
Happy Reading
•
•
"hari ini CEO Liu akan datang berkunjung" ucap Selin membacakan agenda Sean hari ini, sambil berdiri memegang tablet ditanagnnya.
Sementara Sean hanya mendengarkan sambil menanda tangani berkas yang kemarin belum sempat ia lihat sebab menemani ibunya dirumah.
"iya, kamu bisa bekerja sekarang menjadi informan jika saya membutuhkan" ucap Sean tanpa mengalihkan tatapannya pada berkasnya
"benarkah, terima kasih" Selin langsung tersenyum lebar karena akhirnya ilmunya bisa berguna juga
"ck, kau ribut sekali" ucap Sean sambil mengusap kupingnya seakan memang suara Selin sangat mengganggu pendengarannya, Selin yang mendengar itu hanya mampu mendengkus dan pergi dari sana sebelum kena marah lagi
"kau ingin kemana" tanya Sean dengan marah dan merasa di abaikan oleh Selin, padahal ia adalah atasannya
"buat kopi untuk bos" ucap Selin dengan wajah datar, ia sudah sangat capek dengan sikap Sean yang marahnya bertambah menjadi setiap saat.
"pergi sana cepat"
•••
Ini adalah hari pertama Chris masuk kerja di perusahaan SC, bukan hanya pertama kali kerja ini juga hari pertamanya ia masuk keperusahaan ini sebab dari dulu ia tak suka dengan bisnis, lagi pula ayahnya tak pernah bekerja disini jadi ia pun tak ada kepentingan kesini walau sekedar berkinjung.
Tetapi karena sebuah perjanjian yang ia buat dengan sang ayah ia pun harus menuruti syarat dari ayahnya yaitu, belajar bisnis dari sini.
"tuan Chris, ini ruangan anda" ucap salah satu pegawai yang bertugas mengantarkannya, Chris hanya merespon pegawai itu dengan anggukan
Chris memulainya dengan jabatan Manager Marketing di sini walau memulai dengan posisi ini Chris pun merasa sulit dan berat melalui ini semua.
Walau sempat belajar bisnis di Tiongkok sebelum pulang kemari tetapi itu masih membuatnya ragu sebagai seorang pemula, apalagi ia langsung berada di posisi ini, jika dipandang dari segi keluarga posisi ini sudah paling rendah untuknya, tetapi ia tak bisa menerima jika jabatan di atas ini.
Ia seakan di ikut sertakan wajib militer oleh ayahnya dengan memasukkannya kedalam perusahaan Grandma ini.
Walau ia telah tau bahwa ia tak mungkin bisa mengalahkan Sean jika masalah bisnis tetapi ia tak ingin membuat ayahnya kecewa, dengan semangat yang ia punya ia yakin bisa berada atau setidaknya setara dengan Sean
Chris duduk termenung di hari pertamanya bekerja ia banyak berfikir dan ingin memulainya dengan apa, sebab selangkah saja ia membuat kesalahan, bisa menjadi membuat ayahnya malu.
Saat ayahnya menyuruhnya sekolah jurusan bisnis dan semacamnya ia langsung menolaknya dengan keras dan kabur ke Tiongkok sebagai protes ia kepada ayahnya tetapi setelah beberapa tahun ia pun tetap tak bisa menolak permintaan ayahnya itu, walau ia tak senang melakukannya.
•••
"clek" Leo masuk kedalam ruangan Sean dengan pelan takut jika melihat pemandangan seperti kemarin
"ada apa" tanya Sean karena melihat Leo yang seperti seorang maling yang menegndap-ngendap
"kau tau tidak, Chris masuk kerja hari ini" tanya Leo sambil duduk di atas meja Sean, Sean yang melihat itu langsung melotot dan mendorong pantat Leo menggunakan papan namanya yang terbuat dari kaca yang tebal itu.
