
"Apa yang kau maksud?"
"Manusia yang memiliki Ner aktif tidak sebanyak Plevra sedangkan para Plevra terus bertambah dan berkembang biak terlebih lagi manusia yang memiliki Ner aktif sebagai Oluplas sangatlah sedikit dibanding yang lain karena seorang Oluplas harus memiliki hati yang murni dan tidak terikat oleh apapun."
Ares nampak fokus dengan apa yang dibicarakan Tersa, "Emang tugas Oluplas apa?"
"Tugas Oluplas yaitu memurnikan para Plevra yang berarti membuat Plevra menghilang selama-lamanya. Jika kita tidak memurnikannya maka dia tidak akan pernah mati. Kami menyimpan Plevra di sebuah tabung hanya untuk sementara yang lalu dimurnikan dan memurnikan plevra tidak secepat yang dibayangkan, kita harus menghilangkan aura gelap yang ada dirinya terlebih dahulu. Bisa dari Plevra itu sendiri atau Pemiliknya."
"Tapi mengapa Plevra Versha bisa hilang sebelum dimurnikan?"
"Itu karena kata-katamu."
"Aku?"
"Ya, karena seorang Oluplas juga bisa mempengaruhi Plevra ataupun pemiliknya tapi tetap saja tidak semudah itu."
"Aku hebat banget!" Ares menatap dirinya dengan penuh kebanggaan.
"Walaupun begitu Pemilik Plevra juga bisa memurnikan sendiri dengan cara menerima dirinya sendiri."
Malam itu, sangat dingin dan sepi mungkin sebentar lagi akan hujan. Orang-orang memilih untuk diam di tempantnya masing-masing daripada harus keluar di cuaca seperti itu kecuali orang yang sekarang sedang duduk dihalaman belakang rumah sakit.
"Mau sampai kapan kamu melamun?"
"Dan kenapa kau ada disini?" dia malah balik bertanya.
"Aku hanya ingin keluar lalu melihatmu dan bisa aku tebak kalau kamu sedang memikirkan tawaran itu?"
"Sulit untuk memutuskannya."
"Aku tau itu berat karena aku juga pernah diposisimu."
Setelah itu keadaan menjadi hening hanya terdengar suara angin dan nafas mereka.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Bertanya apa?"
"Bukannya aku ingin campur urusan pribadimu tapi dimana keluargamu? Biasanya saat seseorang ditawarkan menjadi Savior, dia akan meminta izin kepada keluarganya atau hanya sekedar memberitaunya tapi aku tidak melihatmu melakukan itu?"
"Keluargaku sudah tiada."
"Maaf."
"Tidak apa-apa."
"Kalau begitu aku pergi dulu, kamu tidak ingin ikut?"
"Tidak. Aku akan disini sebentar lagi."
"Terserah dirimu saja, Scarlet."
___
"Jadi apa pilihan kalian sekarang?"
"Aku setuju."
"Dan kau?"
Menghela nafas, "Saya menyetujui tawaran anda."
"Bagus! Memang seharusnya kalian mengatakan itu. Sekarang saya akan menawarkan dua pilihan lagi kepada kalian."
Scarlet mengerutkan dahinya, "Apa itu?"
"Jika ingin menjadi seorang Savior, mereka harus menjalani latihan terlebih dahulu dan terdapat dua macam pelatihan disini. Yang satu sulit tapi aman dan satu lagi mudah tapi lama, jadi kalian mau milih yang mana?"
"Aku ingin memilih yang pertama?"
"Ares?!"
"Anda punya nyali besar sepertinya. Kalau yang pertama, kalian harus melewati 3 ujian yang sangat sulit. Hidup dan mati kalian ditanggung oleh diri masing-masing dan sudah banyak orang yang tiada disana. Kemungkinan kalian berhasil 5,5% terlebih lagi kalian masih pemula dan belum melakukan persiapan."
"Aku tetap tidak akan berubah pikiran."
"Bagaimana denganmu Scarlet, bukankah itu namamu?"
"Aku... Aku akan ikut seperti Ares."
"Baiklah kalau begitu. Saya beri waktu kalian selama satu jam lalu kita akan memulainya." Zival pergi dari ruangannya setelah itu.
"Apakah kita baru saja melakukan hal gila?"
"Biasa aja. Kita ini sudah sering melakukan hal gila."
"Itu dirimu saja! Nanti sebelum kau pergi, sampaikanlah pesan terakhirmu kepadaku biar nanti aku sampaikan kepada yang lain atau tidak permintaan terakhirmu. Aku melakukan itu agar kamu tenang disana. Tapi sayangnya kau tidak akan bisa datang ke pernikahanku dengan pange_" belum selesai Ares berbicara, Scarlet memukulnya dengan kencang.
