Selin I'M Not Cinderella

Selin I'M Not Cinderella
Kesepakatan



Happy Reading




Seperti rutinitasnya sehari-hari Selin tengah mengayuh sepedanya menuju Bar karena telah melakukan tugasnya di Restoran hari ini dan malam ini ia kembali ke Bar karena besok akhir pekan ia tak masuk kerja, sebab dalam seminggu bekerja ia dapa hari libur pada hari minggu.


Beberapa meter lagi ia samapai di Bar beberapa mobil menghadang jalannya dan dibalik pintu mobil keluar beberapa pria yang berbadan kekar dengan stelan serba hitam yang membuat Selin ketakutan.


Apalagi ini sudah malam hari dan jalanan tumben sekali sangat sepi membutnya tak bisa meminta tolong pada siapa pun.


"Siapa kalian ? " tanya Selin saat mereka jalan mendekat padanya


"apa yang ingin kalian lakukan ? " tanyanya lagi karena pertanyaan sebelumnya tak direspon mereka


"Nona tak perlu takut, Nona hanya perlu ikut dengan pasrah maka kami tak akan menyakiti anda Nona"


"Ap..a" ucapnya terbata


mereka pun segera membukakan pintu mobil untuk dinaiki Selin dengan sopan dan menuntun Selin masuk dengan lembut


Sedangkan Selin merasa heran dan sedikit canggung karena diperlakukan seperti ini ia mengira para pria tadi adalah sekelompok penculik yang ingin menjual organ para korbannya.


Apalagi mobil yang ia tumpangi adalah mobil super car yang dimana harganya dinilai fantastis sampai membuat Selin takjub karena ini pertama kalinya ia menumpangi mobil dengan harga yang tak mampu ia dapatkan seumur hidupnya.


Dalam perjalanan yang hening itu membuat Selin mengantuk dikarenakan sangat lelah bekerja seharian ini, apalagi mobil yang ia tumpangi sangat nyaman sampai tak sadar ia pun tertidur dan melupakan bahwa ia dibawah oleh orang yang tak dikenalinya.


Ck..ck..Selin...Selin.. Bisa-bisanya dia begitu tenang sampai tertidur dengan nyaman dan melupakan keadaannya sekarang *Author


Beberapa menit kemudian mobil yang Selin tumpangi pun sampai pada tujuan, yaitu gedung tempat Aparteman Sean berada


"Bos Nona Selin tertidur" lapor sang pengawal yang tadi membawa Selin kepada Sean yang berada di lantai atas Apartemennya.


"akat saja dan jangan membangunkannya" ucap Sean, setelah menutup panggilan Sean bingung dengan perintahnya sendiri biasanya ia tak pernah lebut dengan seseorang apalagi yang bersangkutan dengannya seperti ini, tak hanya ini bahkan saat menyuruh menjemput Selin tadi ia juga memperingatkan bawahannya untuk tak menyakiti Selin, ia sangat bingung dengan dirinya.


apakah ia suka dengan perempuan itu, tapi masa ia suka dengannya sementara mereka baru bertemu sekali itupun dalam keadaan setengah sadar, kalau begitu mungkin ia kasihan kesanya karean tak punya orang tua dan hidup sebatang kara pikir Sean


Kemungkinan terbesarnya adalah aku kasihan padanya dan sedikit bersimpati padanya pikir Sean sekali lagi dengan pasti.


Tak beselang lama para bawahan Sean pun sampai didepan pintu apartemen Sean dengan membawa Selin di gendongannya.


"tok..tok.."


"masuk" ucap Sean sambil mrmbukakan pintu dan menyuruh sang bawahan membawa Selin masuk sambil meletakkannya di sofa ruang tamu.


"kalian boleh pergi" ucap Sean begitu melihat Selin yang masih tertidur dengan pulas tanpa terganggu dengan keadaan sekitar.


"baik bos kami permisi" ucap para bawahannya sambil membungkuk


"ayo"


•••


"kau sudah bangaun ? " tanya Sean berjalan menuju sofa singgel dan duduk disana dengan santai sementara Selin yang memang sudah mengenal wajah Sean yang telah memenuh surat kabar hari ini pun sedikit terkejut.


