
Happy Reading
•
•
Di siang yang terik Selin mengayuh sepedanya menuju restoran L’Assiette tempat ia bekerja beberapa bulan ini, Restoran ini adalah salah satu Restoran Prancis terenak yang ada di negara ini.
Restoran yang terbilang besar yang memiliki empat lantai dan aksitektur bangunan yang khas akan nuangsa Negara Prancis tak hanya itu chef dan staf dapurnya memang orang Prancis asli bahkan pemilik Restoran juga orang Prancis jadi tak heran jika kebanyakan stafnya adalah orang Prancis.
Makanya Selin merasa sangat bruntung bisa bekerja disana walau hanya pekerja paruh waktu tetapi ia sangat menikmati pekerjaannya disana karena ia diperlakukan dengan baik sebab ia adalah salah satu penduduk lokal dari beberapa penduduk lokal yang bekerja disana.
"tring" bunyi lonceng yang dipasang di atas pintu berbunyi saat Selin masuk melalui pintu belakang Restoran.
Nampak disana para chef sibuk dengan hidangan mereka masing-masing sedangkan kepala Chef sibuk mengoreksi hidangan para bawahannya yang akan langsung disajikan kepada pelanggan.
Setelah mengganti pakaian Selin segera ke tampat pencucian piring dan melakukan tugasnya dalam diam, kerena para staf dapur sedang sibuk jadi mereka tak bisa saling menyapa atau sekedar basa-basi.
"tak..tak.."
"cisss..."
"ting..ting" kebisingan dalam dapur sangat terasa karena ini masih jam makan siang makanya pelanggan membludak.
•••
"Silahkan pak" ucap salah satu karyawan yang bekerja di bidang merketing, membawa secangkir kopi pada Sean, karyawan tersebut tengah keringat dingin saat membawakan secangkir kopi pada meja Sean karena takut membuat kesalahan, disebabkan Sean terkenal sangat kejam dan tak mentolerir kesalahan sekecil apa pun.
"tak.. Tiring.." ternyata yang di kehwatirkan karyawan tersebut pun terjadi karyawan tersebut tak sengaja menyentuh tangan Sean yang sedang ia letakkan di meja dan reaksi Sean adalah menarik tangannya selanjutnya ia membanting gelas kopi itu dangan keras kelantai
Dan itu membuat suasana rapat yang tadinya serius tiba-tiba menjadi begitu tegang karena kelakuan seorang Sean yang tak biasa
Menurut mereka tanggapan Sean sangat berlebihan kenapa harus membanting gelas segala, sangat kekanakan.
Perlakuan seperti inilah yang membuat mereka pada membenarkan gosip yang mengatakan bahwa Sean itu seorang Gay atau memiliki penyimpangan seksual.
Karena setiap ia dekat dengan perempuan mereka melihat Sean yang memiliki respon yang berlebihan, padahal yang mereka tidak tahu adalah bukan hanya perempuan, siapa pun itu Sean akan merasa sangat tak nyaman.
"Brak" Sean memukul meja dengan keras membuat para staf disana terkejut termasuk sang karyawan yang tengah keringat dingin disampingnya sampai tak berani mengangkat kepalanya.
"Leo! urus dia!" ucap Sean melangkah keluar dari ruang rapat meninggalkan semuanya begitu saja.
"maaf CEO sedang tak enak badan, jadi rapat ini dapat dilanjutkan setelah jam makan siang, kalian bisa istirahat dulu"
"dan kamu ikut saya" ucapnya kepada Rea sang karyawan yang entah bagaiman nasibnya sekarang.
"saya jadi kasian kepada Rea" ucap Direktur perencanaan merasa bersalah karena memang ia bersangkutan dengan apa yang terjadi sekarang, sebab sebenarnya ialah yang menyuruh Rea untuk menyiapkan kopi untuk CEO kali ini, yang biasanya melakukan itu adalah staf dari bagian prencanaan.
