
Happy Reading
•
•
Seperti kesepakatan mereka kemarin hari ini mereka akan mendaftarkan pernikahannya di kantor catatan sipil.
Malam tadi Selin tak bisa tidur karena kelaparan sampai membuatnya begadang dan tidur pada dini hari, membuatnya belum bangun saat mata hari sudah sepenggal naik.
Sedangkan Sean yang tidak bermalam di apartemen, ia bermalam di Mansion keluarga Smith dan pagi ini ia brangkat menuju apartemennya untuk menjemput Selin.
"grandma Sean brangkat kerja dulu" ucap Sean pada grandma nya yang tengah duduk diruang tamu sambil ditemani secangkir kopi dangan beberapa kudapan.
"iya, hati-hati dijalan jangan ngebut" ucap sang grandma menasihati
"siap nyonya Smith" ucapnya keras sebelum ia memasuki mobilnya dan meninggalkan pekarangan Mansion dengan super car nya.
Dalam perjalanan menuju apartemennya Leo mengabarkan bahwa telah terjadi masalah yang serius pada anak prusahaannya yang bergerak di bidang makanan dan prusahaan itu memproduksi berbagai macam produk makanan cepat saji dimana produknya sudah sangat familiar dikalangan anak muda sekarang.
Sean pun tak jadi keapartemennya ia mengubah arah tujuannya ke perusahaan untuk membahas detail masalah pada Leo.
Sesampainya di Kantor Sean memarkir mobilnya sembarangan sambil melempar kunci mobilnya pada bawahannya yang sendari tadi mengikutinya dengan mobil lain.
Dan terburu-buru memasuki kantor tanpa menghiraukan para pegawai yang menyapanya padahal memang setiap hari ia seperti itu tidak pernah menyapa pegawainya untuk sekedar basa-basi.
Kali kedua Sean yang nampak terburu-buru yang jauh dari kebiasaannya yang tenang, santai tetapi mematikan dan sealalu bisa mengendalikan ekspresi wajahnya agar tak mempetlihatkan suasana hatinya.
Sesampainya di ruangan ia langsung menemui Leo yang menunggunya dengan beberapa dokumen yang berserakan diatas meja.
"jadi apa yang terjadi ? " tanya Sean to the point
Leo menyerahkan beberapa grafik keuntungan yang bersangkutan dengan anak prusahaan tersebut
Dimana beberapa bulan terakhir ini harusnya terjadi peningkatan pendapatan yang pantastis tetapi
Pemasukan yang dilaporkan tak memiliki peningkatan penjualan, karena grafik tiga bulan lalu sama dengan grafik bulan ini membuat Leo curiga dan melakukan beberapa tindakan
Dan terbukti benar ternyata grafik yang ia terima memang grafik palsu sedangkan grafik yang baru ini ia dapat melalui beberapa orang kepercayaan yang ia tempatkan disana untuk jaga-jaga apabila ada kasus seperti ini.
"iya, karena ide promosi yang kau usulkan menjadi sangat efektif dan itu memicu kenaikan pendapatan pada prusahaan dan terkenalnya produk kita pada para kalangan anak muda, membuatku sedikit heran dengan pendapatan yang tak meningkat selama tiga bulan padahal pengeluarannya cukup banyak"
"dan yang lebih mencurigakan beberapa pegawai yang yang menjadi petinggi di perusahaan itu memiliki aktivitas yang tak bisanya, seperti berlibur keluar negeri dan membeli beberapa barang mahal yang berharga miliyaran bukankah itu sangat mencurigakan"
"apakah orang-orang ini ingin bermain dengan Sean Smith" ucap Sean dengan dingin memainkan jarinya mengetuk-ngetuk meja kerjanya
"terima kasih, atas informasinya kawan aku akan mengambil ahli dari sini"
"jadwalkan kunjunganku besok ke prusahaan Smith Food" ucapnya lagi dengan seringai menyeramkan
"tidak usah repot biar aku yang mengursnya" ucap Leo sedikit takut melihat Sean yang tersenyum seperti itu, apalagi dia kan CEO bagaimana mungkin ia mengurus masalah seperti ini
"tenang saja aku malah tidak tenang kalau orang lain yang mengurus masalah seperti ini" uacapnya meyakinkan Leo bahwa itu tak akan mempengaruhi reputasinya yang memang sudah cacat itu.
