
Plevra itu tertawa puas dengan apa yang telah dia lakukan. Sial, aku tertipu oleh makhluk rendahan seperti itu.
"APA MASALAHMU?!!" aku berteriak kesal. sungguh, aku tidak suka berbasa-basi.
Aku menyeka darah yang keluar dari pipiku sedangkan dia masih tertawa puas.
"Menyebalkan!! Sudahlah lupakan saja! Lebih baik aku bertarung dengan Plevra daripada melakukan hal ini!"
Aku dapat mengakui kalau aku sangat tidak cocok dalam hal ini.
"Apakah manusia selemah ini?!" dia tersenyum remeh dan aku membalasnya dengan tatapan sinis.
"Mendingan begini saja, bagaimana jika kau menceritakan masalahmu? Siapa tau aku bisa membantumu dan kamu bisa pergi dengan tenang."
"Kau terlalu percaya diri sekali, Manusia! Kamu menganggap bahwa ini semua adalah hal mudah. Ingatlah bahwa aku ini Plevra tingkat 3!!"
"Aku tidak peduli tentang hal itu. Aku hanya ingin semua ini cepat selesai."
Setelah percakapan itu, semuanya menjadi hening. Tidak ada yang mengangkat suara. Aku tidak pandai dalam mencari topik dan aku juga bukan pendengar yang baik. Plevra itu terus menundukkan kepalanya. Aku dan dia berjarak 2,5 meter walaupun dia dirantai, aku melakukan hal itu untuk berjaga-jaga belum lagi kondisi tubuhku belum pulih sempurna. Aku mencoba berpikir untuk menyelesaikan hal ini karena waktu terus berjalan. Jika aku menyerah maka hal yang ku lakukan sebelumnya percuma saja.
"Baiklah!" aku berdiri menghampiri Plevra itu dan dia masih belum menunjukkan reaksi. "Akhir-akhir ini semuanya tampak melelahkan... Aku saja masih tidak percaya bahwa aku ada disini." Aku duduk tidak jauh dari Plevra itu.
"Kau bercerita tentang hal itu tapi tidak ada satupun yang mendengarkan, dasar bodoh!"
"Walaupun kamu bukan manusia aku yakin bahwa kamu pasti memiliki indera pendengaran." Plevra itu memutar bola matanya dengan malas. "Semua ini terlalu tiba-tiba dan sangat cepat berubah."
Plevra itu terlihat sedang merenung, "Aku juga merasakan hal itu."
Sepertinya dia terpancing padahal aku hanya asal menebak karena aku bukan orang yang pintar mencari kata-kata tapi jika berpura-pura atau berakting mungkin aku bisa melakukannya.
"Merasakan hal itu?"
"Apakah kamu tidak tahu atau tidak pernah diberitahu?"
"Tidak."
"Plevra seperti kami juga memiliki perasaan dan kami selalu terhubung dengan Ork."
"Ork?"
"Iya, Ork adalah orang yang membuat makhluk seperti kami. Para Savior juga mengetahui tentang hal ini."
Aku mengangguk mengerti, "Kalau kami (Orang Umum) biasa memanggilnya dengan sebutan Pemilik Plevra."
"BWAHAHAHAHA, Manusia memang selalu seperti itu."
Apakah barusan dia sedang mengejek kami?
"Ini semua karena para Savior tidak pernah menjelaskan apapun pada kami, mereka hanya menjelaskan tentang Plevra, Dyret dan Savior, itupun dengan tidak lengkap. Tapi ketika kami bertanya mengapa hal itu tidak dijelaskan secara rinci, mereka takut kami akan panik. Mereka hanya mengatakan jika bertemu dengan Plevra harus melaporkannya dan jika ada pertarungan antar Savior dan Plevra segeralah menjauh karena itu bukan hal yang dapat kami selesaikan."
Lagi-lagi dia tertawa. "Aku heran, kenapa para Manusia suka sekali saling membohongi. Kau bilang hanya para Savior yang bisa memusnahkan kami?" aku mengangguk, aku berkata seperti itu karena memang itulah faktanya. "Itu salah! Biar kuberitahu, bahwa siapapun bisa melakukannya walaupun dia tidak memiliki Ner aktif. Selama ini kalian dibohongi dan jika kamu tau, tidak semua Savior adalah orang yang baik."
"Sepertinya memang begitu."
Sesaat semuanya hening kembali.
"Aku terkagum olehmu karena kamu bisa melewati ujian yang pertama. Kamu pasti punya alasan khusus untuk berada disini."
"Untuk menjadi lebih kuat."
Plevra itu tersenyum, "Aku dapat merasakan bahwa kamu berbeda."
"Aku tau, tapi kamu lebih spesial. Aku juga melihat bahwa kamu orang yang jarang sekali tersenyum."
