
Happy Reading
•
•
Malam kian larut tetapi Selin tak bisa tidur, jadi memilih membaca novel yang tadi ia beli untuk membantunya bisa tidur dan itu sangat efektif karena ia baru membaca dua lembar ia sudah tertidur dan buku yang tadi ia baca terjatuh ke samping tempat tidur, ia tertidur dalam posisi duduk bersandar dikepala ranjang.
Sementara Sean yang baru saja melakukan negosiasi dengan Mr. Liu pun berjalan menuju kamarnya tetapi dihadang oleh Chris yang memang dari tadi menunggu Sean di dekat kamarnya
"apa yang tengah anda lakukan tuan Christopher" ucap Sean dengan dingin sambil memasukkan kedua tanggannya ke saku celananya.
"menurut tuan Sean" balasnya sambil melipat kedua tangannya di sepan dada sambil bersandar di kusel pintu kamar Sean.
"jika kau ingin bermain aku tak ada waktu, aku lagi capek" ucap Sean sambil mengurut keningnya ia berkata jujur karena sendari pagi ia telah sibuk dan ia tak pernah istirahat.
"eit tak semudah itu sepupu" sambil menahan lengan Sean yang ingin masuk kekamarnya, sementara Sean yang dipegang pun langsung bereaksi, ia menepis tangan Chris dengan keras dan menghadiakannya tatapan tajam
"oh, maaf" Chris langsung mengangkat kedua tanagnnya meyerah dengan senyum mengejek
"tapi aku hanya ingin memperingatkanmu untuk tidak menikahi putri Mr. Liu" bisik Chris dengan penuh penekanan, setelahnya ia pergi begitu saja sambil bersiul seolah apa yang berusan ia lakukan bukan apa-apa.
Sean tak ambil pusing karena yang sekarang ia butuhkan adalah istirahat dari segalanya barang sejenak saja.
•••
Di pagi hari Selin sudah sibuk di apartemen Sean, kesana kemari menyiapkan keperluannya untuk berangkat kerja, setelah merasa rapih dengan penampilannya Selin menuju ruang makan untuk sarapan roti lapis yang sempat ia buat sebelum mandi.
Selama makan Selin sesekali melirik jam tangannya takut ia terlambat masuk karena menunggu Sean menjemputnya, sebenarya ia bisa saja ke kantor sekarang tetapi kalo ia berangkat sekarang ia juga tak punya tugas karena tugas utamanya adalah membantu Sean.
"ber.." ponsel Selin bergetar di dalam tas kerjanya
"tertera disana pemilik apartemen" maksudnya pemilik apartemen sebelumnya
"halo" sapa Selin duluan karena tak mendengar suara sang penelpon
"iya, Selin bukan ? " tanya pemilik apartemen
"iya ini Selin ada apa paman ?"
"kamu pindah dari apartemenmu"
"iya, saya lupa memberitahu paman soal kepindahanku" Selin hampir lupa memberitahukannya jika saja paman pemilik apartemen tak menelponnya mungkin ia akan membayar sewa apartemen yang lumayan banyak
"tidak apa, yang penting kamu segera lunasi pembayaran yang sempat kamu tunda dan ini sudah lewat empat bulan dari pembayaran seharusnya" ucap pemilik apartemen dengan nada suara yang naik beberapa oktaf di akhir kalimatnya.
"sekali lagi Selin minta maaf" setelah permita maaf nya selesai sambungan panggilan pun terputus secara sepihak oleh paman pemilik apartemen dan itu membuat Selin tambah merasa bersalah, karena telah membuat pemilik apartemen kecewa padanya, padahal mereka lumayan dekat makanya dengan kemurahan hatinya ia memberikan kelonggaran pada Selin dan Selin malah dengan ceroboh melupakannya.
Setelah makan Selin membereskan alat makannya dan bertepatan dengan itu ada panggilan masuk dari Sean yang mengatakan bahwa ia ada dibawah menunggunya, Selin pun bergegas turun setelah mendengarnya.
