Selin I'M Not Cinderella

Selin I'M Not Cinderella
Dubai



Jangan lupa ⚠️


like👍


Komen💬


Salam dari Author🙏😃


Happy Reading




Seperti yang mereka rencanakan, setelah lima hari berlalu dengan segala kesibukan mempersiapakan leberangkatan mereka ke Dubai, mereka pun mengudara dengan jet pribadi milik keluarga Smith.


Tampak Leo sedang menjelaskan tamu kehormatan yang akan mereka temui disana dan beberapa klien yang akan mereka ajak kerja sama, kepada Selin yang duduk si sampingnya sedangkan Sean yang duduk di depan Selin tengah santai sambil memejamkan mata dengan tangan yang terlipat di dada.


"ini adalah Paman Franklin ia dalah menantu keluarga Lau yang sekarang mempunyai perusahaan sendiri yang telah bergerak di bidang teknologi, tetapi perusahaannya masih terbilang menengah kebawah karena ia belum bisa bersaing dengan SC" ucap Leo tapi terkejut saat melihat profil Mr. Franklin Smith, semua informasi mengenai Franklin, termasuk istri dan anaknya dan informasi yang sangat mendetail, langsung muncul beberapa saat setelah Leo mengucapkan namanaya di proyekyor yang memyala, Leo langsung menegok kesamping melihat Selin yang tengah mengetik di laptop yang ada di pangkuannya.


"kau mengerti ilmu Cyber" ucap Leo terkejut melihat kemampuan Selin, ia tak menyangka Selin ternyata memiliki kemampuan yang spesial karena setahunya perempuan ini hanya mahasiswa biaya siswa dan itu pun ia tak lulus karena terkendala masalah biaya


"hehe bisa sedikit direktur"ucap Selin sedikit merendah karena ia tahu kedudukannya di mata orang yang berpendidikan


"ck, kalau begitu kau bisa mempelajarinya sendiri" ucap Leo dengan Senyum


"ini daftar nama yang harus kau ketahui" ucapnya menyodorkan tablet pada Selin


"baik direktur" ucap Selin menerima


"aku ingin istirahat dulu" Leo langsung pergi belakang dan menutup tirai, karena di sana memang ada sebuah kasur yang lebih nyaman ditempati tidur.


Tinggallah sekarang Selin dan Sean di ruangan itu tetapi Selin tetap asik sendiri karena Sean pun tengah tertidur di kursi yang teretak didepan Selin.


"tak..tak.." bunyi sentakan kyboard yang terdengar bersahutan dengan bunyi pesawat Jet karena hanya itu yang terdengar di dalam pesawat, pesawat sekan sunyi mendengar sentakan Keyboard laptop Selin


"khm" Sean berdehem saat melihat Selin yang masih fokus untuk mempelajari para klien yang akan mereka temui


"eh, ada apa bos" tanya Selin saat mendengar deheman Sean


"minum" ucapnya sambil memegang lehernya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur


"iya, bos tunggu sebentar" Selin pun meletakkan Laptop yang ada di pangkuannya di tempat duduk di sampingnya sebelum mengarah kedapur pesawat, yah... Memang mereka mengudara tanpa pramugari karena Sean tak suka, Sean tak ingin mereka membuat kesalagan dan membuat ia celaka maupun membuatnya kesal dengan mereka. Apalagi ia akan melakukan pertemuan penting jadi ia tak bisa sakit dalam waktu dekat ini, ia harus selalu sehat dan fit


Beberapa jam mereka mengudara mereka pun sampai di bandara, dengan beberapa urusan di sana mereka pun melanjutkan perjalanan menggunakan sopir pribadi yang memang ikut kesana tetapi dengan pesawat berbeda tentunya.


Dan ini pertama kalinya Selin ikut dalam mobil yang sama dengan Sean tetapi mobilnya disopiri dengan sopir pribadi.


