
Sekarang dunia sangat berbeda dari yang kalian lihat dan kini cerita dongeng yang pernah kalian dengar, semuanya terjadi, dimana seharusnya hal itu tidak pernah ada.
"Kalian sudah siap?"
"Ya" balas Versha.
"Aku tidak sabar untuk melihat pemandangan dari puncak bukit Lofia." Ares kegirangan karena liburan musim panas sudah tiba.
"Tapi apakah tidak apa-apa? Bagaimana jika disana ada Plevra?" ucap Versha mencoba meyakinkan kedua temannya.
"Jangan takut! Nanti kalau ada Plevra, kasih aja Scarlet! Anak kecil aja takut sama Scarlet masa Plevra gak?." balas Aresa sambil ketawa nista yang pada akhirnya kena pukulan maut Scarlet.
"Ya udah, kalau begitu mari kita pergi sekarang!" ucap Versha.
___
"Apakah sudah sampai?" tanya Ares dengan nafas yang tersenggal-senggal.
"Belum." jawab Scarlet singkat.
"Ayolah Asera, kamu selalu mengatakan itu 10 menit sekali." balas Versha kesal.
"Lagian puncak bukit Lofia jauh banget." keluh Ares.
"Tapi berhentilah mengeluh! Aku lelah mendengarnya."
"Lalu bagaimana denganku yang kalian paksa suruh ikut." Scarlet menatap mereka dengan wajah datar.
"Aku gak mau lihat kamu di asrama kayak putri tidur." balas Ares dengan ekspresi iba.
Kresek kresek
"Suara apa itu?" tanya Ares, karena mereka mendengar suara dari semak-semak.
"Apakah itu Plevra?" Scarlet memandang Versha dengan ekspresi wajah yang sama.
"Aku tidak tau, tapi kita harus berhati-hati."
"Meong~"
"Kucing!"
"Meong!!" kucing itupun berlari karena kaget mendengar suara Versha dan begitu juga dengan Versha yang langsung berlari mengejar kucing itu.
"Aku tau kalau kamu suka kucing tapi gak harus lari juga, capek tau." Ares ikut berlari mengejar Versha, "Versha tunggu!"
"Kenapa hidupku tidak bisa tenang saat mereka berdua datang?" Scarlet hanya bisa pasrah menerima keadaannya. Dengan berat langkah Scarlet juga ikut mengejar mereka berdua.
___
"Loh kok kalian berhenti?" tanya Scarlet ketika tiba disana. "Dia siapa?" karena Scarlet melihat ada seorang perempuan yang sedang mengelus kucing tadi.
"Mana aku tau... Tanya aja ke Versha! Aku berhenti juga gara-gara dia."
"Dia kembaran ku, Tersa." ucap Versha masih memandangi perempuan yang ada di depannya itu.
"Apa!" setahu Scarlet, Versha tidak mempunyai saudara.
"Loh tapi kok muka mereka mirip?" dan lagi-lagi pukulan Scarlet melayang ke Ares.
"Dasar bodoh!"
"Salah aku apa?"
"Aku tidak pernah menyangka bahwa kita akan bertemu disini, adikku tersayang." ucap Tersa sambil tersenyum penuh arti.
"Chh, siapa juga yang ingin bertemu denganmu."
"Kayaknya mereka berdua punya masalah deh." bisik Ares kepada Scarlet.
"Jangan ikut campur! Masalah keluarga." balas Scarlet.
"Ngapain kamu disini?" tanya Versha.
"Aku mendengar bahwa ada plevra yang berkeliaran disekitar sini jadi aku ingin menangkapnya saja."
"Menangkap Plevra?" Scarlet berpikir sesuatu karena kata-kata itu sedikit ganjal.
"Aku tidak menyangka bahwa kembaran Versha merupakan seorang Savior." ucap Ares sambil menatap kagum Tersa.
"Benar sekali."
"Asera, bagaimana kamu tau?" Scarlet bingung karena tumben Ares pintar.
"Aku hanya menebak saja tapi aku tidak menyangka ternyata benar." Ares kini dalam mode sombongnya.
"Aku menyesal bertanya kepadamu."
"Kalau kau ada disini berarti Dyret juga ada?" terka Versha.
"Benar sekali, dimana ada Plevra disitu ada Dyret yang juga berarti ada Savior." pikir Scarlet.
Savior, Dyret dan Plevra adalah kata asing bagi kalian tapi tidak dengan dunia ini. Plevra adalah suatu makhluk yang mirip dengan manusia hanya saja bentuknya sedikit lebih menyeramkan, Plevra ada dari sisi gelap para manusia. Dia suka menghancurkan apapun yang menghalangi rencana-nya bahkan membunuh tanpa pandang bulu.
Dyret adalah hewan yang mempunyai kekuatan (magis) di luar nalar. Demi menjadi lebih kuat, biasanya Plevra menangkap Dyret untuk memakai kekuatannya dan melenyapkan seluruh dunia beserta isinya.
Savior, merekalah yang akan melindungi Dyret dari para plevra serta membunuh para Plevra untuk keselamatan dunia. Organisasi Savior dibuat oleh pemerintah yang disebar ke seluruh dunia bahkan sebagian dari Savior bekerja secara berkelompok untuk menangkap Plevra.
"Betul." Tersa lalu memandang kucing itu. "Komandan Zival yang memberikan misi ini kepadaku. Katanya, disini terdapat dyret yang merupakan seekor kucing. Ku kira kucing ini adalah Dyret ternyata bukan."
"Komandan? Apakah itu komandan yang berada di Markas 30?"
"Benar."
"Jadi kamu dan Versha mengenal komandan Zival yang pernah ada di tv?! Itu sangat hebat! Apakah dia ganteng seperti di tv?" balas Ares dengan semangat dan yang ketiga kalinya dia kena pukulan Scarlet lagi.
"Engggh....." Tersa dan Versha hanya melirik satu sama lain.
"Jangan malu-maluin!" bisik Scarlet.
"Iya tau." balas Ares cemberut walaupun begitu nanti dia akan mengulanginya kembali.
"Versha, teman kamu sehat?" ucap Tersa pelan.
"Gak, padahal kami sudah mengirimnya ke rumah sakit (jiwa) tapi gak berhasil malah pasien-pasien disana yang jadi waras." Tersa hanya menatap simpati kepada Aree.
"Tunggu, kalau Versha mengenal Komandan Zival berarti dia_"
"Dia adalah Savior juga... Itu sangat sangat hebat!" potong Ares. Kini Scarlet hanya menghela nafas yang menandakan bahwa dia sudah lelah dengan sikap Ares. "Wah, jadi kalian adalah sepasang kembar yang merupakan seorang Savior. Kamu kok gak pernah bilang kalau selama ini kamu seorang Savior?"
"Apakah kamu pikir aku ingin menjadi seorang Savior?"
Saat itu semuanya menjadi hening. Ares yang biasanya akan bertanya balik memilih untuk diam dan terlihat Tersa memalingkan wajahnya. Disitu Scarlet tau bahwa ada yang tidak beres dengan Versha.