"iya padahal ini hari pertamanya mengikuti rapat penting seperti ini" ucap Direktur Pemasaran yang mengajak Rea ikut rapat kali ini
Mereka pun bubar untuk istirahat makan siang dengan pikiran mereka masing-masing akan kejadian barusan
Di ruangan yang luas itu berdirilah Rea sambil memunduk tak berani menatap Direktur utama yang tengah duduk di meja kerjanya yang di penuhi dokumen yang terbuka dua layar komputer yang memperlihatkan laporan dan presentase yang berbeda
Tak lupa pula dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya yang entah sejak kapan ia pakai, ia telah memggalkan jas kerjanya menyisahkan kemeja putih yang kedua lengannya ia gulung sampai siku memperlihatkan lengannya yang kekar dan dasi yang tadi begitu rapi entah dimana ia berada sekarang, penampilan Leo ini bukannya membuat ketampanannya berkurang itu malah membuat ketampanannya makin bertambah.
Rea yang sendari tadi berdiri pun merasa heran dengan Leo yang tak menghukum atau memberitahukannya sesuatu, apakah hukumannya harus berdiri disini sepanjang hari.
Rea bukan tak menghiraukan ketampanan Leo tapi ia lebih fokus bada pekerjaannya tak seperti para karyawan yang lain yang suka menjilat atau mendapatkan jabatan tinggi dengan diam-diam menjadi simpanan atasan yang berkuasa.
Ia memang tergolong pintar dan termasuk cantik bahkanbtak jarang atasan mereka merayunya agar ia menjadi wanita simpanannya tapi Rea selalu menolak dengan sopan selama itu masih dalam tahap yang wajar tetapi jika ia telah melewati batas atau sampai melecehkannya ia tak akan segan untuk melawan.
•••
Sementara Sean setelah keluar dari ruangan rapat ia terburu-buru menuju ruangannya bahkan tak menghiraukan para karyawan yang menatapnya takut sekeligus heran, karena tak biasanya Sang CEO berjalan terburu-buru, biasanya ia jalan lamban seakan-akan setiap langkanya begitu bermakna.
"jangan biarkan siapa pun masuk!" ucap Sean pada sekertarisnya
"baik pak"
"brak" ia pun membanting pintu ruangannya agar segera tertutup, ia melucuti jas dan pakaiannya tergesa dan melemparkannya sembarang sambil berjalan menuju kamar pribadinya yang ada di balik rak buku.
"cesss" ia pun masuk ke kamar mandi untuk mandi dan membersikan badannya yang terasa sangat kotor baginya.
Setelah membasu dan menyabuni badannya beberapa kali ia pun keluar dengan menggunakan handuk di pinggangnya sambil berjalan bertelanjang dada yang memperlihatkan perutnya yang bagaikan batu bata yang tersusun rapi tak lupa dengan lengan dan bahunya yang berotot dan jangan lupakan rambut basahnya yang membuat para wanita menjerit melihat penampilannya sekarang.
"tut...Leo bawakan aku baju ganti" Sean tengah menelpone Leo untuk memberinya pakain ganti sambil menatap gedung seberang yang tak jauh dari prusahaan SC, perusahaan itu adalah LSC (Lau Sien Corporation )perusahaan yang tengah bersaing dengan SC
Walau sekarang mereka bersaing tetapi saat pertama kali mereka merintis usahanya mereka adalah sahabat yang saling bekerja sama dalam membangun bisnis mereka tetapi karena masalah pribadi kedua perusahaan itu kini saling bersaing untuk menjadi yang nomor satu.
Tak hanya karena itu LSC juga mempunyai masalah internal keluarga dimana mereka saling memperebutkan tahta perusahaan itu karena Tuan Lau Sien mempunyai banyak anak sedangkan anak pertama mereka tiga tahun lalu juga mengalami kecelakaan yang sama dengan kedua orang Tua Sean yang menyebabkannya mati ditempat.
