Selin I'M Not Cinderella

Selin I'M Not Cinderella
Bukan Cinderella dan Pangeran



Di pagi yang cerah kicauan burung yang saling bersahutan di atas pepohonan dekat jendela kamar Selin, membuat tidur Selin terusik.


"eng.." Selin perlahan membuka kedua kelopak matanya dan mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk


"astaga!!" kagetnya saat melihat cahaya matahari sudah mulai memasuki celah pentilasi kamarnya, karena jendela masih tertutup gorden makanya ia tak menyadari matahari yang mulai menyengat itu.


Selin mengedarkan pandangannya untuk melihat jam dinding yang ternyata sudah menujjukkan jam tujuh lewat lima belas menit.


"tidak!" semoga ia tak dimarahi oleh atasan kali ini pikir Selin begitu melihat jam


"sret" Selin segera bangun dan menghempaskan selimutnya begitu saja dan terburu-buru kekamar mandi tak berselang lama ia pun keluar dan telah memakai pakaian rapih, ia tidak sempat mandi hanya sempat cuci muka dan gosok gigi.


Selin memakai baju rajut berbahan wol berwarna merah muda dipadukan dengan celana jins hitam dan snakers putih tak lupa tas ransel merah yang terlihat lusuh yang selalu ia bawa setiap hari, untuk membawa perlengkapannya sehari hari, karena ia baru akan pulang ke apartemennya saat dini hari.


Setelah memakai sepatunya Selin keluar menuju baseman apartemennya dengan menggunakan tangga darurat karena lift apartemen yang ia tinggali sedang diperbaiki.


"tap..tap...haaa haaa" Selin sampai ngos-ngosan menuruni tangga di setiap lantai dan kebetulan lantai kamarnya ada dilantai 9 lantai paling atas di apartemen ini.


Apartemen yang Selin tempati ini terbilang murah karena apartemennya ada didaerah kumuh dan sewa pertahunnya terbilang rendah dan pasilitasnya sedikit kurang makanya murah, seperti tadi liftnya belum di perbaiki selama dua hari lalu, pelayanan mereka sangat lamban, tetapi Selin sangat bersyukur karena ia telah mendapat tempat yang layak huni tak seperti beberapa tahun lalu dimana ia hanya bisa bermalam di gudang penyimpanan di mini market tempatnya bekerja dan itu pun dengan susah ia mendapat izin.


"pagi paman" sapa Selin pada Satpam penjaga komplek apartemen


"pagi Nona Selin, mau berangkat kerja" tanya Satpam itu saat melihat selin yang sudah rapi itu sambil mendorong sepedanya


"iya paman, Selin berangkat dulu, dah" ucap Selin melampai diatas sepedanya yang telah melaju meninggalkan apatemen


Ia mengendarai sepedanya melewati jalanan aspal yang basah karena hujan semalam membuat suhu sekarang semakin dingin walau sinar matahari sudah menyinari bumi.


Selin bekerja paruh waktu di beberapa tempat, seperti sekarang ia menuju ke mini market dekat aparteman yang jaraknya ta terlalu jauh dan Selin memakai sepedanya untuk kesana.


Tak hanya di mini market saat siang nanti ia akan bekerja di restoran berbintang empat yang mendapatkan gaji lumayan besar dibanding dengan bekerja sebagai kasir mini market dan saat malam ia bekerja di bar sebagai pelayan, bar ini cukup terkenal jadi ia bisa mendapat gaji dua kali lipat lebih besar dari pekerjaannya di restoran sebagai pencuci piring dan lebih banyak lagi jika ia mendapat tip dari pelanggan bar yang dermawan.


Ia bekerja sebagai pelayan yang mengantar minuman dan cemilan kepelanggan bukan bekerja sebagai wanita penghibur catat*


Walau tebilang gajinya lumayan tetapi ia harus membayar sewa apartemen setiap tahunnya dan makanan pokok yang semakin hari semakin naik membuatnya harus berhemat jadi ia harus kerja di beberapa tempat untuk memaksimalkan pendapatannya tiap tahun.


