
“ Kamu bukan mengalami penyakit biasa.”
“ Lihat, matamu bengkak dan menghitam.”
Dokter memberikan ku resep dan aku menerima 2 jenis obat yang berbeda.
1 bulan kemudian, Revan bertemu kembali denganku.
Dia meminta maaf atas kesalahannya dan aku tidak mengerti dengan kesalahan apa yang dia maksud.
“ Kesalahan?.”
“ Iya Sam, maaf.”
Revan menyodorkan undangan, aku melihat isi undangan itu.
Wanita itu cukup cantik.
“ Aku tidak sengaja menghamili dia, dan wanita itu meminta pertanggung jawaban.”
“ Hah, ini pasti perempuan di clan itu kan.”
“ Sam..”
Malam itu aku tanpa sengaja bertemu dengan calon istri Revan.
Aku mengajak nya bercerita seperti biasa.
Dan dia memesan 1 minuman, aku membawa racun itu dan menaruh nya di minumannya.
“ Ara…”
“ Tolong…”
Dia tergeletak di lantai..
Polisi mulai mencurigai, karena dia menemukan sijik jariku yang tertinggal di gelas.
Mereka meminta ku untuk datang lagi ke kantor polisi untuk di periksa.
“ Apa ini sijik jarimu?.”
“ Apa kamu yakin itu sijik jari saya?.”
“ Maka karena itu saya mau minta sijik jari anda, tolong tempelkan ibu jari anda.”
30 menit berlalu, ruangan itu semakin pengap, dadaku mulai sesak.
Aku amburadul dan mencari obat itu.
“ Obat apa yang kamu minum Sam?.”
Salah satu polisi menemukan obat itu, obat yang di berikan dokter kepadaku adalah untuk penenang.
Jika sewaktu - waktu aku sedang berada di luar dan sedang sendiri.
3 minggu kemudian,
Aku mendengar suara mobil polisi itu datang dari arah depan.
Mereka berhasil mencocokkan sijik jari yang tertinggal, dan membawa ku kembali ke kantor polisi.
Salah satu detektif itu juga mengkonfirmasi kalau sebenarnya adalah nomor baru itu adalah nomorku sendiri.
Dan pria misterius itu sebenarnya hanya hasil dari halusinasi atau imajinasi.
“ Bisa di jelaskan Sam bagaimana ini semua terjadi?.”
“ Tolong di mulai dari teman mu dulu.”
Yuli, seperti yang kita ketahui dia mempunyai penyakit. Dan dokter menyebutkan bahwa dia tidak akan hidup lebih lama lagi.
Aku memasukkan racun bubuk di dalam minumannya, dan setelah aku melihat Yuli meminumnya.
Aku menusuk nya sebanyak 3 kali di bagian paha dan perut, sengaja memakai sarung tangan plastik maka tidak ada jejak yang tertinggal.
Mereka mendengarkan semua cerita itu, televisi menyiarkan tentang kasus dan pelaku ini.
Hakim memutuskan aku untuk tidak di hukum mati tapi harus menjalani pengobatan di rumah sakit jiwa.
Kenapa?.
Orang-orang di pengadilan melihat dan mempertimbangkan kembali setelah melihat kondisiku.
Muka yang terlihat seperti tidak pernah tidur, rambut kusut dan susah untuk berbicara.
Kakakku bahagia masih bisa melihatku.
“ Sam, ini kakak…”
“ Tidak, kamu bohong.”
“ Sam…shuttt.. tenang sayang.”
1 minggu kemudian, aku mendapatkan tamu.
Pria bertopi itu datang mengunjungi ku, dia memakai stelan jas dan membawa pistol yang di sembunyikan di balik jas.
“ Apa kabar Sam.. sudah ku bilang kita akan bertemu kembali bukan?.”
“ Kamu, kenapa datang lagi..rghh tolong.”
Aku mencoba teriak meminta tolong tapi tidak ada yang mendengarkan ku.
Dia kemudian mengeluarkan pistol nya dan bernyanyi lagu tidur sebelum berhasil menembak.
Dorrrr..
Suara itu terdengar jelas, aku terkena di bagian perut.
Pria misterius itu kemudian berjalan keluar dan meninggalkan rumah sakit dengan mobil hitamnya.
Para perawat dan kakak ku masuk dan menangis melihat aku yang sudah terbaring tak bernyawa.
- TAMAT