Ares mengaduh kesakitan sambil memegang kepalanya.
"Berhentilah bercanda dengan kematian! Jangan menyepelekan nyawamu!"
"Aku ini hanya bercanda! Mengapa kau marah seperti itu?! Apakah kamu takut?"
"Tentu saja tidak! Percuma saja aku berbicara dengan orang bodoh seperti dirimu!"
"Aku orang bodoh? Beraninya kau mengejekku!"
"Salah sendiri, kenapa berbicara seperti itu."
Ares menjulurkan lidahnya. "Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya." mata Ares langsung berubah menjadi berbinar-binar.
"Jadi kau memilih yang pertama hanya karena ingin segera bertemu dengannya?"
"Begitulah."
___
"Ujian pertama dinamakan Ujian Pertaruhan karena disana kalian akan berhadapan oleh seorang Plevra langsung dan itu merupakan Plevra tingkat 3."
"Tingkat 3?"ucap mereka bersamaan.
"Biar saya jelaskan. Pertama-tama perkenalkan nama saya Fecter, saya merupakan asisten Komandan Zival. Plevra itu dibagi beberapa tingkatan dan tingkatan umumnya ada 3 tingkat. Tingkatan 1 adalah Plevra baru yang artinya Plevra yang baru terbentuk, dialah Plevra yang paling lemah tetapi sangat liar. Tingkatan 2 merupakan Plevra yang berevolusi dan dia sudah bisa memakai kekuatannya sendiri sedangkan Tingkatan 3, dia bisa mengendalikan Dyret."
"Tidak mungkin! Berarti yang kita lawan_"
"Betul sekali, Tingkatan 3 merupakan Plevra yang sudah ada di bumi selamat bertahun-tahun dan mereka biasanya lebih pintar."
Scarlet menengok kearah Ares yang memasang raut wajah seperti biasanya tidak takut bahwa kematiannya sudah didepan mata.
"Silahkan ambil satu alat untuk melawannya!"
Terdapat banyak sekali senjata tetapi senjata itu terlihat tidak menjamin kelangsungan hidup mereka. Mata Scarlet menemukan sebuah senjata yang sepertinya cocok untuknya.
"Pedang itu adalah pilihan yang bagus karena itu sepertinya cocok dengan Ner-mu."
"Aku memilih pisau ini saja. Pedang terlalu berat untukku lalu panah terlalu sulit dan pistol, aku tidak bisa menembak sedangkan yang lainnya aku tidak tau cara memakainya."
"Baiklah, kalian akan melakukan hal ini sendiri-sendiri. Ku harap kalian dapat keluar dengan utuh." Zival tersenyum yang sulit diartikan.
"Tunggu dulu_"
Tiba-tiba ada cahaya datang dan membuat mereka berdua menghilang.
"Komandan, saya tidak yakin kalau mereka_"
"Aku tau, Mari kita lihat sampai mana keberuntungan berada dipihak mereka." ucap Zival lalu melihat ke arah monitor.
(Scarlet POV)
Ketika aku membuka mata, aku berada diruangan putih dan tidak ada jalan keluar. Sial, aku tidak menyangka bahwa kami akan melakukan ini semua secara sendiri-sendiri. Aku saja tidak yakin dengan diriku, bagaimana dengan Ares?
"Sepertinya ada orang yang bosan dengan hidupnya."
Sepertinya yang ada di depanku adalah Plevra yang mereka bilang.
"Jangan pernah lengah saat berhadapan dengan musuhmu!!"
Plevra itu melemparku hingga menabrak dinding. Sepertinya badanku remuk. Plevra itu sangat cepat, mataku tidak sempat menangkap pergerakannya.
"Semut kecil sepertimu tidak akan menang melawanku!"
"Benarkah?"aku berusaha bangkit walaupun seluruh tulangku mungkin ada yang retak. Menyerah sekarang juga sudah terlanjur.
"Sekarang mari kita bermain!" dengan cepat dia membuatku tersungkur kembali. "Membosankan!"
Disini panas sekali, aku sulit bernafas. Apakah tidak ada angin? Tunggu... Angin? Itu dia!
Plevra itu hendak melayangkan kembali pukulannya tetapi dapat ditangkis olehku dengan pedang ini.
"Bagaimana bisa kau dapat_ AKHHHHH!!!!"
"Bukankah kau sendiri yang megatakan kepadaku bahwa tidak boleh lengah saat berhadapan dengan musuh?"
Aku memotong tangan kirinya tetapi perlahan tangan itu pulih kembali. Inikah Plevra tingkat 3?
"SUDAH CUKUP BERMAIN-MAINNYA SEKARANG!!!"