Padahal pada tahun pertama ia pindah ke apartemennya ia hanya kerja di bar itu sebagai pelayan saat malam tiba tetapi itu membuatnya sangat kesusahan mengatur keuangannya agar cukup untuk membayar sewa apartemennya dan biaya kuliahnya sehingga ia pun berhenti kuliah dan bekerja di tempat ini sekarang sebagai kasir mini market dan ia mendapat pekerjaan sebagai pencuci piring di restoran adalah rekomendasi dari teman kuliahnya yang sekarang bekerja disana sebagai manager.


Setelah sampai kedalam mini market ternyata atasanya sudah ada di dalam sana sedang menggantikannya karena terlambat masuk.


"hai kau tahu ini suda jam berapa ? " tanya atasan Selin dengan tampang marah tetapi suaranya tetap rendah karena tak ingin menggangu pelanggan


"maaf bos" ucap Selin sambil memamerkan deretan giginya yang rapi


"baik saya bebaskan kau kali ini" ucapnya pergi kebelakang tempat para staf untuk berganti pakaian


"terima kasih bos!" Selin sedikit berteriak agar bisnya mendengar setelanya ia tersenyum ceria karena tak dihukum , ia pun melanjutkan pekrjaannya yang sempat diganti oleh bosnya karena ia terlambat.


"selamat datang" ucap Selin pada pelanggan yang baru saja masuk dengan pakain lengkap hendak kekantor pikir Selin saat melihat pria yang berstelan jas itu membeli beberapa makanan istan seperti mie, kopi, roti dan sejenisnya tetapi pria itu tampak tak asing dimatanya.


"tit" Selin pun menghitung belanjaan pria itu


"totalnya 15.000" ucap Selin setelah menjumlah semuanya.


"terima kasih, silahkan berkunjung kembali" ucap Selin setelah menerima uangnya.


Selin baru menyadari ternyata pria itu, adalah pelanggan tetap di bar tempatnya bekerja tiap malam, makanya tadi begitu masuk ia merasa tak asing dengan pria tersebut.


Dilihat dari pakaian yang dipakainya ia memakai pakaian bermerek dan dapat Selin simpulkan bahwa pria itu orang kaya, tetapi yang membuatnya bingung kenapa ia makan-makanan instan jika ia seorang berduit, bukannya harusnya ia pergi makan direstoran.


"hay Selin" Agustina salah satu pekerja paru waktu yang menggantikan Selin saat siang hari.


"tumben cepat datang" tanya Selin yang kebetulan memang Agutina ini cepat datang biasanya mepet jam masuk baru datang dan sekarang ia datang sebelum jam makan siang.


"iya solanya tadi di antar tetangga, biasanya kan pake sepeda" ucapnya, karena jarak rumahnya dengan mini market ini lumayan jauh jadi ia selalu terlambat datang dan ia merasa tak enak pada Selin.


•••


"ting" bunyi Lift


"tap.. Tap.." bunyi sepatu Sean yang bergesekan dengan lantai marmer yang berwarna monokrom menuju keruangnnya


"kapan janji temu dengan wakil dari perusahaan testil dari Jepang itu" tanya Sean saat memasuki ruangnnya kepada Leo sang Direktur Utama sekaligus asisten pribadinya.


"nanti malam jam delapan di bar high light " ucap Leo melihat catatan di tablet miliknya, yang telah menyusun kegiatan Sean beberapa hari kedepan.


"baiklah kau boleh ketempatmu" ucapnya pada Leo


"iya" ucap Leo singkat Leo salah satu teman baiknya makanya ia menempatkannya sebagai asisten pribadinya karena hanya Leo yang dapat ia percaya walau ia juga punya sekertaris.


Setelah Leo keluar Sean sibuk dengan beberapa dokumen yang harus ia tanda tangani.


Terdapat satu undangan berwarna putih berpaduan dengan silver dan tak lupa pula dengan gliter emas yang menjadi ornamen undangan tersebut.


