
"Kapan dia terbangun?"
"Tidak tau."
"Aku tau, bagaimana cara membangunkannya."
"Bagaimana?"
Orang itu segera mengambil sebuah gelas dan langsung menyiramnya kepada seseorang yang tertidur.
"Dia gila!!!"
Dan orang yang tertidur itu perlahan-lahan membuka mata.
"Versha, kau bisa mendengarku?" Tersa langsung menghampiri saudara kembarnya.
Berbeda dengan Tersa, Scarlet sepertinya sudah biasa dengan sikap Ares yang susah ditebak. "Tapi setidaknya itu berhasil."
"Wah, ideku berhasil." Ares tersenyum senang.
"Apa yang terjadi?" Versha masih merasa pusing.
"Saat itu, aku menemukanmu sedang pingsan tapi untungnya ada Savior lain disana dan kami membawamu ke rumah sakit lalu kami menghubungi Scarlet dan Tersa untuk memberitau bahwa kondisi kamu lagi kritis."
"Bisakah untuk tidak menceritakan yang bagian akhir?" Tersa merasa bahwa kalimat terakhir sungguh tidak pantas.
"Tidak." Ares mengatakan itu masih dengan wajah cerianya.
"Aku senang, kau berhasil."
"Aku berhasil berkat teman-temanku."
"Terima kasih pujiannya." sedangkan Scarlet hanya menganggukan kepalanya.
"Ngomong-ngomong aku pingsan berapa lama?"
Ares tersenyum, "Dua minggu."
"APA?!!"
"Kamu tertipu! Kamu hanya pingsan selama tiga hari."Ares tertawa jahil.
Sret
Terdengar suara pintu terbuka dan seorang wanita patuh baya memasuki kamar tersebut.
"Ibu."
"Syukurlah kau tidak apa-apa. Ibu sangat mengkhawatirkan dirimu. Tadi pagi, Tersa menelpon dan menceritakan semuanya."
"Apakah aku merepotkan ibu?"
"Tidak, sayang." Ibu itu memeluk putrinya dengan lembut.
"Dibanding Versha, Ares lebih merepotkan."
"Loh kok aku?!"
Scarlet menengok ke arah Ares. "Itu memang fakta."
"Abaikan aja mereka! mereka sudah biasa melakukan itu." Tersa menengok ke arah mereka berdua yang sedang berdebat dengan wajah datar karena mereka merusak momen mengharukan.
"Jadi ini teman-temannya Versha di asrama?"
"Ya, Tante. Kenalin aku Ares dan yang ini Scarlet."
Ibu itu tersenyum, "Sudah lama ya, saya tidak dipanggil tante diumur saya yang segini"
"Itu sangat disayangkan padahal tante ini cantik loh."
"Pintar aja kamu."
"Jadi ini siapa sih yang anak Ibu?" Tersa berkomentar karena sendari mereka seolah diabaikan.
"Benar juga ya. Ngomongin anak, ibu jadi pengen punya anak lagi."
"HA?" Tersa dan Versha mengucapkannya secara bersamaan.
"Ibu bercanda kok." wanita itu tertawa kecil.
"Syukurlah." Tersa dan Versha bernapas lega.
"Tapi kalau kalian mau, gak apa-apa. Nanti coba Ibu bilang sama Ayah."
"Gak usah!!"
"Ibu aku memang kadang-kadang rada begitu." Versha berbisik kepada Scarlet dan menghentikan pikiran Scarlet yang mulai terbang liar.
___
"Tante lagi ngupas apel?"
"Ya, sayang."
"Mau dong!"
"Silahkan diambil aja! Ambil semuanya juga gak apa-apa."
"Terima kasih." dan sesuai yang Ibunya Versha katakan, Ares membawa sepiring apel tersebut dan memakannya sedangkan Ibunya Versha melanjutkan kembali mengupas apel yang lain.
"Kayaknya ibu kamu gampang banget dekat sama Ares."
"Mungkin ibu dan Ares merupakan spesies yang sama namun berbeda jenis?"
Scarlet mengiyakan. "Tunggu dulu, berarti ibu kamu dan Ares bukan manusia?"
"Mungkin saja."
Oke, sepertinya Scarlet berfikir bahwa hanya dia seorang yang masih waras sekarang.
"Versha."
"Ada apa Bu?"
"Tersa dimana?"
"Katanya dia mau keluar sebentar."
Seselang beberapa menit Tersa kembali dengan raut wajah yang berbeda.
"Ares, Scarlet ikut aku!"
"Ada apa?" tanya Ares.
"Tidak tau." lalu Scarlet nengok kearah Versha dan dia menganggukkan kepala.
Mereka dibawa ke halaman belakang rumah sakit dan disana ada Nion.
"Jadi, ada apa?"
