
Happy Reading
•
•
Christopher berjalan memasuki kediaman keluarga Lau dengan perasaan gembira, karena ia baru saja pulang dari kencangnya bersama Xia.
"dari mana saja kau" suara Franklin terdengar dingin dari arah samping, Chris pun menoleh dan melihat sang ayah yang tengah menunggunya dengan duduk di sofa sambil melipat tanagn diddepan dada.
"ayah, kenapa ayah disana?" tanya Chris sembari mendekat dan duduk disamping ayahnya sedangkan Franklin tak menjawab Chris sama sekali hanya memandang kedepan dengan wajah datar.
"apakah kau sudah mengerjakan tugasmu dengan baik Christopher?" tanya Franklin menghiraukan pertanyaan Chris
"ayah" ucap Chris lirih, karena ayahnya mengabaikannya
"Christhopher jangan main-main dengan ayah" terdengar dingin dan penuh penekanan disetiap katanya, setelah mengatakan itu Franklin beranjak dari duduknya menuju kamarnya dan tak memperdulikan Chirs yang masih duduk disana sambil termenung.
Dulu ayahnya tak pernah dingin padanya, tetapi semenjak ia menolak permintaannya dan melarikan diri ke Tiongkok ayahnya berubah dingin dan tak pernah lagi menanykan kabarnya walau hanya basa basi, jangankan menanya kabar, sebatas senyuman saja sudah tak pernah ia dapat sampai saat ini.
Dan keputusan yang ia buat dulu membuatnya menyesal, harusnya ia menerima saja apa yang ayahnya pilihkan untuknya, tetapi ia malah menentang dan kabur, yang membuat keluarga mereka menjadi tak humoris lagi bahkan keluarga meraka terkesan dingin dan kaku.
Harusnya dulu ia memilih sekolah bisnis dari pada memgejar cita-citanya menjadi dokter dan membuat ayah dan ibunya berubah menjadi dingin padanya.
Chris pun melangkah gontai menuju kamarnya karena tak lagi merasa senang setelah menemuai ayahnya tadi ia melupakan kencan yang baru saja ia lakukan sebab mengingat semua kenangan indahnya saat keluarga mereka masih baik-baik saja dan masih hangat.
•••
Dalam apartemen Sean tengah berbaring mengistirahatkan tubuhnya yang terasa masih lemas, mungkin karena sudah dua kali ia mengalami sesuatu yang buruk, sehingga tenaganya seakan terkuras abis hanya karena reaksi tubuhnya yang berlebihan dengan sentuhan seseorang.
Sedangkan Selin sudah sejak tadi tertidur bahkan ia tak sempat mengganti baju, ia langsung mengistirahatkan tubunya yang sedang letih itu, bukan hanya tak menggati baju bahkan ia tak makan malam saking ngantuk dan letihnya membuatnya tak memperdulikan semua itu, bahkan Sean yang bermalam bersamanya di apartemen tak ia hiraukan.
Sedangkan Leo yang mencemaskan Sean, kerena tak mengangkat ponselnya pun segera menghampiri apartemen Sean, walau ia sedikit ragu, ia takut Sean marah karena ia berkunjung kemari.
"tett" Leo memencet bel pintu aparteman Sena beberapa kali tetapi tak ada respo dari pemiliknya, Leo juga sempat menghubungi ponsel Selin tetapi juga tak mendapat jawaban
Sementara Sean yang sedang lemas itu tak memperdulikan Bel yang terus berbunyi, sedangkan Selin yang tertidur nyenyak pun terbangun karena terganggu dengan bunyi yang tak berhenti itu, ia pun perlahan bangun sambil mengacak rambutnya kesal
"ck, siapa sih mengganggu saja" ucap Selin sambil berjalan menuju pintu apartemen
"clek" Selin membuka pintu dan melihat Leo yang ada di balik pintu
"ada apa pak Direktur, malam-malam kesini hoamm" ucap Selin sambil menguap dan menutup mulutnya
"Sean ada didalam?" tanyanya saat melihat penampilan Selin yang sangat berantakan, ranbut acak-acakan, kemeja yang kusut, kancing kemeja yang sudah terbuka beberapa menampilkan belahan dadanya yang terlihat malu-malu dan mata Selin yang tampak sayu, sangat berantakan tetapi masih terlihat cantik bahkan terkesan sangat menggoda iman
"khm" Leo berdehem untuk mengalikan perhatiannya dari penampilan Selin
•••
Leo berjalan menuju kamar Sean yang terlihat tertutup rapat itu, dimana kamar Sean dan Selin berseblahan kamar Sean sebelah kiri dan Selin Sebelah kanan, jadi kalau tak cermat mereka bisa saja salah lamar karena pintunya sama persis
"clek" Sean yang memang belum tidur pun menengok kearah pintu yang terbuka itu
"ada apa kemari" ucap Sean setelah tau siapa yang masuk, ia kira Selin yang salah kamar, ia sudah siap memarahinya tadi tapi ternyata Leo
"aku, cemas karena kau tak mengakat ponselmu" jawab Leo sambil duduk di sisi ranjang Sean yang kosong, Sean yang melihat itu pun langsung melotot pada Leo seakan memperingatinya untuk tidak sembarangan duduk disana.
