
Yuri menelepon kembali nomor itu untuk mengambari makanan mereka telah siap.
Kringgg…
Bunyi lonceng yang tergantung di atas pintu, saat Ata melihat ke pintu..
“ Yuda?.”
Waktu bergerak lambat, angin sepoi-sepoi dan pantulan cahaya matahari masuk menembus pintu.
“ Pak..pak.. pak Marcel?.”
Ata terkejut dan menunduk di bawah meja kasir, pak Marcel mulai berjalan melihat-lihat kedai ayam milik keluarga Ata.
“ Mas jodoh?.”
Yuri tersenyum ke Yuda namun di acuhkan.
“ Saya tadi memesan ayam untuk 2 porsi.”
“ Oh iya sebentar ya pak.” Kata Yuri sambil mengambil kantongan berisi ayam.
“ Ini pak.”
Pak Marcel mulai bertanya kepada Yuri apakah ada karyawan lain disini.
“ Ada pak, dia di..Heh? Dia kemana?.”
“ Dengan siapa kamu bekerja disini?.” Tanya pak Marcel.
“ Dengan ..”
Ata memberikan kode agar Yuri tidak menyebutkan namanya, namun pak Marcel sudah terlanjur melihat foto keluarga yang terpajang di dekat meja makan.
“ Apa ada Ata disini?.”
Ata panik dan berusaha masuk ke dapur.
“ Bapak tau darimana?.” Tanya Yuri.
Kemudian Ata menunjuk dan mulai menelepon Ata.
Kringggg..
Hp Ata berbunyi di dekat meja kasir, pak Marcel berjalan mendekat..
Pak Marcel mengangkat hp Ata dan melihat nama kontaknya adalah “ Pak CEO dingin.”
“ Pak CEO dingin? Nama apa itu.”
Ata muncul dari bawah meja kasir dan meminta maaf.
“ Halo pak hehe..”
Mereka berempat kemudian duduk di kursi yang sudah di sediakan.
“ Apa kedai ini punya mu?.” Tanya pak Marcel.
“ Ini punya keluarga saya pak, maaf.”
Yuri terus memandangi Yuda yang duduk tepat di depannya.
“ Apakah kalian sudah pernah bertemu?.” Tanya pak Marcel.
“ Belum pak belum.”
“ Sudah kok pak, waktu itu sekretaris bapak sempat beli ayam juga disini.”
Ata berbisik kepada Yuri jika mereka sudah ketahuan dari persembunyian.
“ Silahkan di makan pak ayam nya, hehe saya mau lanjut kerja dulu.” Kata Ata.
“ Yuri saja yang bekerja, kamu duduk disini.”
Pak Marcel menahan tangan Ata, dan menyuruhnya untuk duduk di depannya.
Ata yang takut dan mukanya yang terlihat pucat akhirnya kembali duduk sambil berusaha untuk tersenyum.
1 jam kemudian akhirnya Pak Marcel pulang.
“ Maaf Ta, tadi tu ga sengaja soalnya ada mas jodoh.”
“ Mas jodoh, mas jodoh, dia aja tadi ngelak tau kamu ngerti ga Yur.”
Ata kemudian mengambil cermin dan melihat memarnya semalam.
“ Ah, masih ungu.”
***
16.00 sore, Pak Marcel di jadwalkan untuk bermain golf dengan beberapa teman nya dari perusahaan lain.
Sesampainya disana, pak Marcel bertemu dengan pak Tara. CEO tampan saingan berat pak Marcel.
“ Lama tidak bertemu Marcel.” Kata pak Tara.
“ Tara..”
Tidak lama di susul sekretaris masing-masing dan mereka kemudian berpisah.
Pak Marcel bertanya kepada Yuda, kenapa Tara bisa ada disana juga.
“ Setelah saya liat, pak Tara sedang bercerita ingin membangun gedung di dekat tempat ladang kita di Jepang.”
Pak Marcel hanya terdiam dan melihat ke jendela.
***
Sementara itu Ata di kamarnya sedang menyesali apa yang terjadi.
“ Kalau saja tadi tidak di angkat teleponnya.”
“ Argh…”
“ Kenapa harus mereka yang datang.”
“ Harus gimana nih.”
Berpindah ke situasi Yuri saat pulang dari rumah Ata.
“ Yuri, kamu ini sudah umur berapa? Jangan mau selalu sama dengan teman kamu itu.”
“ Kenapa si, Yuri kan masih umur 29. Masih muda kali ah.”
Bibi dan Ayah melihat Yuri.
“ Yuri, itu sudah sangat dewasa bagaimana kalau kamu menikah saja?.”
“ Memangnya Papa ada calonnya? Kalau Yuri si tetap gamau.”
Koper berisi baju-baju, tas dan sepatu mewah milik Yuri di keluarkan dari rumah oleh Papa nya Yuri.
“ Jangan kembali sampai Papa dengar kamu sudah punya calon suami.”