"iya aku sudah tau" jawab Sean setelah berhasil mengusir pantat Leo dari mejanya, Sean kembali memyusun papan namanya di tempatnya kembali dengan rapih dan pas denga tempatnya tadi sambil mengambil tisu dan melap bagian yang tadi di duduki Leo
"kau mungkin yang pikun" ucap Sean ketus, karena Leo suka membuat ia marah karena selalu membuat kesalahan jika ia datang menemuinya dan selalu merecokinya dengan sesuatu yang kotor, sudah tahu bahwa ia tak bisa dengan sesuatu yang kotor malah sengaja melakukannya.
"Selin kemana" tanya Leo saat tak menemukan Selin dari pertama ia masuk ruangan Sean
"kenapa mencarinya" dengan heran sambil menaikkan alisnya sebelah
"ciee yang cemburu ada yang menanyakan istrinya" Leo menggoda Sean lagi
"ck" Sean bedecak kesal dan mengubah ekspresinya menjadi datar
" Sean bukannya tuan Liu datang hari ini untuk kontrak kerja sama yang kemarin" tanya Leo dengan muka yang kembali serius
"iya"
"jadi, apa rencanamu, kau tak mungkin menikahi anaknya bukan" tanya Leo memastikan takut Sean mengabil keputusan gegabah
"tidak"
"jangan sampai kau menikahinya dan melupakan Selin yang sekarang adalah istrimu walau hanya diatas kertas, tetapi tetap saja kau itu sudah beristri" Leo menjelaskan karena bisa saja Sean melupakan pernikahan mereka yang telah terdaftar di negara sebagai suami istri
"iya, aku tahu, kau ini mau apa sebenarnya" Sean pusing dengan pekerjaannya yang begitu banyak tetapi Leo datang merecokinya membuatnya tambah pusing
"Sean aku hanya ingin mengingatkan bahwa kerjasama kali ini tak boleh gagal, Liu adalah kekuatan yang kuat setidaknya ia bisa menambah akar pada pohonmu agar tak mudah goyah hanya karena di terpa angin" lanjut Leo dengan serus
"iya, itu sudah pasti" jawab Sean tak kalah seriusnya
"tunggu saja hasilnya nanti" lanjut Sean dengan penuh kepercayaan diri, untuk rencananya kali ini walau mungkin sedikit memiliki kemungkinan akan di tolak, tetapi ia harus tetap optimis.
"clek" Selin masuk sambil membawa kopi dan makanan siang untuk Sean, yang memang sempat Sean pesan saat Selin berada diluar untuk membelikannya kopi.
Kedua orang yang tadi sangat serius itu langsung mengalihkan tatapannya pada Selin dengan pandangan yang berbeda, Leo melihat Selin yang membawakan makan siang untuk Sean itu tersenyum jahil sedangkan Sean melihat Selin dengan raut datar.
Tapi yang pasti Selin tahu Sean akan memarahinya lagi dengan alasan yang ia buat-buat, sebab ia sudah melakukannya dengan cepat tetapi tetap saja memakan waktu karena restoran tempat Sean memesan makanan lumayan jauh dari perusahaan ini.
"ciee yang di beliin makan siang oleh istri tercinta" celutek Leo mendahului Sean yang ingin marah pada Selin, Sean yang mendengar perkataan Leo langsung melempar bantal kursi ke kepala Leo dan itu tepat sasaran mengeninya
"diam kau" geram Sean
"ampun bos bwhahaha" Leo pun terbahak kencang melihat wajah Sean yang murka, tak ingin mendapak amukan Sean Leo lari terbirit-birit sambil menutup mulutnya menahan ketawa yang ingin menyembur keluar.
Selin yang melihat itu hanya mampu menggelengkan kepala pelan, kelakuan mereka seperti anak kecil.
"ini bos silahkan" ucap Selin setelah memyajikan makanan Sean di atas meja
Sean yang tadi ingin marah pada Selin melupakan niatnya karena ia sudah sangat lapar
•••