
"Baiklah, sekarang kita akan melanjutkan ujian yang berikutnya. Di ujian ini, kamu diharuskan membunuh apapun yang ada didalam ruangan itu dan tidak boleh keluar jika kamu belum membunuhnya! Atau kamu akan dinyatakan GAGAL!"
Entah mengapa ingin rasanya aku mencabik-cabik wajahnya yang sok tampan padahal dilihat dari sosoknya seperti orang yang sangat berwibawa tapi setelah dilihat kelakuannya... Sangat menyebalkan.
"Dan senjata yang kamu pakai adalah senjata yang kamu pilih saat ujian pertama."
"Hm..."
"Karena saya adalah orang yang baik, saat kamu gagal, kamu tetap akan menjadi seorang Savior setelah menjalani pelatihan selama 6 bulan. Itu semua karena kamu masih dapat hidup setelah melewati kedua ujian ini."
"Sama-sama PUJIANnya."
"Ada apa? Kamu seperti tidak terlihat senang? Padahal saya sudah memberikan dipensasi loh."
"Kata siapa? Saya sangat SENANG kok, Komandan."
"Bagus... kalau kamu berhasil melewati ujian ini kamu akan masuk kedalam grup A, tim 3 dan menjadikanmu seorang ketua."
"Grup A?"
"Di grup A merupakan perkumpulan Savior paling terbaik."
Aku mengangguk mengerti lalu aku terfikir sesuatu, "Mengapa Komandan seolah-olah berfikir saya akan gagal?"
Tersenyum sinis, "Karena saya tidak yakin kamu akan berhasil."
"Benarkah? Mari kita lihat! Jika saya berhasil anda harus menuruti seluruh perkataan saya! Bagaimana?"
"Apakah ini taruhan?"
"Tentu saja."
"Baiklah, kita lihat saja nanti. Kamu akan membunuh atau dibunuh?!"
Setelah itu cahaya datang dan ketiga kalinya aku berada di ruangan ini.
"kosong?"
Aku melihat ke sekeliling dan disini hanya ada diriku.
"Siapa lawanku?" aku bergumam.
"Scarlet..."
Suara itu berasal dari arah belakang dan aku merasa sangat mengenal suara itu. Ketika aku berbalik, aku mengerti kenapa aku merasakan hal itu dan sekarang aku bingung, apakah dia lawanku? Karena lawanku sekarang adalah
orang yang selalu bersamaku.
"Ares? Itu kamu?"
"Tentu saja, Scarlet." dia tersenyum dan senyuman itu aku sangat mengenalnya.
"Kamu masih hidup?"
"Tidak... Aku ini arwah." dia berkata dengan memasang wajah datar.
Bletakkk
"Bisa gak sih, gak mukul?!!" Ares mengaduh kesakitan tapi aku tidak peduli.
"Lagian kamu tanya begitu!"
Sekarang aku bingung. Apa yang harus kulakukan? Apakah Ares benar-benar lawanku?
"Emm... Bagaimana kamu bisa bertahan melewati ujian sebelumnya?"
"Kalau soal itu ketika ujian pertama aku berhadapan dengan Plevra dari seorang kakek lalu yang kedua_"
"Tidak usah dilanjutkan! Aku tau apa yang kau lakukan di ujian yang kedua."
Aku tidak masalah dengan ujian yang kedua karena dia seorang Oulplas tapi yang pertama... Sudahlah! Lupakan saja.
"Aku lega kamu masih hidup."
"Kamu.. mengkhawatirkan diriku?"
"Tentu saja, kita ini teman. Apakah kamu mengira kita bukan teman?"
"Bu.. Bukan begitu hanya saja aku..."
"Hanya saja apa?"
Aku langsung menyerangnya sehingga membuat pundaknya mengeluarkan darah, "Maaf, tapi sejak dulu kita bukanlah teman."
"Apa?" dia memegang pundaknya berusaha menghentikan pendarahannya.
Seharusnya sudah kuduga dari kata-katanya bahwa inilah yang akan terjadi pantas saja Kak Fecter berekspresi seperti itu. Awas kau!! Kini aku bersumpah bahwa nanti aku akan mengacak-ngacak ruangan milik Komandan Zival kalau perlu membakarnya!!!
"Eh?!!"
"Ada apa Komandan?"
"Aku merasa ada seseorang yang ingin membunuhku."
"Bukannya setiap hari selalu ada yang ingin membunuh Komandan?
"Betul juga."
Fecter hanya tersenyum kikuk melihat sifat Komandannya yang terkadang sulit ditebak.
"Kamu bodoh ya? Lagipula kita disini juga ditemukan untuk menjadi lawan!"
"Benar juga, soalnya tadi aku di suruh Komandan Zival untuk membunuh apa yang ada di dalam ruangan ini tapi masa aku harus membunuhmu?" Ares terlihat berfikir, "Bagimana kalau kita tawar Komandan Zival untuk saling melukai setidaknya itu lebih baik daripada membunuh."
Aku menepuk kepalaku sendiri bahkan sekarang Ares terlihat tidak peduli dengan luka yang ada di pundaknya.
"Tawaran Ares bagus juga... Aku juga tidak ingin mereka saling membunuh."
"Tapi bukankah peraturannya mengharuskan saling membunuh?"
"Aku ini Komandannya jika tidak ada yang terima suruh dia menghadapku!"
"Tapi kalau yang tidak terima Jendral Asher bagaimana?"
Hening... Itulah yang terjadi setelahnya.