
Pagi ini aku di jadwalkan untuk berangkat ke suatu kota.
Bersama dengan kedua temanku, kami akhirnya menuju ke Bandara.
“ Tiket nya udah ada kan?.”
“ Iya nih udah ada.”
Namaku Samantha, seorang pekerja di stasiun televisi. Umur 25 tahun dan masih sendiri.
Orang-orang sering bertanya kepadaku kenapa aku belum menikah, tapi aku tidak perduli itu.
Karena yang ingin aku lakukan sekarang adalah..
“ Liburan…”
“ Sam, story dong masukkin di ig.”
“ Iya iya, foto dulu 1..2..senyum..”
Kami akhirnya tiba di rumah yang baru kami sewa, karena rumah ini tempatnya dekat dengan caffe dan beberapa restoran lainnya..jadi kami ambil.
“ Keren banget yaa..”
“ Wah gede banget rumahnya.”
“ Aku di lantai atas aja.”
“ Iya aku juga.”
Baru saja kami sampai, seseorang mengirim paket dan menaruhnya tepat di depan pintu.
Tinggg…
“ Paket?, Hanna kamu pesen paket ya?.”
“ Engga..Kamu kali Yul.”
“ Kita kan baru tiba, aku aja ga tau alamat disini.”
Aku mengecek apa isi kotak itu, kotaknya cukup berat dan berlapis - lapis.
“ Cie, Samantha di kirim lampu tidur nih.”
“ Pasti dari pacar kamu ya siapa namanya tu.”
“ Ga mungkin, Revan kan ga tau kalau kita berangkat.”
“ Ya udah taro aja dulu di ruang tamu, gelap banget belum beli lampu.”
Hari itu, setelah aku menaruh lampu nya di ruang tamu. Aku melanjutkan kegiatan untuk memberes-bereskan rumah.
Aku mencuci piring, Hanna menyapu dan Yuli bagian merapikan.
“ Ada orang ga si disitu?.”
“ Mungkin hanya imajinasi ku saja.”
Di malam hari ketika kami sedang bersantai, aku mendapatkan sebuah pesan singkat dari facebook ku.
Tidak ada nama pengirim hanya saja tertulis disitu “ Searching.”
“ Halo nona, apakah kamu sudah memakai lampu itu?.”
“ Nanti kamu akan mengetahuinya.”
Jujur saja, malam itu aku gemetaran. Belum pernah mendapatkan pesan seperti itu sebelumnya.
07.00 pagi.
Pagi ini, kami bertiga akan pergi ke caffe untuk bersantai.
Aku melihat pria itu lagi, tepat di seberang jalan.
Dia memakai topi, menunduk dan kacamata hitam.
Pria itu memperhatikan ku.
“ Eh, jalan nya yang cepet dong aku aja deh yang bawa mobil.”
“ Kenapa Sam? Kamu kenapa?.”
“ Udah jalannya cepet.”
Siapa sebenarnya pria itu?.
Di caffe aku memesan pancake dan kopi panas, kami bercerita banyak tentang pekerjaan dan juga tentang kekasih kami masing-masing.
“ Kita kan udah umur 30 masa belum ada yang married.”
“ Kamu aja duluan Yul.”
“ Kalian berdua aja deh yang duluan haha.”
Beberapa hari berlalu, aku belum melihat dia lagi.
“ Halo Revan, lagi ngapain?.”
“ Oh aku lagi mau keluar, nanti aku telepon lagi.”
“ Oh ok, bye.”
Sikap Revan juga berubah semenjak aku berangkat beberapa hari ini.
“ Han, kita berapa lama ya disini?.”
“ 1 bulan kan, atau kita udah mau pulang.”
“ Hah? Ga belum, aku cuma nanya aja tadi.”
Di balik lampu tidur itu terpasang kamera kecil dengan Bluetooth, kami masih belum menyadari nya.
“ Sam, kok pake baju satu tali gitu?.”
“ Iya Sam, kalau ada yang liat gimana?.”
“ Emang siapa lagi yang mau liat? Kan cuma cewek-cewek doang disini.”
“ Tapi kan Sam.”
“ Udah tenang aja, pesan makanan yuk.”
Ketika mereka berbicara seperti itu, aku hanya berusaha untuk berpikir positif.