SAVIOR

SAVIOR
Chapter IX : Releasing Darkness



"Kau pikir aku kesini ingin bermain-main? Itu salah besar!"


Aku menyerangnya kembali secara berturut-turut tapi tetapi saja anggota tubuhnya pulih kembali.


"Andai saja ada Dyret di sekitar sini. Tapi tidak apa-apa."


Plevra itu tersenyum lalu disekitarku muncul kabut.


"Nimary!"


Tiba-tiba aku merasa mengantuk, aku merasa kakiku tidak kuat untuk berdiri dan mataku mulai memburam tapi sayangnya itu adalah tindakan yang salah.


"Gampang sekali kau tertidur!"   Plevra itu menatap ke segala arah, "Aku tidak tau dimana kalian menyembunyikan  kameranya tapi aku tau kalian sedang melihat ini sekarang. Lihatlah, AKU AKAN MENGHABISKAN BOCAH INI SEKARANG!!"


"Komandan, dia adalah temannya Versha. Kita harus bagimana?"


"Biarkan aku melihatnya sebentar lagi!"


"Baik Komandan."


"DASAR BOCAH TIDAK TAU DIRI!!!" Plevra itu berdiri di hadapanku sambil tertawa puas.


Saat itu aku langsung berlari kearahnya dan menusukkan pedang ini tepat didadanya dan dari dadanya keluar cairan berwarna hitam. Apakah itu darah Plevra?


"Ka.. Kau bagaimana bisa?"


"Kau pikir aku akan termakan oleh jebakan seperti itu?! Aku kesini karena aku ingin menjadi lebih kuat jadi aku tak boleh mati begitu saja."


Sialnya, dia segera mencabut pedang itu dan melemparku keatas dengan keras dan ketika jatuh sangatlah sakit.Sekarang aku ingin berbaring lebih lama tapi Plevra itu hendak melayangkan pukulannya tapi aku berhasil menghindarinya.


"Mengapa Plevra itu masih bisa bertahan?"


"Aku ingin sekali mencabik-cabik dirimu lalu memakanmu!!!"


"Memangnya kau bisa melakukan itu?! Jika kau tau, Gara-gara Nimary tadi aku malah ingin sekali memenggal kepalamu!!" hasrat yang sendari tadi ku tahan tidak bisa dibendung lagi.


"Saya merasakan hasrat membunuh yang sangat besar. Saya takut ini bisa jadi berbahaya dan juga dia terlihat tidak bisa mengontrol diri! Apa yang harus saya lakukan, Komandan?"


Zival tersenyum, "Biarkan saja! karena ini akan menjadi menarik."


"KAU PIKIR, AKU AKAN KALAH OLEH BOCAH SEPERTIMU?"


"TERLALU BANYAK OMONG!!!"


Kanan, belakang, depan, kir_ dimana dia? Aku menutup mataku mencoba menajamkan indraku. ATAS!! Aku segera mengayunkan pedangku dan berhasil tertancap diperutnya.


Melompat mundur, "Siapa kau sebenarnya?"


"KAU TAK BERHAK BERTANYA TENTANG DIRIKU!!"


Lagi-lagi perasaan ini bertambah kuat. jantungku berdetak lebih cepat, rasa gelisah ini mulai menggerogoti tubuhku. Aku takut dan aku membencinya.


"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!! AKU BOSAN!! MARI KITA SELESAIKAN INI!"Aku tertawa gila seolah-olah ini adalah hal yang sangat lucu, tidak lagi!


"TIDAK MUNGKIN!" belum sempat Plevra itu menghindar, sebuah pedang memotong kepalanya hingga terlepas dari badannya.


Seluruh tubuhku dipenuhi oleh darah Plevra tersebut, hujan warna hitam?  tidak terlalu buruk. Lalu aku menatap Plevra tersebut sambil tersenyum sampai akhirnya cahaya itu membawaku pergi dari ruangan tersebut.


"Selamat! Kamu berhasil melewati ujian pertama. Jarang sekali ada orang yang selamat dalam ujian ini." aku membuka mataku dan kulihat Komandan Zival sedang bertepuk tangan.


"Apakah kamu baik-baik saja?" samar-samar aku melihat raut wajah Fecter yang sedang khawatir sebelum akhirnya aku tidak sadarkan diri.


Ketika aku terbangun, hidungku langsung mencium bau obat yang sangat menyengat.


"Akhirnya kamu terbangun, Ku kira kamu akan seharian tertidur disini."


"Apakah sudah selesai?" aku mencoba untuk duduk walaupun kepalaku masih merasa pusing.


"iya, dan sisa dua ujian lagi."


Aku melupakan ujian yang tersisa. Jika ujian pertamanya saja sudah seperti itu, bagaimana ujian yang selanjutnya? Aku tidak bisa membayangkannya.


