Selin I'M Not Cinderella

Selin I'M Not Cinderella
Keputusan Sean



Happy Reading




Selin pun duduk di meja kerja Sean, karena hanya meja Sean yang dilengkapi dengan komputer di ruangan ini, apalagi komputer yang Sean miliki paling lengkap dan yang paling memadai untuk melakukan apa pun.


Selin langsung mengutak atik dan menekan beberapa kode di layar, layarpun berubah menjadi warna hijau yang penuh dengan angka dan huruf yang saling berkombinasi yang membuat Sean pusing melihatnya, tak lama setelahnya muncullah data pribadi Mr. Liu dan Selin pun langsung mencetaknya


Setelah itu Sean menyuruhnya mencari beberapa informasi mengenai kontrak kerja dan semua yang berkaitan dengan Mr. Liu


Tak hanya tentang Mr. Liu bahkan seluruh keluarganya termasuk anak perempuan yang ingin di jodohkan dengannya.


Dan semua itu Selin dapat beberapa menit setelahnya, kemampuan Selin dalam ilmu Cyber memang harus diacungi jempol


"ini bos" Selin memyerahkam beberapa lembar informasi yang baru saja ia dapat


"tok...tok" setelah mengetuk pintu Leo langsung menerobos masuk tanpa disuru


"wih..ini masih siang bos" ucap Leo yang melihat Selin dan Sean yang dalam posisi ambigu dan membuat Leo yang kebetulan masuk menjadi salah paham


Selin tengah duduk di kursi kerja Sean menghadap ke belakang saat tadi menyerahkan informasi itu, sedangkan Sean yang tadi berda dibelakang Selin karena memantau pekerjaannya menaruh tangannya di kedia sisi meja yang membuat Selin terperangkap di kungkunan Sean jadi mereka seperti melakukan sesuatu yang tidak-tidak padahal situasinya sangat berbeda jauh dengan pemikiran Leo.


"ck ada apa" Sean berdecak sambil berdiri menjauh dari Selin


"maaf mengganggu" Leo masih ingin menggoda Sean


"kau ingin ini" ucap Sean sambil mengelus tangannya yang mengepal erat dan menunjjukkannya pada Leo


"tidak, kau tak asik" Leo pun langsung mencebik bibirnya saat melihat respon Sean


"aku hanya mengingatkan jadwalmu yang ingin berkunjung ke Smith Food" ucapnya menyerahkan tabletnya pada Selin, agar mulai sekarang Selin yang akan menyusun jadwal Sean


"oke, kau boleh keluar" Sean tetap pada mimik wajahnya yang tak bersahabat


"ck, pelit" Leo pun keluar dari ruangan Sean tanpa di suruh dua kali


"kerjamu cukup bagus" ucap Sean memuji kerja Selin untuk mendapat informasi yang terbilang cepat dan menghiraukan Leo yang pergi dari ruangannya


"saya akan memberimu pekerjaan tambahan jika sudah membaca semua ini dan kerjamu memuaskan, kalau tidak saya tak menjamin" ucap Sean sambil menggoyangkan tumpukan kertas ditangannya


"baik, terima kasih bos" ucap Selin dengan senang karena akhirnya ada orang yang menghargai kemampuannya.


"ayo" ajak Sean pada Selin untuk mengikutinya ke Smith Food setelah menyimpan kertas tadi kedalam laci meja kerjanya


"kemana bos" tanya Selin karena tengah sibuk melihat jadwal Sean yang ada di tablet hitam itu dan ternyata Sean tak memiliki libur sekali pun itu akhir pekan, sebenarnya apa yang dicari Sean sehingga bekerja sangat keras pikir Selin melihat jadwal Sean sampai bebrapa hari kedepan


"ck, ikut saja" Sean sedikit kesal karena Selin yang tak fokus pada pekerjaannya


Selin yang mendengar itu hanya mampu mengikut dengan sedikit dongkol pasalnya Sean selalu saja marah setiap ada waktu.