Mengenai kata cacat ia langsung teringat dengan skandal ia dengan Selin, ia jadi melupakan Selin gara-gara para tikus tanah itu.
"jadi bagaimana dengan gosip yang kemarin ? " tanya Sean karena ia tak mengikutinya takut Ibu dan grandma nya tahu dan malah memperumit keadaan.
"aman, beritanya hanya sampai siang kemarin dan semua beritanya telah ditarik semua bahkan sebagian telah di tuntut oleh pengacaramu" Leo menjawabnya dengan mata terpejam sambil menyandarkan tubunya pada sandaran sofa, ia sangat lelah karena mempunyai banyak pekerjaan dalam setiap hari ditambah lagi harus mengurus seorang bayi besar tak lain adalah Sean.
•••
Setelah diskusi dengan Leo beberapa hal Sean pulang keapartemen untuk menjemput Selin untuk mendaftarkan pernikahan mereka dan memberitahukan beberapa hal yang harus di lakukannya selama bekerja dengannya.
"clek" pintu apartemen Sean buka perlahan tetapi suasana didalam sana sangat sunyi membutnya mengerutkan kening sambil mencari keberadaan Selin.
"clek" Selin muncul dari balik pintu kamarnya sambil membungkuk menekan perutnya dengan kedua tangan kemudian meringkis karena merasa perih pada lambungnya sampai tak memperlihatkan wajahnya yang sedikit pucat, karena dari tadi malam ia tak makan membuat penyakit maagnya kambuh.
"ada apa dengan mu" Sean tambah heran melihat Selin yang seperti orang kesakitan
"oh... Nanti kita bisa singgah di jalan untuk makan" ucapnya santai seakan itu bukan masalah buatnya
Mereka pun turun menuju lantai dasar gedung apartemen Sean berjalan di depan dengan santai sedangkan Selin hanya mengekor sambil sesekali menekan perutnya yang sakit.
"masuk" ucap Sean sedikit keras karena ia telah duduk di balik kemudi sedangkan Selin masih berdiri di sisi mobil
"kau ingin dibukakan pintu, ck mimpi saja lah" ucanya sedikit sarkas kepada Selin, Selin pun perlahan masuk kedalam super car Sean yang memang hanya terdapat dua tempat duduk tanpa membalas perkataan Sean
Selin sebenarnya bukan ingin dibukakan pintu ia hanya merasa sungkan untuk duduk di mobil Sean apalagi duduk disampingnya, bukankah ia sudah diperingatkan bahwa mereka tidak sepadan, dia hanya tau diri.
Tak lama mobil yang Sean kemudikan berhenti di salah satu restoran yang lumayan mahal jadi Selin tak pernah makan disana ini pertama kalinya ia singgah tak seperti kemarin-kemarin ia hanya mampu memandangi sambil menelan selivanya dan berdoa dalam hati agar suatu saat ia bisa makan disana dan doa itu terkabul ia makan di sini hari ini.
Kalau ia tak sakit mungkin ia sangat senang dengan mata yang berbinar serta lengkungan senyum yang lebar, tetapi kondisinya tak sebaik itu untuk menujjukkan ekspresi seperti itu.
"turun" ucap Sean pada Selin sebelum ia turun dari mobil dan masuk kedalam restoran tanpa menunggu Selin yang sedikit lamban karena sedang lemas.
