
Ata akhirnya tiba di rumah setelah balik dari berbelanja.
“ Ken? Sejak kapan kamu ada disini?.”
“ Hi Ta.”
“ Temanmu ini baru saja tiba, duduk lah disini Mama mau panggil Kevin dulu.”
Pria blasteran, tampan, dan kaya raya yang satu ini nama nya Kenneth. Dia bekerja sebagai manager di salah satu restoran terkenal.
“ Kamu habis belanja ya?.”
“ Ah, eh ga..”
“ Tu kantongan nya di lepas dulu.”
Entah sudah berapa tahun lama nya Ata menyimpan perasaan pada Kenneth, namun tidak pernah terbalaskan.
“ Hati-hati di jalan Ken.”
“ Bye..”
Tituttt
“ Ma, kenapa ga telepon daritadi.”
“ Mama kira kamu ga mau ketemu Ken.”
“ Mama mah gitu.”
“ Jangan-jangan kamu suka dia ya, ya ga ada salahnya juga kalian kan sudah berteman dari kecil.”
Sedikit flashback ketika masih kecil
Di taman
“ Wii..”
“ Aduh sakit..kaki ku.” Kata Ata sambil memegang lutut nya.
“ Kamu gapapa? Sini aku bantu.”
“ Makasih ya, namaku Ata. Kamu?.”
Belum sempat menjawab Ken kemudian di panggil Mama nya agar segera pulang.
Ken berbalik dan memberikan lambaian tangan pertama nya.
Sejak saat itulah Ata mengenal Ken, pertemuan mereka kemudian terjadi di sekolah dan sampai seterusnya.
“ Tetap aja si Ma, Ken itu kriteria nya tinggi. Mana mungkin Ken suka sama yang modelan nya kayak Ata.”
“ Iya ya, pantasan aja kakak jomblo terus.”
“ Apa katamu?.” Ata bertanya dengan tatapan sinis.
“ Mama…” Teriak Kevin dan berlari masuk ke kamar.
Hari pertemuan antara Ata dan sang Kakek telah tiba.
08.00 pagi.
“ Apa aku harus membawa barang ini?.”
“ Atau ini, atau aku pakai saja langsung?.”
Ata berkaca dan tampak bingung.
“ Ini kertas apa pak?.”
“ Kamu baca sendiri saja.”
“ Tapi pak, kalau tau menghafal saya gamau. Saya gabisa hafal hari ini juga.”
“ Bisa, pasti kamu bawa kan barang yang sudah saya kasih?.”
“ Ada di meja saya pak.”
“ Bagus, sekarang kamu menghafal kita bertemu kembali jam 7 malam.”
10 jam berlalu, saatnya Ata bersiap.
“ Yur, doain ya berhasil.”
“ Aamin, kalau berhasil nanti cariin aku pacar juga.”
Pipppp..
Mobil hitam itu sudah terparkir tepat di depan rumah Ata.
“ Jangan ember ya Yur, bye bye.”
“ Iya tenang aja.”
Ata kemudian bertemu dengan pak Marcel, tidak ada suara di mobil. Bahkan lagu pun tidak di putar.
“ Pak, saya grogi.”
“ Santai ya, restaurant nya sudah dekat.”
“ Pak..pak ada Hanna.”
Sepanjang perjalanan, yang terus di katakan pak Marcel adalah tenang. Tapi tidak bisa, karena baru saja aku melihat Hanna juga ada di tempat yang sama.
“ Kamu pegang tangan saya seperti ini.”
Apa yang terjadi, kenapa wajah ku memerah.
“ Jangan gugup Ata, kamu sudah hafal kan?.”
“ Iya pak sudah.”
Tentu pak Marcel memesan 1 ruangan khusus untuk kita bertiga.
Aku banyak sekali di tanya mengenai pekerjaan dan bahkan keluarga, aku harus berbohong demi menolong pak Marcel yang dingin ini.
15 menit kemudian
Aku meminta ijin untuk ke toilet.
“ Woah.. rasanya seperti sangat sesak di dalam…”
“ Hi, kamu seperti tidak asing buat saya.”
Aku bertemu dengan Hanna tanpa sengaja di toilet.
“ Kamu kenal saya kan?.”
“ Ha? Maaf bu saya ga kenal, permisi.”
Ata berlari cepat meninggalkan toilet.