"ck lama" ucap Sean begitu Selin memasuki mobilnya, Selin tak menghiraukannya karena mulut Sean memang sangat kejam, ya iyalah lama orang kita berada di lantai 14 dan tinggal satu lantai lagi untuk mencapai puncak apartemen mana mungkin bisa sampai dalam semenit belum lagi harus berjalan keluar gedung, emang dasar mulutnya minta dicabein.
"kau tak mendengarku" ucap Sean lagi karena tak mendengar tanggapan dari Selin
"maaf bos" ucap Selin alakadarnya sambil membungkukkan kepalanya menghadap Sean
"ck" Sean kembali berdecak kesal, membuat Selin menggerutu dalam hati
Mau orang ini apa sih, di diamin marah, minta maaf juga salah Selin tak habis pikir
Setelah memakan beberapa waktu akhirnya mereka sampai di perusahaan seperti kemarin Selin hanya mampu mengekor di belakang Sean sambil menunduk.
Dari penampilan Selin memang sangat cantik tetapi karena ia tak punya kepercayaan diri makanya banyak yang tak melihat kecantikannya, seperti sekarang ia memakai pakaian kantor dengan celana panjang kulot berwana coksu dan ia memakai atasan kemeja putih yang memiliki lengan seperempat, tas kantor berwarna hitam tak lupa dengan anting emas putih yang selalu ia pakai yang simpel yang cocok ia pakai di segala pertemuan, eh satulagi jam tangan merek rolex yang diberikan oleh temannya saat ia berulang tahun, dengan warna strap coklat dipadukan dengan warna kulitnya yang sangat putih membuatnya terlihat sangat indah dengan kombinasi pakaiannya.
Sesampainya di ruangan Sean, Selin segera menyimpan tas kerjanya, lalu pergi membuatkan kopi untuk Sean, untuk beberapa hal kecil Selin telah menanyakannya pada Leo mengenai kebiasaan Sean dan semua yang di suka dan tidak di sukanya pun telah Selin catat di dalam memori otaknya.
"ini bos" ucap Selin sambil meletakkan kopi pada meja Sean, sementara Sean hanya memberinya isyarat untuk menarunya di situ saja, karena ia tengah melakukan panggilan telpon
"cari informasi mengenai Mr. Liu" ucap Sean pada bawahannya yang memang ia tugaskan melakukan urusan yang bersifat rahasia
"maaf bos tetapi R sedang tidak ada" ucap bawahan Sean yang mengatakan informan mereka tengah cuti kerja dan semua bawahannya ia namai dengan satu huruf untuk mengingat namanya.
"ck baiklah" Sean mengakhiri penggilannya sambil memijat keningnya berfikir
Selin yang mendengar Sean mau mencari informasi rahasia dari seseorang, pun mendekat bisa saja kemampuannya berguna disini pikirnya.
"bos sedang mencari informasi rahasia tentang seseorang" tanya selin begitu ia telah berdiri tak jauh dari Sean
"kau tak usah ikut campur" ucap Sean kembali duduk dan menyesap kopi buatan Selin
"saya bisa bos, dulu saat sekolah saya sempat belajar programan dan ilmu Cyber" Selin tak ingin kalah kali ini karena sudah beberapa kali ia menawarkan jasanya pada orang tapi tak ada yang mau, kali ini ia tak ingin mundur.
Dulu saat sekolah menegah pertama ia sudah belajar mengenai dasar-dasar komputer oleh seorang guru yang membimbingnya sampai ia mahir ia pun melanjutkannya dengan programan dan di tingkat sekolah menengah atas Selin belajar tentang Cyber oleh salah satu temannya sampai ia lulus sekolah, belajar tentang komputer dengan segala yang berkaitan dengannya merupakan hobi yang tak banyak orang tahu, meski setelah lulus ia mencari pekerjaan yang bisa merekkrutnya tetapi ia tidak memdapatkannya karena ia tak punya bukti fisik seperti sertifikat atau ijaza yang berkaitan dengan ilmu yang ia dapat makanya ia tak bisa bekerja dengan ilmunya itu.
"baiklah kita lihat sampai mana kebolehanmu" ucap Sean sambil tersenyum miring melihat Selin yang tampak bersemangat
•••