Searching

Searching
Eps 3.



Jenazah Yuli di kirim balik ke kota asalnya, aku datang untuk menemuinya.


Seorang polisi menelepon ku untuk memberitahu apa yang mereka temukan di tempat kejadian.


“ Selamat siang, dengan Bu Samantha?.”


Siang itu aku pergi ke kantor polisi, mereka menunjukkan obat-obatan milik Yuli yang masih banyak, pisau dan kamera kecil.


“ Maaf pak, sebelumnya di rumah itu tidak ada kamera yang terpasang.”


“ Tapi bu, kami menemukan kamera ini di dalam nya juga masih terpasang memory card.”


“ Jika Ibu mengizinkan kami akan melihat isi kamera.”


Aku mengangguk, dan ikut melihat isi dari memory card itu.


Aku terkejut dan langsung menelepon Hanna, aku mengatakan padanya kalau ada yang menaruh kamera di balik lampu itu.


Para polisi itu menyuruh ku untuk mengingat kembali dimana aku membeli lampu tidur.


“ Pak, saya ga pernah beli lampu tidur sebelumnya.”


“ Sam, cerita aja Sam..”


“ Bisa tolong di ceritakan bu?.”


“ Waktu itu, saya nerima paket besar di dalam box itu isinya lampu tidur dan surat tapi saya ga baca pak.”


“ Lalu dimana surat itu?.”


“ Masih ada pak di rumah, lantai 1 dekat kamar saya.”


Aku dan Hanna di beri saran agar menyewa hotel dan tinggal di dekat kantor polisi.


“ Ini ada kaitannya ga si sama chat itu?.”


“ Chat yang mana Sam?.”


“ Nih..kok rasanya kita di teror ya.”


Mereka akhirnya menutup akses di rumah itu, aku mengembalikan kunci rumah yang di sewa.


Detektif menemukan surat itu dan di bawa ke kantor polisi.


Rasanya kantor polisi sudah seperti rumah ke 3 ku sekarang.


Aku di tanyakan beberapa pertanyaan seputar tempat tinggal dan pekerjaanku.


Kata dokter, dia menemukan jenis obat yang di paksa masuk ke mulutnya.


Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, aku meminta kepada atasan agar kami bisa segera pulang.


“ Baik, lalu bagaimana dengan pekerjaan kamu disana?.”


“ Pak, situasi saya lagi begini. Bapak masih nanya pekerjaan? Pak saya di teror disini tolong di mengerti pak.”


Aku tentu tidak bisa pulang lebih cepat, atasan menuntut ku untuk mencari berita terlebih dahulu.


Keadaanku sekarang sangat hancur, aku mulai tidak bisa tertidur saat malam hari.


Pria itu masih mengirimkan ku pesan, dia mengancam ku jika aku melaporkan tentang dirinya.


Tepat di hari Kamis siang, aku pergi ke kantor polisi.


“ Ada yang bisa di bantu Sam?.”


Orang-orang disini sudah mengenalku, seperti aku bagian dari mereka.


“ Saya mau lapor pesan berisi ancaman pak.”


“ Tolong pak, saya gabisa tidur sekarang.”


“ Baik Sam, tinggalkan saja nomor pria itu disini.”


Ketika aku baru saja tiba di lobby hotel, salah satu karyawan itu berlari dan mengatakan jika dia menemukan mayat wanita di lorong kamar.


“ Dia tergantung.. tolong ada mayat tolong..”


Aku semakin bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi kemarin aku melihat Yuli sekarang Hanna.


Siapa sebenarnya pelaku ini.


Polisi tidak bisa menahan ku, karena mereka mengetahui aku baru saja balik.


Handpone ku di tahan dan mereka mencoba untuk melacak nomor itu.


Karena situasi yang semakin tidak terkendali, salah satu polwan menyarankan agar aku tinggal untuk sementara dengannya sampai pelaku ini di temukan.


“ Bagaimana Sam?.”


Aku mengangguk dan segera merapikan isi koper.