•••


Sampailah sekarang Selin dan Sean di kantor Smith Food, dari luar gedung kantor SF sangat jauh berbeda dengan kantor SC, kantor yang ada didepan Selin sekarang ini hanya ada sembilan lantai dan halamannya tak luas seperti SC, yah... Memang harus seperti itu karena SC itu adalah perusahaan induk sedangkan yang ada didepannya itu hanya anak perusahaan yang baru dibangun saat Sean menjabat sebagai CEO dan ini adalah perusahaan pertama yang Sean bangun saat menjadi CEO, begitulah informasi yang Selin dapat saat di perjalanan tadi sebelum sampai ke perusahaan ini.


Setelah puas melihat sekeliling Selin pun berlari mengejar Sean yang telah masuk kedalam perusahaan, Selin menegur dirinya karena sempat-sempatnya memanjakan matanya saat sedang bekerja begini.


"dari mana saja kau" Sean langsung menegur Selin saat Selin menyaperinya, walau dengan suara yang rendah tetapi itu mampu membuat Selin merinding seketika dan secara sepontan Selin meminta maaf


"maaf bos" ucap Selin dengan pelan, dasar hampir saja di marahi, untung ini bukan dikantor ucap selin pada diri sendiri


"Selamat datang pak CEO" ucap direktur yang bekerja disana, sambil menyambut Sean dengan ramah sambil mengulurkan tangan hendak berjabat tangan, tetapi Sean hanya berjalan mendahuluinya dan menghiraukannya begitu saja.


Selin yang melihat tangan Direktur masih menggantung pun dengan spontan ia membalasnya untuk mengwakilkan Sean dan tak ingin membuat sang Direktur kecewa.


"halo pak saya asisten baru pak CEO" ucap Selin membalas uluran tangan Direktur SF sambil tersenyum ramah


"oh, iya dengan..." sang Direktur pun menanyakan nama Selin


"nama saya Selin pak" jawab Selin


"oh nak Selin...." ucapan sang Direktur terpotong saat Sean menegur Selin


"Selin kau kesini untuk bekerja bukan" Sean sengaja memyindir Selin karena melihat Selin yang asik ngobrol sampai melupakan pekerjaannya dan yang membuat Sean marah karena orang seperti Direktur itu tak perlu di hormati.


"maaf pak Direktur, saya tinggal dulu" ucap Selin sebelum meninggalkan pak Direktur


Sean mengajak Selin berkeliling di setiap bagian di kantor tersebut melihat para karyawan yang tengah bekerja di tempatnya dan Sean berniat mengunjungi pabrik makanan instan SF yang tak jauh dari sini, untuk memantau pendistribusian langsung dari akarnya.


Sean telah memberi tahu kedatangannya dan menginformasikan mereka untuk menyiapkan rapat, yang akan di hadiri para petinggi perusahaan SF hari ini.


Kali ini Sean akan membahas mengenai kecurigaannya pada pemasukan pengeluaran prusahaan yang tak sesuai itu dan Sena telah mengumpulkan semua bukti yang terkait, makanya lemarin ia sangat capek, tetapi malah di tambah pusing dengan masalah perjodohan itu.


Dan disinilah sekarang Sean dan Selin berada di sebuah ruangan rapat yang begitu luas dan hanya di hadiri beberapa orang termasuk sang Direktur yang tadi menyambutnya.


"baik mari kita mulai rapat ini" ucap Sean sambil menatap meraka satu persatu dengan raut yang serius.


"apa maksud anda melakukan rapat seperti ini pak CEO" tanya seorang pria yang terlihat sudah berumur tetapi masih punya aurah yang berwibawah dengan aurah dominan.


"kau diam saja pak tua" ujar Sean pada Mr. Giorgino yang memang paling tinggi jabatannya di perusahaan ini, tetapi ia tak tahu dengan kasus korupsi yang dilakukan oleh bawahannya.