Kecelakaan yang mengandung banyak misteri yang sampai sekarang belum terpecahkan oleh Sean karena menurut kepolisian itu hanya kecelakaan biasa.
Tetapi menurut Sean itu bukan hanya kecelakaan biasa pasti ada konspirasi di baliknya entah itu dari pihak LSC atau dari keluarga SC sendiri sampai kini ia belum menemukan titik terang karena sekarang yang paling utama yang ia lakukan sekarang adalah memperkuat kekuatannya dalam perusahaan agar tidak bisah diganggu gugat lagi oleh pihak mana pun.
Apalagi sekarang kursinya sekarang sedang rawan walaupun ia telah menstabilka keuangan perusahaan, tetapi pencapaian itu seakan tak ada artinya bagi para pemegam saham sialan itu.
"tok..tok" ketukan pada pintu kamar rahasianya yang hanya Leo yang tahu bahwa dibalik rak buku itu ada pintu maka yang mengetuk itu tak lain adalah Leonard.
"clek" pintu pun terbuka dari dalam
"ini" Leo sambil menyodorkan paper bag pada Sean yang tengah berdiri didepannya.
Leo langsung merebahkan tubunya pada kasur king saiz yang ada di tengah ruangan seakan ia telah terbiasa dengan ruangan itu.
"ck" Sean berdecak melihat Leo yang seenaknya sendiri merebahkan dirinya sembarangan yang terlihat sangat kotor itu didepannya.
"sebentar saja" ucap Leo yang tengah terpejam tanpa melihat raut wajah Sean yang seakan ingin menendang Leo sampai ke kutub utara.
Karena malas meladeni Leo, Sean melanjutkan kegiatannya untuk berpakain, ternyata pakaian yang Leo belikan adalah pakaian kemeja putih dengan celana serta jas yang berwarna maroon yang senada.
Tak lupa dengan pantofel hitam yang terliat mengkilap melengkapkannya tetapi bukannya memaki semua itu Sean menyimpan kembali jasnya dan hanya memakai kemeja putih yang ia gulung sampai siku memperlihatkan tangan kekarnya, membuka du kancing teratas bajunya dan memperlihatkan dadanya yang bidang
Sean menambahkan aksesoris jam tangan Rolex yang mempunyai harga yang pentastis yang membuat para mata wanita berbinar-binar melihatnya, ia menambahkan pomade water based untuk merapikan rambutnya.
Walau ia dari keluarga kolongmerat ia tak pernah dilayani oleh pelayan untuk hal pribadinya, karena penyakit OCD nya itu.
Ia mengidap OCD karena sebuah tragedi yang terjadi di kediaman Smith dimana saat itu ia masih seorang tuan muda keluarga Smith yang manja, karena tragedi itu ia mulai merasa sangat terganggu dengan sesuatu yang kotor sampai beranjak dewasa ia melihat semua orang terlihat kotor dimatanya dan mulai saat itu ia tak lagi bisa bersentuhan dengan seorang pun sebelum ia benar-benar melihatnya membersihkan diri.
Dan itu tidak diketahui oleh keluarga Smith karena selama ini mereka menggap Sean hanya tumbuh sebagai anak manja yang sombong karena tak ingin melakukan kontak fisik pada orang lain seakan-akan ia itu seorang pangeran yang harus diberi hormat.
"hay, ayo" ujar Sean sambil melempar bantal pada kepala Leo yang membuat Leo refleks bangun
"ayo" ucapnya lesu, baru beberapa menit ia istirahat padahal
Mereka berdua pun keluar dari ruangan CEO berbarengan sekan akan mereka slow motion dengan penampilan yang Err..... Membuat para karyawan yang tengah melihatnnya tersipu dengan ketampanan Sean dan Leo
"Woy..! Kembali bekerja" ucap Leo menepuk tangannya sambil menyuruh mereka kembali bekerja, dasar siperusak suasana ujar salah satu dari mereka.
•••