
“ Bu, saya pesan jagung bakarnya 2 ya yang satu pedis yang satunya lagi..”
“ Pak, mau yang pedis atau ga?.”
“ Pedis aja.”
“ Ok, bu 2 yang pedis.”
Ata mengeluarkan uang dari dompetnya.
“ Jangan biar saya saja.”
“ Gapapa pak ini sekalian permintaan maaf saya.”
20 menit mereka menunggu jagung mereka akhirnya siap di santap.
Ata baru saja ingin menyantap makanannya,tiba-tiba seorang anak berteriak dari arah depan.
“ Kak..minggir kak..”
Bola itu terbang tepat ke arah Ata.
Pak Marcel yang terkejut berusaha untuk menarik lengan Ata, tapi terlambat..
Ata terjatuh dan menumpahkan makanannya.
Dugggg..
“ Ata? Ata? Halo?..”
pak Marcel panik dan menatap anak kecil itu.
“ Maaf kak, tadi saya sudah coba teriak.”
“ Gapapa hehe, nih bola nya lain kali hati-hati ya.”Kata Ata.
Anak kecil itu berlari meninggalkan Ata.
“ Jidat kamu.”
“ Kenapa jidatku?.”
Pak Marcel mengeluarkan sapu tangan nya dan memberikannya kepada Ata.
“ Pakai ini saja, ayo kita pulang.”
“ Tapi saya gapapa pak.”
“ Bisa lihat jidat kamu dulu?.”
“ Huaaa..berdarah…”
Akhirnya Pak Marcel mengantar Ata pulang ke rumahnya.
“ Terima kasih banyak pak, maaf sudah merepotkan.”
“ Tidak apa-apa, saya senang hari ini.”
“ Hehe saya juga senang pak.”
“ Ini salep untuk jidat kamu.”
***
Baru saja tiba, Ata di panggil Mama nya untuk di sidang.
Tepat di depan Kevin dan Ayah, Ata di tanya tentang status nya dengan pak Marcel.
“ Ata, kamu tidak boleh berbohong.”
“ Ini kenapa? Kevin matamu itu hati-hati.”
Ayah menyenggol Kevin.
“ Ata, apa status mu dengan pak Marcel? Mama sudah beberapa kali melihat kalian pulang bersama.”
“ Benarkan Ma, Kakak pacaran sama Kak Marcel buktinya dia ga bisa bilang.”
“ Pak Marcel cuma sekedar atasan saja..” Kata Ata dengan suara lantang.
Mereka selalu curiga kepada Ata.
Ata kemudian meninggalkan mereka bertiga dan berjalan naik ke kamarnya.
Di kamar, Ata bercermin dan mengeluarkan salep dari dalam tasnya.
“ Salepnya.”
Ata mengingat kembali dan mulai mengoleskan salep ke jidatnya sendiri.
“ Aduhh..”
Mereka yang mendengar suara Ata di bawah terlihat cuek saja.
“ Anakmu itu selalu saja berteriak, dia memang mirip sepertimu.”
“ Jidat nya terluka, dia berusaha untuk menutupinya kamu tidak lihat itu?.” Kata Ayah Ata.
Mama Ata hanya terdiam dan melihat ke arah tangga.
Keesokan harinya, Yuda sedang membersihkan mobil yang di pakai Pak Marcel beberapa hari belakangan ini.
Yuda kemudian tidak sengaja menemukan kartu tanda pengenal kedai milik Ata di mobil.
“ Kartu?.”
Pak Marcel datang dan bertanya tentang kartu itu..
“ Milik siapa itu?.”
“ Oh ini, milik Ata. Saya tidak sengaja menemukan itu terselip di bawah.”
“ Kedai Ayam?.”
Berpindah ke tempat Ata di rumah yang mempersiapkan kedai.
“ Yuri..ngepel dulu.”
“ Iya selesai series ini.”
Yuda dan Pak Marcel melihat Ata dan Yuri yang sedang sibuk, kemudian berpura-pura memesan di kedai ayam itu.
Krriingggg..
Pak Marcel terus menatap Ata dari kejauhan..
“ Yuri, hp ku dimana ya?.”
“ Ah, disini..nih.”
***
Yuda memulai percakapan dengan menggunakan nomor baru yang tidak di kenali.
“ Halo, dengan Samantha dari kedai ayam.”
Pak Marcel berbisik agar pengeras suaranya di aktifkan.
“ Saya mau pesan ayam 2 porsi, sebentar lagi saya akan ambil.” Kata Yuda.
“ Baik, silahkan menunggu.”
Ata menutup teleponnya tanpa menyadari siapa di balik itu.
“ Yur, sebentar lagi ada yang mau ambil pesanan.”
Pak Marcel tersenyum saat mengetahui Ata juga ternyata bekerja disitu.
“ Apa pak Marcel juga mau ikut turun sebentar?.” Tanya Yuda..