SAVIOR

SAVIOR
Chapter II : Fond Memories



Angin mulai berhembus kencang, dan belum ada yang mengeluarkan suara sekalipun setelah Versha mengatakan itu.


"Sudahlah, lebih baik aku pergi saja. Tidak ada gunanya aku terus disini." Tersa akhirnya membuka percakapan. "Sebaiknya, kamu juga mulai aktif kembali! Aku tidak bisa membayangkan jika Ayah mengetahui bahwa salah satu putrinya berpura-pura (sangat) sibuk di asrama barunya yang sebenarnya berusaha menghindar dari tugasnya."


"Siapa yang peduli tentang hal itu."


"Itu terserah dirimu saja setidaknya aku sudah memperingatkanmu." setelah mengatakan itu Tersa pergi begitu saja.


"Versha." ucap Asera.


"Aku butuh waktu sendiri. Tolong, jangan cari aku! Dan cepatlah kalian pulang karena seperti yang kalian dengar bahwa disini ada Plevra."


"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan?" gumam Scarlet sambil menatap kepergian Versha.


___


"Versha, kok kamu kelihatan murung?"


"Tidak apa-apa."


"Cerita aja! Mungkin kakak bisa memberi solusi."


"Sebenarnya aku takut mendapat nilai jelek di sekolah kalau aku benar-benar mendapat nilai jelek pasti ayah akan memarahiku."


"Jangan takut! Kakak-kan ada disini. Bagaimana jika kakak membantumu belajar agar dapat nilai bagus."


"Mau!" perempuan itu terkekeh melihat Versha seperti anak kecil yang sedang meminta es krim.


___


"Kakak!"


"Ada apa, sayang?" Versa menuju perempuan itu dengan wajah gembira "Kakak tau gak? Aku dapat nilai paling sempurna di sekolah loh bahkan aku mengalahkan Tersa."


"Itu hebat!"


"Ini semua berkat kakak" Versha tersenyum senang karena semua yang diajarkan Kakaknya tidak sia-sia.


"Chh, sombong" terlihat Tersa berada si pintu sambil menyilangkan tangan.


"Bila aja iri."


"Aku tidak iri!"


"Tidak!"


"Iri!"


"Tidak!"


Sedangkan perempuan itu hanya tersenyum melihat adik kembarannya sedang berada mulut.


"Bagaimana kalau kakak beliin kalian berdua es krim, mau?" perkataan itu sukses membuat kedua adiknya berhenti.


"Mau!" balas mereka dengan serempak dan mata yang berbinar.


"Tapi jangan bilang-bilang ke ibu karena_"


"Karena nanti ibu akan mengatakan gak boleh makan terlalu banyak es krim nanti kalian sakit gigi. Kalian juga akan akan sulit tidur gara-gara sakit gigi terus bla...bla...bla..." Tersa memotong perkataan kakaknya lalu menirukan suara dan gaya ibunya.


"Tersa-kan sering banget buat ibu jadi marah makanya dia hafal semua perkataan dan gaya ibu." Versha tertawa melihatnya yang dengan lihai menirukan suara dan gaya ibunya.


"Dasar kalian anak nakal!" tiba-tiba saja datang seorang wanita sambil menjewer Tersa.


"Ampun Bu! Mulut aku tadi kepeleset."


"Gak ada alasan lagi! Hari ini kamu gak boleh main keluar!"


"Tidak!!" Versa hanya menahan tawa melihat kembaran nya sedang diomelin dan lagi-lagi Perempuan itu tersenyum melihat adik-adiknya dapat akur lagi sehabis bertengkar dan yang pasti akan selalu seperti itu.


___


(Versha POV)


Kini aku sedang terbangun dari mimpi, dimana aku berandai bahwa waktu dapat terulang kembali. Yah, andai saja waktu dapat diulang.


"Apakah Kakak sudah tenang disana? Apakah kakak rindu denganku? Karena aku sangat merindukanmu." aku bergumam seraya menatap langit senja, "Bisakah kita kembali seperti dulu lagi?"


Aku sudah tidak bisa menahan air mata ini lagi, dan semua beban. Bisakah aku menyusulmu? Sekiranya kita bisa bahagia disana.


Bommm


Tiba-tiba saja aku mendengar suara ledakan kecil dari arah timur, paling itu Tersa dan kelompoknya yang sedang melawan Plevra.


"Syukurlah kalau Scarlet dan Ares sudah pergi dari sini." aku menghela nafas lega sembari menyandarkan diri di pohon belakangku. Dan aku tidak ada niat untuk membantu kembaranku karena aku percaya bahwa dia dapat menyelesaikannya. "Tunggu!!! Apakah Ares dan Scarlet sudah benar-benar pergi dari sini?"