Fecter beranjak dari tempat duduknya, "Baiklah, saya harus pergi dulu."


"Om eh maksud saya Paman..."


"Saya ini masih muda jadi panggil aja Kakak!"


"Ya, saya masih harus melakukan sesuatu."


"Oh... saya mau tanya, Bagaimana dengan Ares?" aku baru sadar akan keberadaan Ares.


Fecter tidak menjawabnya. Sesaat dia menatapku lalu memalingkan wajahnya dan pergi. Hei, apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang harus kukatakan pada Versha dan yang lain? Bahkan aku sempat berdebat hebat dengan Versha tentang ujian ini.


___


"Kamu udah baikan?"


"Ya, Komandan."


"Kalau begitu kita lanjutkan ujiannya!"


"Sekarang Komandan? Tapi jika dipikirkan kembali, luka Scarlet belum sepenuhnya sembuh total.


"Fecter!!"


"Baiklah." Kak Fecter menengok kearahku dan aku membalasnya dengan anggukan setidaknya aku harus menghargai usahanya.


"Ujian kali ini tidak sulit, Kau hanya harus memurnikan PLevra dari Plevranya langsung."


"Memurnikan Plevra dari Plevranya langsung?"


"Sebenarnya ada dua cara dalam memurnikan Plevra, yang pertama melalui pemilik Plevra tersebut dan yang kedua dari Plevranya langsung. Biasanya para savior lebih suka memilih yang pertama karena itu mudah dibandingkan dari Plevranya langsung."


"Bukannya memurnikan Plevra hanya untuk seorang Oluplas?"


"Tidak juga, sebenarnya kita semua bisa melakukannya tapi orang yang memiliki Ner Oluplas lebih baik karena perasaanya mereka lebih peka dibanding kita."


"Maaf, bisakah diulangi kembali! Saya masih tidak mengerti."


Menghela nafas, "Jika orang seperti kita yang memurnikan Plevra maka hasilnya akan jauh lebih sulit dan lama atau mungkin tidak berhasil sama sekali."


"Aku ingin bertanya sesuatu... Ini mungkin pertanyaan yang sangat sederhana. Bagaimana kita bisa membedakan Plevra dengan Manusia?"


"Itu sangatlah mudah, Plevra umumnya akan memancarkan aura yang sangat gelap dan sebagian dari mereka mempunyai bentuk layaknya monster-monster seperti yang kau tau. Ada juga Plevra yang memiliki bentuk seperti manusia tapi kemungkinan tidak sempurna."


"Sudah selesai? Mari kita lanjut ujian ini! Nama ujian yang berikutnya adalah Ujian Pelepasan Aku akan memberikanmu waktu selama 1 jam untuk menyelesaikan ujian ini jika kamu tidak berhasil maka Ner kamu akan dihisap habis oleh Plevra yang akan kau murnikan. Waktunya dimulai dari sekarang!"


"Shit!" aku mengumpat dan lagi-lagi cahaya yang sama datang.


"Dan satu lagi, Plevra yang akan kau murnikan adalah Plevra tingkat 3." Aku melihat Komandan Zival tersenyum (evil) sampai akhirnya cahaya ini benar-benar membawaku pergi.


"Apakah Komandan tidak terlalu kejam?"


"Tidak." dia mengatakan itu dengan tatapan dingin.


Dan sekarang aku kembali berada di ruangan serba putih tanpa ada pintu bahkan ventilasi sekalipun tapi bedanya disini terdapat seorang Plevra tetapi seluruh tubuhnya dirantai.


"Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanpa sadar aku bergumam sedangkan Plevra itu masih diam.


"Hiks... hiks..."


Eh, dia menangis, apakah ini jebakan? Masa Plevra menangis? Apa mungkin dia sudah putus asa dengan keadaanya sekarang sehingga dia ingin cepat-cepat dimurnikan?


"BWAHAHAHAHAHA!!"


Sekarang dia tertawa!! Apakah Plevra ini sakit jiwa? Tapi masa ada sih Plevra sakit jiwa?


"HUWAAAA!!!"


Bahkan sekarang tangisannya semakin kencang yang membuat gendang telingaku hampir rusak.


"Apakah kau baik-baik saja?"


"MENGAPA AKU SENDIRIAN?!!"


"Kamu kesepian?"


Aku mencoba mendekat tapi ketika aku mendekat dia langsung mencakar diriku dan berhasil mengenai pipiku sehingga sekarang darah keluar dari pipiku.


"AKU TIDAK MENYANGKA BAHWA MANUSIA GAMPANG SEKALI DITIPU!! BWAHAHAHAHAHAHAHA!!!"