
Yuri terlihat sedang membantu Ata membersihkan kedainya.
Dan Kevin yang sedang bersantai sambil membuka aplikasi pencari jodoh.
“ Kevin, itu aplikasi apa?.”
“ Ini aplikasi untuk kakak.”
“ Kenapa kalian berbisik?.”
“ Oh, tidak..Kak Yuri duduk lah disini.”
***
Sementara itu di rumah Marcel.
Sang Kakek dan Ayah sedang berdebat tentang masalah hubungan Ata dan Marcel.
“ Tidak, saya tidak setuju dengan mereka.”
“ Anakmu itu sudah besar, dia tidak mungkin berbuat seperti kamu dulu.”
Flashback..
Jauh sebelum Marcel lahir, dulu Ayahnya adalah seorang atasan yang sangat di hormati. Dia mempunyai seorang sekretaris yang sangat cantik.
Hingga suatu waktu, tanpa di sengaja Ayahnya menghamili Diana nama sekretaris itu.
Ayah nya ingin bertanggung jawab namun sang Kakek menolaknya, dia ingin membawa Marcel dan melarang Diana untuk bertemu dengan mereka lagi.
“ Anak ini, biar kami saja yang mengurusnya.”
Diana terduduk, menangis bahkan memohon agar dia bisa bertemu setidaknya sekali ketika Marcel sudah beranjak dewasa.
“ Jangan sampai saya melihat kamu lagi.”
***
“ Itu kan kejadian dulu, lupakan lah itu.”
“ Karena Ayah, Marcel tidak bisa bertemu dengan Mama nya sendiri.”
“ Lihat siapa yang jahat disini.”
Ayah pak Marcel meninggalkan ruangan tanpa sepata kata.
“ Sekretaris, pesankan dia tiket ke Jepang besok.”
“ Dia terus mengoceh disini.”
17.00 sore
Waktunya pak Marcel untuk pulang, namun ketika baru saja membuka pintu dia tiba-tiba terjatuh, muka nya pucat dan keringat dingin.
Segera Yuda membawa pak Marcel ke Rumah sakit terdekat.
“ Pak Marcel tidak boleh kecapean, dia kelelahan dan kalau bisa saya sarankan jangan banyak pikiran untuk sementara.”
Mereka yang ada di ruangan terkejut karena sebelumnya tidak mengetahui jika Marcel ternyata menyimpan sendiri pikiran itu.
“ Apa yang kamu pikirkan sekarang?.”
“ Permisi Pak Marcel, harus kah saya menelepon sekretaris Samantha?.”
Di lain tempat Ata sedang berbelanja dengan Yuri di Supermarket.
Ata kelihatan sangat gelisah dan tidak fokus.
“ Yuri, kamu tau semenjak Pak Marcel tau tentang Kedai dia sekarang sudah tidak menghubungiku lagi.”
“ Santai saja, siapa tau besok atau besoknya lagi.. Jeruk nipis..dimana ya.”
“ Tanya aja sama mba nya dimana.”
Keesokan harinya, Ata datang ke kantor dengan membawa flashdisk dan surat laporan.
“ Yuda, ini flashdisk nya dan ini laporan nya. Di dalam sini ada data penting.”
Sambil melirik sedikit ke ruangan.
“ Okey, terima kasih. Apa yang sedang kamu lihat?.”
“ Tidak, tidak ada..”
“ Pak Marcel lagi di Rumah sakit.”
“ Hah?.”
Ata berlari dari lantai 1 dan tiba di kamar pak Marcel.
Dia tidak sendiri karena ada Kakek nya yang menemani.
Tokkk..tokkk..
“ Permisi pak.”
“ Ata? Ngapain kamu?.”
“ Bapak, bapak baring aja gapapa. Saya cuma penasaran aja sama keadaan bapak.”
Kakek berjalan keluar meninggalkan mereka berdua di kamar.
“ Kalian berdua bicaralah, saya mau keluar dulu.”
Slipppp ( suara pintu ).
“ Pak Marcel gapapa? Ada yang luka? Jatuh? Dimana?.”
“ Kamu terlalu berlebihan.”
“ Tapi pak, tadi kata Yuda..”
“ Iya saya cuma kecapean saja, kalian berdua memang sama.”
Dupppp..dupppp..
Suara langkah kaki itu mulai terdengar, Ayah pak Marcel berjalan mendekat di temani dengan sekretaris.
Namun di tahan oleh Kakek pak Marcel.
“ Biarkan saja anakmu, dia di kunjungi kekasihnya.”
Ayah pak Marcel yang tidak terima akan hal itu segera melepaskan tangannya.
“ Saya bilang biarkan saja, ini tiket kamu pesawat ke Jepang besok pagi jangan sampai telat.”