Undangan itu berisi undangan untuk mengikuti sebuah pergelaran seni di kota Dubai Unit Emirat Arab ia diundang oleh pemilik acara yaitu pangeran Dubai


Dan ini adalah salah satu peluang yang tak bisa disia-siakan oleh SC ( Smith Corporation) karena di sana akan hadir banyak pebisnis dari seluruh dunia dan beberapa mentri luar Negri yang mewakili negaranya, peluang untuk melakukan kerja sama bisnis dan perluasan cabang hotel dan pabrik ke Negara maju lainnya dapat Sean lakukan.


Sean pun tersenyum miring tengah memikirkan berapa persen peluang yang ia dapatkan jika berada dalam acara ini, SC ( Smith Corporation) memang prusahaan yang terbilang besar bahkan ia telah punya cabang di beberapa negara tetangga tapi tiga tahun lalu ia mengalami kerugian yang mencapai ratusan Millyar Dollar tak hanya kerugian,


Kedua orang tua Sean bahkan mengalami kecelakaan dan membuat sang Ayah meninggal sedangkan ibunya mengalami lumpuh permanen dimana sekarang ibunya hanya bisa duduk di kursi roda selama sisa hidupnya.


Sejak kecelakaan itu Sean mengabil ahli SC ( Smith Corporation) dan berusaha menstabilkan keuangan Perusahaan yang hapir saja melakukan PHK kepada puluhan karyawan untuk menstabilkan keuangan.


Dan itu dilalui Sean tidak mudah karena ia mendapat banyak penolakan oleh beberpa pihak pemegang saham di SC kala itu, walau ia adalah anak pemilik perusahaan ia yang memiliki banyak skandal pun membuat namanya cacat dan mereka mengatakan orang yang cacat tidak dapat memimpin perusahaan.


Beberapa dari mereka juga ragu selain yang memang sendari awal tak mendukungnya, membuat kepribadian Sean seperti sekarang tak percaya dengan siapa pun jika tak memiliki bukti yang nyata akan perkataannya.


Dan tiga tahun ini Sean bisa melalui semua itu dan menstabilkan keuangan prusahaan dengan caranya sendiri, tetapi kestabilan perusahaan belum mampu menutupi kerugian ratusan Millyar dollar itu.


Yang membuat mereka para pemilik saham selalu mendesak Sean untuk di lenserkan dari jabatannya dengan melakukan berbagai cara termasuk menekannya tentang kerugian yang belum tertutupi itu.


Untuk itu Sean pun menggap undangan itu sebagai peluang besar yang dapat membuat keuntungan bagi prusaahaan, jadi dalam beberapa minggu ini ia akan sangat sibuk untuk mempersiapkan peroposal yang dapat diterima oleh target kerja samanya.


"Leo ke ruanganku segera" ucapnya begitu telpone nya tersambung


"ck, apa lagi sih" grutu Leo karena ia juga sangat sibuk Leo menjabat sebagai Direktur utama di bawah perintah sang CEO Sean Alexander Smith, selain menjadi asisten pribadinya juga, Leo memang sangat sibuk dibanding Sean karena ia memegang jabatan Direktur utama dan merangkap jadi asisten pribadi.


Leonard Alexander adalah anak dari salah satu pemegang saham di SC jadi ia tak sekedar menjabat karena koneksi dari Sean dan juga bukan semata-mata karena Ayahnya akan tetapi memang karena kemampuannya yang memadai membuatnya berada dalam posisinya sekarang.


"Brak"


"apa lagi sih" ucapnya dengan wajah yang lesu dan duduk di sofa.


"kau suda.."


"sudah" ucapan Sean dipotong oleh Leo sambil memperlihatkan tangannya, karena Leo sangat lelah dengan penyakit Sean itu walau beberapa kali ia juga merasa kasian terhadapnya.


Sean memiliki Penyakit OCD (obsessive compulsive disorder) dimana ia memiliki kecendrungan terhadap kebersihan, ini adalah salah satu kelemahan yang dapat mengancamnya makanya penyakit ini ia rahasiakan kepada seluruh orang kecuali Leo yang memang sudah mengetahuinya sejak lama.


•••