"hm" jawab Sean singkat karena ia sedang mengecek pekerjaannya melalui tablet miliknya, Selin yang melihat itu, merasa capek padahal ia hanya melihat bagaimana dengan Sean yang setiap hari melakukan itu, Sean seakan tak tahu tempat ia akan setiap saat mengecek seluruh pekerjaan yang bersangkutan dengan SC jadi ia samgat sibuk.


Tak sampai di sana ia bahkan jarang tidur sejak ia menjabat sebagai CEO, apalagi jabatan yang ia pengang sedang rentan jadi ia bekerja mati-matian untuk mempertahankan tempat yang di wariskan ayahnya, yang telah meninggal secara teragis.


Karena sibuk dengan prusahaan ia belum bisa mencari secara mendetail kejadian yang menimpah kedua orang tuannya, yang kemungkinan besar merupakan campurtangan seorang musuh.


Karena selama ini ia telah mendapat beberapa bukti bahwa kecelakaan itu bukan sebuah kecelakaan bias tapi ada sebuah konspirasi di baliknya yang belum bisa ia ungkap.


•••


Disinilah mereka sekarang di dalam kamar hotel yang mereka pesan terpisah, tetapi kamar untuk Sean dan Selin tetap sama, karena mereka disini sebagai Suami Istri.


"clek" Sean keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah, berjalan santai melewati Selin yang tampak duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya


"mandi sana" ucap Sean sambil melempar handuk kecil di tangannya kepangkuan Selin


"eh" Selin terkejut langsung mengabil handuk itu dan berjalan kekamar mandi tanpa membantah, karena memang sendari tadi ia sudah ingin mandi, tetapi Sean yang mandi lebih dulu jadi ia hanya bisa menunggu


"clek" tak berselang lama Selin pun keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai seperti saat di apartemen.


"kau bisa istirahat disini" ucap Sean melangkah keluar dari kamar itu tanpa memberi tahu akan kemana


"ck, di itu selalu saja seenaknya sendiri" ucap Selin membanting tubuhnya ke atas ranjang yang luas itu, karena ia sangat letih ia pun tertidur sangat mudah bahkan saat lampu belum ia matikan padahal kalau di waktu biasa ia tak bisa tidur saat terang seperti sekarang.


Berbeda dengan Selin, Sean keluar dari kamar Selin menuju kamar Leo yang ada di samping kamarnya, ia tak bisa tidur dengan Selin karena ia takut Selin menyentuhnya


"tok..tok.." Sean mengetuk pintu kamar Leo


"clek"


"ada apa" tanya Leo dengan wajah yang mengatuk, matanya bahkan masih terpejam didepan Sean


"aku tidur disini" ucpa Sean langsung menerobos masuk tanpa permisi pada Leo sama sekali


"ck, Sean kurang ajar, sehari saja kau tak mengganguku bisa tidak sih" ucap Leo marah dengan wajah yang telihat lesu karena capek


Sementara Sean seakan tak mendengar perkataan Leo yang komplain dengan sikapnya yang seenaknya sendiri, ia berbaring dengan santai di sisi kanan ranjang Leo dan memejamkan mata dengan santai tampa melirik pada Leo yang masih terus memgomelinya.


"ck, percuma saja ngomong denganmu, sampai mulutku berbusa pun kau tak mendengarnya" Leo mengambil bantal yang ada di ranjang itu sambil mengambil selimut di lemati yang di sediakan, ia memilih tidur di sofa ruang tamu, dari pada harus tidur dilantai, karena ia tak mungkin tidur diatas kasur bersama Sean si penyakitan itu, si tuan paling bersih itu.


Leo benar-benar jengkel dengan Sean setiap ada perjalanan bisnis seperti ini, apalagi jika Sean memesan kamar hanya satu dan itu ditempati untuk mereka berdua, walau ia pesan kamar satu minimal pesan kamar yang dual bed gitu biar ia bisa tidur nyenyak diatas kasur, tetapi itu hanya mimpi belaka karena selama ini Sean tak perna menuruti permintaannya itu.


•••