
Tiba-tiba Ares tertawa kembali, "Ekspresimu lucu sekali, Santai aja jangan tegang! Apakah aku menakutimu?" Ares tersenyum mengejek.
Versha tidak menjawab perkataan Ares hanya saja dia memukulnya.
"Kenapa kau memukulku! Sakit tau!!"
"Salah siapa, kau tidak sopan?"
"Jangan marah-marah kayak Scarlet, gak baik buat kesehatan nanti darah tinggi."
"Kalau mau sindir mendingan langsung di depan dia aja!"
"Gak mau! Nanti aku dipukul sama dia." Ares langsung mengerucutkan bibirnya.
"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?"
"Tidak tau." setelah itu Ares memanjat pohon dan duduk didahan pohon itu.
"Aku bosan, gimana kalau kita jalan-jalan?"
Versha letih, Ares masih sempat-sempatnya memikirkan hal itu dalam keadaan yang seperti ini.
"Mendingan kita bantu Scarlet aja!"
"Gak mau, malas. Bukannya kita disini untuk jalan-jalan?"
"Bentar lagi malam, berbahaya!"
"Kalau begitu aku saja yang pergi." Ares turun lalu segera pergi dari tempat itu dan dengan terpaksa dia mengikuti Ares.
"Versha."
"Apa?"
"Masa lalu memanglah menyakitkan tapi tidak ada gunanya hidup dengan bergelut pada masa lalu. Kita hidup di masa sekarang dan untuk masa depan bukan untuk masa lalu. Ingatlah, kalau kami akan selalu ada disampingmu."
"Ares..."
"Bagaimana kalau kita bermain kejar-kejaran?"
"Ha?"
"Kau yang jaga!!" Ares berteriak sambil berlari.
"ARES!!!" Versha berteriak kesal padahal baru saja dia membuatnya terkesan.
___
"Dimana sih anak itu?" Versha tertinggal jauh karena Ares berlari terlalu cepat. "Kenapa aku punya teman seperti dia? Sangat kekanak-kanakan. Bagaimana jika dirinya nanti tersesat? Atau gak dia terkena sesuatu? Ares mengapa kamu selalu merepotkan?"
Saat dia berjalan semakin jauh, Versha merasa ada yang aneh ketika dia melihat banyak kabut disekitar dirinya.
"Sial!" setelah itu Versha tidak sadarkan diri.
(Versha POV)
"SHASA!" seorang laki-laki datang dengan orang yang berjumlah lebih dari 18 dibelakangnya. "CEPAT SELAMATKAN PUTRIKU!!" laki-laki itu berteriak dan beberapa orang terlihat sedang mengecek keadaan Shasa sampai akhirnya salah satu dari mereka menggelengkan kepalanya.
Laki-laki itu terlihat menangis sambil memangku anaknya yang sudah tidak bernyawa.
___
Aku melihat dengan jelas bagaimana Kak Shasa tiada dihadapanku. Mengapa aku harus melihat kejadian yang tidak ingin ku lihat kembali.
"Kau adalah pembunuh!"
Bahkan sekarang diriku yang kecil menyalahkanku.
"KAULAH YANG MEMBUNUHNYA!!! KENAPA KAU MELAKUKAN TINDAKAN SEBODOH ITU?!!"
"Dan aku adalah dirimu."
"Kenapa kau melakukan itu, Versha?"
"Kak Shasa..."
Aku berlari sekuat tenaga dan ketika aku ingin memeluknya, dia menghilang.
"Kenapa, kenapa semuanya harus seperti ini?" aku menangis sambil mengutuk diriku yang bodoh ini.
___
"Dia adiknya Shasa, tapi mengapa dia lemah?"
"Bahkan kembarannya lebih hebat darinya."
"Selama ini dia diakui karena berasal dari keluarga terhormat."
"Ssst, jangan terlalu kencang nanti dia dengar lalu mengadukannya ke ayahnya."
Dan anak yang dibicarakan oleh mereka memilih untuk diam karena dia tau bahwa yang dikatakan oleh mereka adalah sebuah kebenaran.
___
___
"Ayah lihat! Aku mendapat nilai A+ dalam matematika."
"Hm, bagus. Sana pergi! Ayah sedang sibuk." tetapi mata laki-laki itu masih fokus terhadap laptonya dan itu membuat hati sang anak kecewa.
"Ayah, aku dapat nilai A dalam pelajaran Matematika." seorang anak yang mirip dengannya datang tapi kali ini ayahnya menengok ke arah anak itu sambil tersenyum.
"Pinternya anak ayah. Bagaimana kalau nanti ayah beliin boneka?" dia mengusap kepala anaknya dengan lembut.
"Mau!"
"Kalau begitu nanti sore kita pergi."
"Tersa dapat nilai bagus?" seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.
"Ya bu."
"Itu bagus, nanti ibu masakan makanan kesukaan Tersa."