"maksud anda saya dari tadi berada disini ? " tanya Selin tak yakin dan merasa malu karena tertidur di rumah orang asing


"yah" ucap Sean santai sambil mengedikkan bahunya acuh


"tidak perlu basa-basi langsung saja tandatangani ini" Sean pun menyodorkan sebuah dokumen kepada Selin


Sedangkan Selin merasa bingung pun menerimanya dan membaca dokumen itu dengan hati-hati bukan apa, bisa sajakan itu dokumen persetujuan untuk menjual organ dalamnya tanpa ia baca pasti ia harus bertanggung jawab ih...geri


"ini maksunya apa ? " tanya Selin tak percaya isi dokumen tersebut, dengan tatapan syok Selin memandang Sean dengan mata yang membulat membuat warna coklat matanya terlihat jelas dibawah lampu dengan bulumata lentik membuatnya seketika terlihat begitu mempesona.


"khm" Sean berdehem untuk mengalihkan perhatiannya


"yah begitu, bukankah itu mudah dari pada bekerja part time di beberapa tempat sampai larut malam" ucap Sean tenang sambil memandang santai pada Selin seakan-akan memang itu hal yang mudah


"tapi kenapa kita harus membuat surat pernikahan segala" ucap Selin tanpa sungkan karena merasa Sean yang sedikit bersahabat walau ia pernah dengar Sean adalah orang yang kejam


"itu hanya untuk jaga-jaga"


"kau tak perluh menjadi istri sungguhan, cukup menjadi asisten pribadi, tetapi disaat tertentu kau harus menjadi seorang istri, bagaimana ? " Sean menyesap kopinya dengan santai sambil menunggu respon Selin


"bisa memberi saya waktu untuk berfikir ? " sambil memandang Sean penuh harap


"tidak bisa dan saya tak menerima penolakan" ucapan Sean berubah serius dengan mimik muka yang penuh intimidasi


Kalau seperti ini dari tadi tidak usah menanyakan pendapatku kalau ujung-ujungnya hanya bisa pasrah. Selin pun menandatanganinya dengan sekejab dengan mimik wajah yang muram karena marah kepada tuan Smith yang tengah menatap dengan senyum puas.


"puas" dengan suara yang rendah tapi masih bisa ditangkap oleh Sean


"jangan ngelunjak Nona Selin, kau menikah denganku hanya sebatas pekerjaan jadi jangan menganggap dirimu setara denganku" ucapnya karena merasa ia terlalu lembut pada anak satu ini


"kau bisa tidur di kamar itu" tunjuknya pada kamar tamu yang ada diapartemennya


"dan jangan lupa besok kita akan ke catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan kita" setelah mengatakan itu Sean pun menunggalkan Selin yang masih duduk diruang tamu


"kenapa hidupku jadi seperti ini sih" gumam Selin meratapi nasibnya yang tak beruntung itu


Sejak kecil ia tumbuh di panti asuhan dimana di sana ia banyak teman tapi ia selalu dikucilkan karena ia berbeda ia terlihat seperti tuan putri yang terbuang karena parasnya yang cantik diatas rata-rata kulitnya yang sangat putih serta tak diketahui asal usulnya tak seperti para anak panti disana yang sebagian besar ditinggal mati orang tuanya


Setelah beranjak remaja para teman sebayanya telah diadopsi sedangkan ia tak mendapat orang tua angkat sampai ia dewasa, setelah dewasa ia pun meninggalkan panti asuhan karena ingin melanjutkan kuliah yang ia dapat dari biaya siswa berprestasi


Perjalanan hidupnya pada saat itu sangat cemerlang untuk pertama kalinya ia begitu senang karena saat di bangku menengah atas ia mengikuti beberapa lomba olimpiade dan mendapat juara pertama yang membuat namanya banyak diketahui dan disanjung oleh banyak kalangan karena itulah ia mendapat biaya siswa untuk melanjutkan mimpinya di universitas impiannya dan mengejar mimpinya


Kesenangan dan kebahagiaan itu tak berlangsung lama tepat di tahun keduanya di universitas ia kesulitan ekonomi membuatnya harus bekerja ekstra untuk mendapatkan biaya hidup sehari-hari dan itu membuatnya sering tak masuk kelas yang membuat biaya siswanya dicabut, membuat ia tak lagi mampu untuk membayar biaya sekolahnya dan berakhir ia keluar kuliah dan tak lagi melanjutkannya sampai sekarang.


Dan yang terakhir ia telah merasa nyaman dengan rutinitasnya sehari-hari dan tak memikirkan beban banyak lagi, ia malah terkena skandal dengan seorang Kolongmerat yang terkenal kejam, yang membuatnya harus menjadi istri diatas kertas dan meninggalkan semua pekerjaannya untuk menjadi asisten pribadi sang kolongmerat yang tak berperasaan itu.


•••