"ck, bisakah kau tak duduk disana" ucap Sean jengkel pada Leo, Leo yang tahu Sean tak senang pun lansung beranjak dari ranjang menuju sofa yang ada di di kamar Sean.
"kenapa tak pulang ke Mansion" tanya Leo saat melihat Sean hendak kembali berbaring, mendengar perkataan Leo Sean mengurungkan niatnya untuk berbaring
"Selin tadi memegang tanganku" ucapnya tanpa memandang Leo dan tanpa menjelaskan lebih lanjut karena Leo sangat tahu kondisi tubuhnya.
"jadi, sekarang kau tak apa atau ingin kupanggilkan dokter?" tanya Leo lagi
"kau itu seperti seorang suami yang tengah megkwatiekan istrinya" ucap Sean mengejek Leo yang tampak sangat mencemaskannya
"aku baik-baik saja, jadi sekarang kau bisa pulang, karena aku ingin istirahat" setelah mengatakan itu Sean langsung merebahkan tubuhnya di ranjang sambil memejamkan matanya.
"ck, dasar teman kurang ajar" ucap Leo beranjak dari sana dan meletakkan botol obat di nakas ranjang Sean
"aku pulang" ucapnya sebelum berbalik dan Sean hanya membalasnya dengan deheman
"hm"
Leo keluar dari kamar Sean dengan pelan karena takut tau-tau ada Selin di sana, kan ia bisa menyapanya sebelum pulang, tetapi ternyata Selin tak ada diruang tamu karena ia telah masuk kedalam kamarnya sendari tadi.
•••
Pagi-pagi Selin sudah sibuk dengan dirinya sendiri karena terlambat bangun sementara jam sudah menujjukkan pukul tujuh lima belas menit tetapi ia baru selesai mandi, ia belum beres-beres, belum masak sarapan belum lagi mengurua Sean yang ada di aprtemen ini
"kau baru bangun" tanya Sean saat melihat Selin yang keluar dari kamarnya, yang masih memakai pakaian rumahan dengan rambut yang di gulung dengan handuk, membuktukan bahwa rambutnya yang masih basah
"iya bos maaf saya telat bangun" ucapnya tak enak pada Sean karena belum mebuat sarapan, ia pun bergegas kedapur untuk membuat sarapan yang simpel dan pilihannya jatuh pada sandwich dengan isi daging dan sayur.
"hanya bisa mask ini bos" ucap Selin sambil menghidangkan Sandwich nya pada Sean yang duduk di meja makan dengan stelan yang rapih dari tadi Sean hanya meminum segelas kopi dengan santai sambil bekerja dengan tablet di tangannya tanpa mempedulikan Selin yang berkutat di dapur, walau sebenarnya Selin sangat canggung karena ini pertama kalinya ia satu rumah dengan seseorang apalagi seseorang itu adalah laki-laki
"iya, kau bisa cepat kita bisa terlambat" ucap Sean dan tanpa ragu memakan sandwich buatan Selin yang di hidangkan untuknya, Selin yang mendengar perkataan Sean ia pun bergegas kedalam kamarnya untuk berpakaian rapih dan berencana membawa Sandwichnya untuk di makan dijalan atau dikantor saja
•••