"Horee!"
Di satu sisi ada anak yang sedang bahagia dan disisi lain ada seorang anak yang menatap dengan hati terluka, padahal anak itu mendapat nilai yang lebih bagus. Dimanakah keadilan?
___
Aku ingat, biasanya saat seperti itu Kak Shasa datang menghiburku tapi semenjak dia tiada semuanya menjadi lebih buruk.
___
"Versha, kenapa kamu mendapat nilai 98 dalam pelajaran sejarah?!"
"Tersa saja dapat nilai 80, kenapa tidak diomelin?"
"Karena dia memiliki prestasi di bidang lain."
"BEGITU JUGA DENGANKU! KENAPA KALIAN HANYA MELIHAT TERSA? COBA SESEKALI LIHATLAH AKU!! JANGAN KARENA AKU INI LEMAH LALU KALIAN TIDAK MEMPERDULIKANKU?!"
___
Aku juga mengingat kejadian itu. Disaat itu juga, aku pergi dari mereka semua dan masuk kedalam Asrama agar aku tidak melihat mereka lagi dan tidak ingin mengingat masa lalu ku kembali, tapi sepertinya itu percuma saja sekarang.
Saat itu aku dan Tersa menjadi seorang Savior karena mengikuti jalan ayahku dan kakakku tapi pada kenyataannya mereka tetap saja hanya memperdulikan Tersa.
"Lihatlah betapa menyedihkannya kamu sekarang?" saat ini Plevra itu ada di hadapanku dengan wajahnya yang menjijikan.
"Coba kau berkaca dengan dirimu sendiri!"
"Chh, setidaknya aku tidak bodoh seperti kau."
"SUDAH CUKUP! AKU MUAK DENGAN INI SEMUA!!!"
"Lihatlah, sekarang kau sudah berani melawanku. Hebat!" Plevra itu bertepuk tangan. "Tapi itu semua tidak akan mengubah apa yang terjadi di masa lalu."
Lagi-lagi aku diam seribu kata. Keberanian yang ku miliki tadi seolah-olah menghilang begitu saja.
"Betapa lemahnya dirimu! Harus berjuang sendiri dalam kehidupan yang sama menyedihkan sepertimu." aku menatap jijik kepada Plevra ku sendiri yang sedang tertawa puas dengan penderitaan ku.
Tapi tunggu, aku tidak sendirian. Aku mempunyai Scalet dan Ares, benar, aku tidak sendirian.
"Masa lalu memanglah menyakitkan tapi tidak ada gunanya hidup dengan bergelut pada masa lalu. Kita hidup di masa sekarang dan untuk masa depan bukan untuk masa lalu. Ingatlah, kalau kami akan selalu ada disampingmu."
Kata-kata Ares terlintas di pikiran ku. Itu benar, aku tidak sendirian. Aku masih punya Scarlet dan Ares.
"Kata siapa? Kau lupa ya kalau aku masih mempunyai teman." kini aku balas dengan menatap remeh dirinya.
Dia diam sejenak, "Ta-tapi aku ini lebih kuat daripada dirimu!"
"Aku memang lemah tapi apakah kau mempunyai seorang teman?" aku tersenyum mengejek. "Aku memang bersalah. Masa lalu ku memang menyedihkan tapi sekarang aku ingin hidup bukan untuk masa lalu tapi untuk masa depan karena temanku pernah berkata kepadaku bahwa hidup dengan diselimuti oleh masa lalu tidak ada gunanya. Jadi, mulai saat ini, aku ingin hidup dalam kebebasan masa lalu."
Perlahan tubuh Plevra itu mulai menghilang, "TIDAK! INI TIDAK MUNGKIN!! AKU TIDAK INGIN MENGHILANG!!!"
Tiba-tiba saja dari bawah muncul tangan-tangan yang memegang kakiku.
"KALAU BEGITU, KAU JUGA HARUS IKUT DENGANKU!!"
Semakin lama aku tertarik ke bawah, semakin kesadaranku menghilang. Tapi tidak apa-apa karena pada akhirnya aku senang karena aku tidak terikat oleh masa lalu lagi. Scarlet, Ares akhirnya aku berhasil. Tersa, ayah, ibu maafkan aku yang selalu merepotkan kalian walau pada akhirnya aku harus pergi. Terima kasih semuanya.
___
"Loh kenapa Plevra itu menghilang?" saat ini Scarlet bingung karena Plevra itu hilang di tengah-tengah pertarungan dan belum ia kalahkan.
Kelompok Tersa tiba-tiba datang dari arah belakang. "Scarlet!"
"Tersa, Ada apa?"
"Versha dimana? Aku mempunyai firasat yang tidak enak."
"Bukannya Versha bersama Ares... Oh tidak!!"
Disisi lain seseorang bahagia atas seluruh penderitaannya walaupun akhirnya dia harus tiada.