"Itu karena tidak ada alasan untukku tersenyum."
"Setidaknya kamu masih mempunyai orang-orang yang dapat kamu percaya sedangkan aku selalu merasa kesepian."
"Jika aku bisa memilih, aku ingin bertukar kehidupan denganmu. Aku lebih menyukai kesendirian. Hidupku tidak pernah merasa tenang."
"Hidup dengan damai adalah sebuah kata yang mustahil karena seberapa jauh kamu pergi, masalah akan selalu datang sampai kamu benar-benar menghilang dari dunia."
"Kita sudahi saja percakapan ini! Sekarang katakanlah apa masalahmu agar ini semua cepat berakhir." Aku bangkit berdiri sambil membersihkan pakaianku dari debu.
Tersenyum mengejek, "Sepertinya karena percakapan tadi, dirimu terlihat lebih percaya diri."
"Karena aku tidak ingin membuang-buang waktu."
"Kamu tidak usah repot-repot..."
"Repot-repot kenapa?"
Dia hanya tersenyum dan itu adalah senyuman tulus. Apakah aku berhasil? Sampai akhirnya aku menatap tidak percaya, aku melihat Plevra itu berubah menjadi sesosok gadis yang cantik. Rantai-rantai yang mengikatya terlepas dan bahkan dia melayang, tubunya secara perlahan mulai menghilang sama seperti aku melihat Plevra milik Versha tapi kali ini dia tidak langsung menghilang.
"Apa... apa yang terjadi? Apakah dirimu telah mengikhlaskan masalahmu?"
"Sebenarnya aku masih belum menerima tentang apa yang menimpaku tapi Ork ku akan tiada sebentar lagi karena aku dapat merasakannya."
Aku mendengar suara dinding yang bergeser dan disana aku meliat Komandan dan Kak fecter.
"Kau beruntung, Scarlet. Kau tidak harus repot-repot memurnikan dirinya karena dia sebentar lagi akan tiada bersama Ork nya tapi setidaknya kau telah menemaninya disaat terakhirnya." ucap Komandan Zival. "Walaupun aku agak kecewa karena Fecter memberikanmu Plevra yang salah seharusnya dia memberikanmu Plevra yang dipenuhi dengan aura gelap, bukan yang sebentar lagi akan tiada."
Fecter membungkukkan badannya, "Maafkan saya Komandan!"
Mendengar perkataannya aku lebih memilih untuk menghabisi Komandan Zival daripada Plevra.
"Jadi namamu adalah Scarlet. Dibandingkan dengan Plevra, kamu harus lebih berhati-hati dengan orang itu!" Plevra itu menatap Komandan Zival dan orang yang ditatap nampak tidak peduli. "Terima kasih atas waktunya. Bisakah aku memintamu sesuatu?"
"Apa itu?"
"Aku menyukai bunga Lily."
"Nanti aku akan melakukannya."
"Terima kasih, Scarlet. Sebenarnya aku ingin memberitahumu bahwa aura yang kamu miliki sangatlah gelap."
setelah itu dia menghilang, butiran-butiran cahaya berjatuhan berbeda sekali dengan Plevra milik Versha.
"Siapa dia?" mataku tidak hentinya menatap kagum pada butiran cahaya tersebut
"Dia bernama Hiran Galbika Sivelra. Dari informasi yang kudapat, dia adalah seorang gadis cantik yang sangat kesepian. Dia tidak mempunyai siapapun lagi kecuali ibunya dan ibunya selalu bekerja sehingga tidak bisa meluangkan waktunya kepada putrinya. Karena kecantikannya, dia dijadikan korban bullying di sekolah oleh anak-anak perempuan yang iri kepadanya. Sampai suatu hari, sekelompok perempuan yang merupakan kakak kelasnya menyiramkan minuman keras ke wajahnya yang mengakibatkan dirinya harus dilarikan ke rumah sakit. Dia juga sempat beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri." jelas Fecter.
Aku tidak menyangka bahwa kehidupannya dapat seburuk itu.
"Sudah selesai ceritanya? Apakah kamu merasa sedih sekarang, Scarlet?"
"Saya tidak BERSEDIH Komandan." aku menatapnya sinis tapi lagi-lagi dia tidak memperdulikan itu.
"Jika ini semua sudah selesai, mari kita lanjut ujian berikutnya!" dia berjalan menjauhi kami lalu berhenti, "Ada apa, Scarlet? Saya merasakan energi kebencian terpancar darimu. Apakah kau keberatan? Lagipula kau tidak terluka (parah)." Komandan Zival berbalik dan dia lagi-lagi tersenyum seperti itu.
Siapapun tolong beri aku pisau sekarang!