"Selin" Sean mengode Selin untuk menyalakan proyektor dan segera memperlihatkan semua bukti yang telah Sean perlihatkan saat di perjalanan tadi, semuanya telah terangkum di dalam sana semuanya terperincih dengan jelas apalagi diikuti dengan penjelasan Selin didepan semua orang yang ada di dalam ruang rapat.


Setelah menjelaskan semuanya Selin menutup penjelasannya dengan Sean yang mengabil ahli, dan memberi hukuman pada yang terlibat berupa surat PHK dan surat yang menyatakan bahwa mereka terkena denda dari perusahaan yang jumlahnya sangat banyak bahkan melebihi uang yang mereka korupsi.


"brak" bunyi geprekan meja


"kenapa bisa begini pak CEO" ucap Direktur yang tadi sambil mengoyangkan kertas di tangannya dengan kasar


"bukankah sudah jelas" jawab Sean santai dengan senyum yang tampak mengerikan


"Sebelum kalian bekerja di sini apa kalian tak membaca kontrak kerja kalian" lanju Sean


Sedangkan mereka yang bersangkutan langsung diam seribu bahasa karena tak dapat mengelak lagi, karena mereka tahu semua isi kontarak yang mereka tanda tangani sebelum bekerja di sana.


"baik, saya akhiri rapat kali ini"ucap Sean saat mereka tak lagi ada yang berbicara.


Sean dan Selin pun meminggalkan perusahaan menuju pabrik yang tak jauh dari sama seperti rencana awalnya.


"ber..." ponsel Sean bergetar di saku jasnya, membuatnya menghentikan mobilnya seketika


"Ibu" gumam Sean merasa heran sebab ibunya sangat jarang menelpon nya saat ia pergi bekerja kecuali ada hal yang mendesak.


"....."


"baik Saya akan pulang secepatnya" ucap Sean dan segera memutar kemudi kembali ke mansion keluarga Smith


"bos ingin kemana" ucap Selin setelah mereka melalui prusahaan tadi, sedangkan Sean melupakan keberadaan Selin disampingnya saking paniknya.


"astaga" gumam Sean tetapi tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, dan tujuannya masih sama yaitu Mansion Smith


"brum.." mereka pun sampai dikediaman keluarga Smith


"ayo ikut" ucap Sean pada Selin yang masih bengong melihat Mansion di depannya itu


"bagaimana keadaan Ibuku" tanya Sean pada dokter yang baru saja menangani Ibunya, ibunya jatuh pingsang karena membaca kabar bahwa Sean mempunyai penyimpangan Seksual.


Sean lupa menghapus berita tersebut, karena sibuk mengurus berita yang menyangkut dirinya dan Selin baru-baru ini.


"beliau tidak apa-apa hanya sedikit syok dan tekanan darah yang rendah, beliau juga sudah sadar silahkan tuan muda untuk melihatnya" ucap dokter menjelaskan


"terima kasih dokter, mari saya antar kedepan" ujar sang Grandma yang dari tadi juga menunggu kabar menantunya


Sean pun masuk dan menarik tangan Selin menuju lamar Ibunya dan ini pertama kalinya ia memegang tangan seseorang demi Ibunya.


"clek" pintu terbuka Sean pun dapat melihat ibunya yang duduk bersanda dikepala ranjang sambil menatapnya masuk


"Sean" ucapan lirih Ibunya sambil menatapnya sendu, sedangka Sean yang ditatap seperti itu hanya mampu menelan selivanya tegang tak lupa dengan tangannya yang meremas tangan Selin yang ada dalam genggamannya.


"Ibu... Sean, bagaiman keaadaannya sekarang" ucapnya dengan sedikit berantakan karena ia sangat gugup sekarang


"ibu sudah baikan" ucapnya dengan senyum lemah


"benarkah, oh iya Bu, kenalkan Selin pacar Sean "ucap Sean mendorong punggung Selin untuk mendekat pada ibunya, Selin pun yang mendengar itu langsung membulatkan matanya melihat Sean.


•••