"Kalian berdua disuruh ke Markas 30 oleh komandan."
"Mengapa?"
"Lebih baik kalian ikut dulu."
Scarlet menengok ke arah Ares yang berbinar-binar.
"Wah, kita akan bertemu komandan Zival."bisik Ares dengan semangat.
"Sebaiknya nanti kamu jaga sikap!"
"Ok." walaupun Scarlet sendiri tidak yakin bahwa Ares akan melakukan apa yang dia perintah.
"Aku tidak ikut mengantar kalian kesana. Nion, aku titip mereka!"
"Baik."
"Dadah Tersa." Ares melambaikan tangannya dan Tersa membalasnya dengan ikut melambaikan tangan.
Mereka pergi dengan menaiki mobil milik Nion, jadi jangan tanya siapa yang menyetir.
Saat mereka tiba, banyak Savior yang berlalu-lalang. Mereka langsung dibawa ke sebuah ruangan, disana ada Luren dan seorang pria yang masih tergolong muda.
"Jadi ini anaknya?"
"Iya, komandan." balas Luren.
"Kenapa anda membawa kami berdua kemari?"
"Mereka telah menjelaskan apa yang terjadi tiga hari yang lalu dan saya menjadi tertarik kepada kalian berdua."
"Kenapa?" sekarang Ares yang bertanya.
"Karena kalian merupakan orang yang terpilih."
Ares nampak tidak mengerti apa yang Zival bucarakan, "Maksudmu?"
"Seseorang menjadi Savior karena ditubuh memiliki memiliki energi yang berbeda dengan manusia lainnya, kami biasa menyebutnya sebagai Ner. Dan di dunia ini terdapat tiga macam Ner yaitu Ner aktif dan tidak aktif, dan Ner keturunan. Savior seperti kami memiliki Ner aktif, adapun Ner keturunan seperti Tersa dan Versa."
"Jangan bilang kalau kami..."
"Ya, kalian memiliki Ner aktif."
"Itu hebat!! Scarlet kita mempunyai Ner aktif."
"Berisik!" Ares langsung cemberut.
"Nion berkata bahwa kau dapat mengangkat pedangnya padahal pedang itu sangat berat dan sulit untuk dikontrol tapi kau dapat dengan mudahnya menggunakannya. Lalu Luren memberitauku bahwa kau menemukan Savior lain yang tertidur akibat kabut Nimary tapi kau tidak berpengaruh terhadap Nimary tersebut padahal orang biasa langsung tertidur dan, hanya seorang Oluplas yang tidak akan berpengaruh terhadap Nimary."
"Berarti aku ini seorang Oluplas?"
"Benar sekali. Jadi, saya disini ingin menawarkan apakah kalian bersedia menjadi Sa_"
"TENTU SAJA!!"Ares berteriak senang
"Apa kau gila?! Mengapa kau mengambil keputusan secepat itu? Menjadi seorang Savior adalah tanggung jawab yang besar."
"Aku tidak peduli."
"Sepertinya anda bersemangat sekali, Dan yang satu lagi apakah anda setuju?"
"Tolong berikan saya waktu!"
"Baiklah, saya akan memberi kalian waktu sampai besok. Jadi pikirkan baik-baik!"
___
"Apakah kamu sudah memutuskan?"
"Aku bingung."
Saat ini mereka ada di rumah sakit tepatnya di ruangan Versha. Versha mengetahui itu setelah Tersa menceritakan apa yang terjadi.
"Ares, kok kamu dengan segampang itu mau menjadi Savior?"
"Karena aku ingin melihat dia dari dekat."
"Maksudmu?"
"Tiga hari yang lalu, ketika kau tidak sadarkan diri. Aku melihatnya diantara para Savior lain. Dia adalah salah satu orang yang terjebak dalam kabut Nimary."
"Dan kau jatuh cinta padanya?"
"Ya, ketika mata kami saling bertemu_"
"Oke stop! Jadi kamu ingin menjadi Savior karena dia?"
"Ya."
"Ares dengarkan aku! Menjadi Savior itu tidaklah mudah karena kita akan berurusan dengan hidup dan mati. Dan kau bersedia melakukan itu karena sebuah kata CINTA?!!"
"Apa salahnya dengan itu?"
"ITU JELAS SALAH! BAGAIMANA JIKA NANTI DIA TIDAK MENCINTAIMU?? AKU TAU BAHWA DIRIMU SEDANG DALAM MASA PUBERTAS TAPI TIDAK HARUS MELAKUKAN HAL SEKONYOL ITU."
"Dia kenapa sih?" bisik Ares.
"Mungkin dia sedang datang bulan."
"Itu semua percuma karena Komandan Zival tidak akan melepaskannya begitu saja." Tersa datang dengan wajah serius.