memarahi mereka seperti otang bodoh.
"Selin tolong atarkan tamu kita keparkiran sekalian kau bisa pulang" uacp sang bos kepada Selin yang bersiap akan pulang
"baik bos" ia berjalan kearah Sean yang tak berjalan dengan benar
"permisi tuan" ucap Selin sebelum membantu memapah Sean menuju parkiran luar
"hmmjsjbsv" Sean merancau tak jelas
Setelah keluar dari bar Sean yang tengah mabuk itu seakan lupa bahwa ia tak suka di sentuh malah sekarang ia dengan sengaja memeluk dan berusaha mencium Selin yang tengah kewalahan menyeimbangkan tubuhnya, karena tubuh Sean yang besar tak mampu ia topang yang sebenarnya bertubuh mungil dari kebanyakan orang Eropa pada umumnya.
Dan momen mereka itu terabadikan dengan kamera seorang wartawan yang memang sealalu mengikuti perkembangan tentang kehidupan Sean.
•••