SAVIOR

SAVIOR
Chapter III : The Second Time



Saat ini, aku sedang menuju ke tempat ledakan itu. Entah mengapa hatiku mengatakan kalau Ares dan Scarlet masih di tempat ini karena aku tau betul bahwa Asera bukan tipe orang yang akan menuruti perkataan seseorang begitu saja dan Scarlet mau tidak mau harus menurutinya. Kemungkinan besar mereka berdua ada disana terlebih lagi ada ledakan yang pasti menarik perhatian mereka.


"VERSHA KENAPA KAMU ADA DISINI?" ucap Tersa ketik melihatku.


"Aku hanya mencari Scarlet dan Asera."


"KAMU CEPATLAH PERGI DARI SINI! KEDUA TEMANMU TIDAK ADA DISINI!"


"Tidak mungkin! Pasti mereka ada disini, Aku yakin itu."


"TERSA CEPAT KESINI!" seseorang memanggilnya darai kejauhan.


"Baik."


Kondisi disini sangat berantakan dan berdebu. Diantara debu-debu tersebut aku melihat sesosok perempuan yang di tubuhnya banyak yang menghitam bahkan hangus. Aku merasakan aura gelap dari sosok itu dan sekarang aku tau siapa dirinya. Dialah Plevra tapi menurutku Plevra lebih pantas disebut monster karena bentuknya yang menyeramkan walaupun tidak semua Plevra seperti itu.


"VERSHA!"


"Scarlet?"


"Ares dimana?" terlihat wajah lelah dari Scarlet karena dia habis berlari.


"Ares? Bukankah dia bersamamu?"


Wajah Scarlet langsung memucat setelah aku mengatakan itu.


"Kok Ares gak ada? Dia kemana? Tunggu! Jangan bilang kalau Asera hilang?" aku baru sadar kalau Scarlet hanya sendiri. Tidak mendapat jawaban dari Scarlet, akupun mengacak rambut frustasi. "MENGAPA DIA BISA HILANG?"


"Saat kau pergi, Ares mengejarmu dan aku tidak sempat mengikutinya karena dia berlari begitu cepat. Aku kira dia bertemu denganmu. Aku sempat mencarinya sampai aku mendengar suara ledakan, ku kira Asera juga ada disini."


(Author POV)


"Kalau begitu aku akan mencari dia sekarang."


"Tunggu dulu!" Scarlet menghentikan Versha ketika dia hendak pergi. "Apakah masa lalumu sangatlah menyakitkan hingga dirimu tidak ingin membantu mereka?"


Versha tau apa yang dimaksud dengan 'mereka'


"Ini semua bukan urusanmu! Yang terpenting sekarang adalah Asera lagipula aku yakin mereka dapat menyelesaikan ini."


"Mereka memang dapat menyelesaikan ini dan satu nyawa adalah bayarannya." Versha mengikuti arah mata Scarlet yang sedang memandang seorang perempuan yang sedang kesakitan akibat luka yang dideritanya.


"KAK ELANCE!" Versha segera berlari menuju perempuan tersebut. "Ada apa dengan dia?"


"Dia terkena luka tusukan yang cukup besar di bagian perut dan kini tubuhnya mulai kehabisan darah. Kami sudah memanggil Hulthy yang lain tapi sampai sekarang belum ada yang datang mungkin ada suatu hal yang menutup akses mereka." jelas salah seorang cowok yang memakai kacamata. "Walaupun aku seorang Hulthy tapi luka ini terlalu sulit untuk ku tangani sendiri."


"Sial!" Tersa memijat pelipisnya frustasi.


"Kamu mengenal dia?" tanya Scarlet sambil menunjuk perempuan yang sedang terbaring.


"Ya. Dia adalah teman Kak Sha_"


"Kak Sha? Lalu?" Scarlet bingung karena Versha menghentikan kalimatnya.


"Tidak ada apa-apa... Ayok kita mencari Asera!"


SRETTT


"VERSHA!!" tiba-tiba saja Versha terlempar jauh hingga menabrak pepohonan.


"Plevra itu sangat sulit dihentikan! Sepertinya dia sudah berusia 1,5 tahun." seru Nion yang di tubuhnya telah dipenuhi luka.


ketika Plevra itu membuka mulutnya, dari tubuh Versha keluar Ner miliknya.


"Kita harus hentikan Plevra itu, sebelum dia menyerap habis Ner miliknya!" seru Lyca.


"Tapi kita semua sudah terlalu banyak menggunakan Ner." balas Nion.


"Mengapa tim lain belum sampai kesini?" tanya Versha.


"Aku menemukan adanya Plevra lain disekitar sini dan sepertinya dia menggunakan Nimary untuk menjebak tim lainnya." jelas Luren yang merupakan seorang Oluplas.


JLEB


Semua orang disana terkejut termasuk Versha sendiri karena dengan mudahnya Scarlet menusukan sebuah pedang tepat ke dada Plevra tersebut sehingga Plevra itu menjadi sebuah kumpulan asap dan disaat itu juga, Luren dengan sigap langsung mengeluarkan sebuah tabung yang langsung menyedot asap-asap itu.


"Tidak mungkin." mata Versha membulat sempurna. "Dia_"


"Itukan pedangku!" protes si pemilik pedang.


"Kapan dia mengambil pedang milik Nion?" tanya Luren.


"Cewek itu hebat juga." puji Elance yang sudah duduk sempurna.


"Kak Elance, kamu jangan bergerak dulu nanti lukamu tambah parah!"


"Tidak apa-apa! Aku sudah merasa lebih baik, terima kasih Vion." balas Elance sambil tersenyum kearah Vion.


"Eh i-iya." Vion segera memalingkan wajahnya yang memerah.


"Scarlet bagaimana kau bisa secepat itu?" tanya Versha.


"Aku juga tidak tau tapi yang terpenting kita semua selamat."


"Terima kasih Scarlet. Berkat dirimu kita semua bisa selamat karena sebelumnya kami sudah melenyapkan dua Plevra yang menguras banyak Ner kami." ucap Tersa.


"Sepertinya kalian sibuk sekali." balas Scarlet yang didapati senyuman Tersa. "Nih, kukembalikan pedangmu!" Scarlet memberikan kembali pedang itu kepada pemiliknya.


"Lain kali jangan seperti itu!"Nion mengambil pedangnya dengan rasa sedikit kesal.


"Scarlet, kita harus segera mencari Ares!"


"Ares? Teman kalian yang satu lagi?"


"Ya."balas Scarlet.


"Sebaiknya kalian harus segera mencari teman kalian itu sebelum hari semakin gelap karena di bukit ini banyak sekali Plevra. Aku tidak menjamin teman kalian masih ada." jelas Luren.


"Sebenarnya kami ingin membantu kalian tapi dengan keadaan kami yang seperti ini... kami sendiri bahkan tidak yakin." Lyca mencoba angkat suara.


"Aku senang dapat bertemu denganmu kembali, Versha." ucap Elance ramah.


"Ya, aku juga."


"Gawat!! Ada Plevra lain disini!"


"Aku tidak menyangka kau dapat mengetahui kehadiranku. Oluplas memang tidak dapat di remehkan begitu saja." lagi-lagi mereka dibuat terkejut untuk yang kedua kalinya.


"Kau_ tidak mungkin!"