Searching

Searching
Eps 4.



Aku sering sekali berhalusinasi akhir-akhir ini.


Dan ketika aku tinggal dengan polwan itu, aku seperti melihat Hanna yang duduk di pojok.


“ Sam, boleh aku bertanya sesuatu?.”


“ Iya silahkan.”


“ Kenapa tanganmu penuh dengan darah?.”


“ Ah, ini aku membantu mereka mengangkat mayat Hanna.”


“ Oh, baiklah kamu bisa memakai baju tidur ini di bawah ada 1 kamar kosong.”


“ Terima kasih.”


Sreeeet..


Aku mengecek kembali isi koper ku, ternyata pisau itu masih ada ku taruh di dalam plastik.


Lalu aku membersihkan diri dan berbaring sejenak.


Aku mulai mengingat lagi tentang kematian Yuli dan Hanna.


1 minggu kemudian mereka menutup kasus kematian Yuli dan Hanna, mereka tidak bisa menemukan siapa pelakunya.


Atasanku lalu mengajak ku untuk kembali bekerja seperti biasanya.


16.00 sore.


Jam biasa aku pulang bekerja, kali ini aku akan berkunjung ke rumah Hanna. Disana kedatangan ku sudah di tunggu oleh Mama dan Ayahnya.


Mereka mengatakan bahwa Hanna bersyukur mempunyai teman seperti ku.


Padahal yang mereka tidak ketahui ..


Hari ini aku memutuskan untuk tidur di rumah kakak ku, aku menemani nya ketika suami nya sedang pergi dinas bersama karyawannya.


“ Tumben kamu mau nginap disini.”


“ Gapapa, pengen cerita-cerita juga.”


“ Oh tentang apa?.”


“ Revan..”


Ketika aku berbicara tentang Revan, wajah nya berubah menjadi datar.


“ Ada apa? Apa ada yang kakak tahu?.”


“ Maaf Sam.”


“ Kenapa?.”


“ Beberapa bulan yang lalu aku melihat pacarmu di bar, dia bersama dengan perempuan lain.”


“ Siapa perempuan itu?.”


“ Entahlah, dia mirip dengan wajah temanmu Yuli.”


Kakak ku ini bernama Ciel, kami hanya 2 bersaudara.


Dia selalu menyampaikan berita mengenai Revan jika tidak sengaja bertemu dengannya.


Kali ini, aku mendapatkan pesan dari itu lagi.


Tapi bagaimana dia bisa mengetahui kalau aku sudah pulang, dan tidak tinggal disana lagi.


“ Aku harus pergi.”


“ Kemana? Sam? Sam…”


19.00 malam.


Situasi di sekitar restaurant sangat sepi.


Pria misterius itu datang, kami duduk berjauhan.


Dan dia bertanya tentang kedua temanku.


“ Bagaimana kabar mereka sekarang?.”


“ Ah aku lupa, bukan kah mereka sudah hidup dengan tenang?.”


“ Siapa kamu?.”


Sebuah foto di letakkan di atas meja.


“ Aku adalah orang yang menyukai mu ketika masih sekolah.”


Foto kelulusan kami ..


“ Siapa kamu?.”


“ Kamu tentu bisa menebak ku, kamu lebih memilih Revan. Pria itu huh, tidak akan selamat.”


“ Ngomong-ngomong, aku sudah melihat mu dengan mataku sendiri.”


“ Maksud mu?.”


Aku kemudian mengingat kembali, kamera kecil itu …


Situasi semakin tidak terkendali, aku mulai merasakan pengap dan sesak.


Aku berjalan meninggalkan dia sendiri disitu.


Keesokan pagi nya, aku mengirim pesan melalui email kepada salah satu detektif yang sempat menangani kasus ini.


“ Aku menemukan pelakunya, ingat nomor yang pernah ku berikan? Tolong lacak dia sekarang…”


Email itu berhasil terkirim, ku harap segera mendapatkan balasan.


“ Kenapa kamu begitu gelisah?.”


“ Ga kenapa-kenapa, aku cuma butuh tidur dan istirahat.”


“ Kamu bisa tidur di kamar tamu.”


Detektif itu mengecek dan mulai melacak keberadaan nomor itu dengan beberapa anggota lainnya.


“ Nomor nya masih aktif pak.”


“ Masih bisa di lacak.”


“ Bagus.”


Cukup lama tak ku terima lagi pesan misterius itu, kemudian aku pergi ke salah satu rumah sakit untuk meminta obat.


“ Sepertinya kamu mengalami halusinasi yang cukup parah.”