"selamat siang Tuan dan Nyonya" sapa pelayan sambil menyodorkan buku menu pada Sean dan Selin
"Silahkan Anda ingin pesan apa" ujar sang pelayan lagi
"saya pesan secangkir kopi dan bubur ayam satu porsi" ucap Sean dan menyerahkan kembali buku menunya pada pelayan
"baik itu saja" tanya pelayan lagi memastikan
"kau ingin minum apa ? " tanya Sean pada Selin
"air putih saja" jawabnya sambil menyodorkan buku menunya pada pelayan dengan senyum tipis
Setelah beberapa saat pesanan mereka pun datang Sean meminum secangkir kopi sedangakan bubur yang tadi ia pesan, ia berikan pada Selin untuk dimakan, ia tahu jika sedang sakit perut harusnya memakan yang seperti bubur itu.
Ia bukan perhatian ia hanya tak ingin Selin menjadi sakit dan menghambat rencananya untuk membuat surat nikah, selain itu ia sedang banyak pekerjaan jadi alangkah baiknya jika Selin tak sakit karena jika ia sakit Sean tambah repot dan pekerjaannya akan terbengkalai.
Setelah makan Selin menjadi lebih bertenaga dan perutnya perlahan berhenti sakit dan mobil yang ia tumpangi pun meleset dengan cepat menuju kantor catatan sipil untuk mengurus surat nikah mereka
Meraka menyelesaikan beberapa urusan yang bersangkutan dengan pembuatan surat nikah sampai memakan waktu hampir satu jam dan surat yang mereka inginkan pun jadi.
Mereka kembali masuk ke dalam mobil saat mereka telah menerima surat nikah mereka, Mobil meleset membelah jalanan kota yang terlihat ramai karena telah masuk jam makan siang sedangkan Selin tak tahu Sean akan membawahnya kemana karena ini jalan yang berbeda dengan jalan yang mereka lalui tadi.
Karena merasa bosan Selin menurunkan jendela kaca di sampingnya sambil merasakan angin yang menerpa permukaan wajahnya membuatnya terpejam meresakannya dan membuat tubunya rileks secara perlahan.
Kaca jendela yang tadinya turun tiba-tiba naik dan tertutup membuat wajah Selin kaget sambil memundurkan kepalanya agar tak terjepit dan itu semua adalah ulah Sean yang tak suka dengan tingka Selin.
Selin menolehkan kepalanya kepada kearah Sean yang mengemudi dengan serius tak menghiraukannya yang memandanginya dengan marah.
"kenapa yang kulakukan di matanya selalu salah" gumam Selin
"jangan menatap terlalu lama nanti kau jatuh hati" ucap Sean tanpa mengalihkan tatapannya pada jalanan dan tak mendengar gumaman Selin.
Sedangkan Selin yang mendengar perkataan Sean pun mengalihkan tatapannya keluar jendela sambil menggerutu dalam hati.
Begitu mobil berhenti Selin memperhatikan sekeliling sambil melihat gedung perkantoran yang tinggi memjulang yang diujung atas sana terdapat tulisan besar Smith Corporation.
"turun, jangan mempermalukan saya" ucap Sean melihat Selin yang terkagum oleh bangunan kantor SC
Selin pun turun dan mengekor di belakang Sean yang memasuki kantornya dengan santai sementara Selin hanya bisa menunduk karena diperhatikan oleh banyaknya pegawai dengan berbagai ekspresi berhubung sekarang adalah jam istirahat maka para pegawai menyaksikan seorang Sean Smith membawa seorang wanita kekantornya untuk pertama kalinya.
Mereka sampai berbisik-bisik mempertanyakan wanita tersebut dan sebagian juga menganggapnya sebagai wanita yang telah melakukan kesalahan makanya Sean akan menghukumnya.
Sean yang mendengar para pegawanya yang sibuk melihat Selin pun berbalik dan menatap tajam para pegawainya.
"kalian kembali keaktivitas kalian"
"dan satu lagi dia adalah......."
Apakah Sean akan mengakuinya istri atau sebagai keluarga atau asisten pribadi
•••