Rise Again As A Rich Man

Rise Again As A Rich Man
Rise 9 - Anak perempuan



Isaac melenggang menyusuri jalan setapak yang tak lain merupakan jalan rahasia menuju rumahnya.


Setelah melangkah sepanjang jalan, Isaac akhirnya menemukan bangunan yang merupakan rumahnya.


"Akhirnya aku sampai," gumamnya pelan. Ia mempercepat langkahnya, berlari menuju bangunan yang dilihatnya.


Tiba di halaman belakang, ia segera menghampiri kamar di sisi selatan. Kamar yang letaknya dekat dengan taman, dan kamar yang tak lain adalah miliknya ketika dia tinggal di rumah itu.


Isaac menghampiri pintu kaca yang ada. Mengintip ke dalam ruangan yang dulu menjadi kamarnya.


Karena kacanya gelap, aku jadi tidak bisa melihat dengan jelas keadaan di dalam.


Apakah tidak ada orang?


Apa itu artinya, aku tidak pernah ada dalam keluarga ini kalau jiwaku sendiri berada dalam tubuh Isaac.


Isaac menundukkan kepalanya dengan raut wajah murung.


...*...


Perhatian anak perempuan itu seketika beralih saat ia merasa ada seseorang yang tengah mengawasinya.


Ia menoleh ke arah pintu kaca yang mengarah langsung ke taman di samping rumahnya.


Kaca yang gelap membuatnya tak bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri di sana.


Anak itu bangkit dari duduknya, mengalihkan fokusnya dari mainan yang sejak tadi ia mainkan.


Kaki mungilnya melangkah menghampiri pintu, dan menatap sosok anak laki-laki yang muncul tepat di luar pintunya.


"Kyaa!!"


"Kyaa!!"


Hera ikut berteriak ketika anak laki-laki itu tiba-tiba saja berteriak histeris.



Brukk!


Tubuh keduanya refleks jatuh di lantai. Keduanya sama sekali tak bisa menyembunyikan keterkejutan masing-masing.


Isaac termangu untuk sesaat. Wajahnya pucat, ia benar-benar kaget dengan apa yang baru saja muncul dihadapannya.


Anak perempuan berambut tak beraturan, dengan gaun tidur berwarna putih yang menutupi lututnya.


Untuk sesaat ia berpikir anak itu adalah hantu.


A-apa itu tadi? Isaac berusaha mencerna apa yang baru dilihatnya.


Di sisi yang sama, Hera tak kalah kagetnya dengan anak laki-laki itu.


Yang membuat anak perempuan itu kaget bukan karena Isaac yang mendadak muncul, melainkan karena anak laki-laki itu tiba-tiba saja berteriak sampai membuatnya kaget bukan main.


S-siapa itu tadi? batinnya.


Hera beranjak bangun secara perlahan. Rasa penasaran mendorongnya untuk mengecek lagi siapa yang ada di luar kamarnya.


Ia berjalan dengan perlahan menghampiri pintu kaca. Menempelkan tubuhnya di pintu hingga dia bisa dengan jelas melihat sosok Isaac yang mendongak ke arahnya dengan wajah pucat.


Isaac dan Hera beradu pandang. Hal itu membuat mereka seketika tersadar akan masing-masing.


"Huh?" Keduanya saling tatap dengan wajah bingung.


Anak perempuan? Siapa anak perempuan yang ada di kamarku itu? Kenapa dia ada di sana? Isaac mengerutkan keningnya—bingung.


Isaac bangkit. Berjalan menghampiri Hera, mengikis jarak yang membentang di antara mereka.


Hera tampak memiringkan kepalanya dengan wajah heran.


Siapa dia? Kenapa ada anak laki-laki di luar kamarku? Hera memperhatikannya dari atas sampai bawah.


Melihat dari penampilannya, sepertinya dia bukan orang aneh. Apakah dia tersesat? Hera memperhatikannya dalam waktu yang cukup lama sebelum kemudian perhatiannya disita oleh suara pintu terbuka.


"Hera, kau baik-baik saja, sayang?"


Hera menoleh ke arah datangnya suara, mendapati Trixie yang berjalan menghampirinya dengan wajah cemas. Di sampingnya, Lucas ikut berjalan. Ekspresinya sama cemasnya dengan Trixie.


"Mama, papa?"


Hera diam tanpa kata. Ia melirik keluar jendela, dan Isaac yang seharusnya ada di luar mendadak hilang dari pandangannya.


"Kenapa sayang? Apakah ada orang jahat di luar? Kenapa kau melihat keluar?" Lucas beranjak hendak mengecek keluar kamar putrinya guna memastikan semuanya aman.


Gawat! Kalau papa sampai melihat anak laki-laki itu bagaimana? Aku harus mencegahnya.


Hera menarik tangan Lucas, membuat langkah pria itu seketika terhenti.


"Tidak ada apa-apa di luar," katanya.


"Sungguh?"


"Lalu kenapa kau berteriak sayang?" Trixie kembali bertanya.


Hera sekali lagi diam. Ia bingung harus menjawab apa, padanya ia tidak terlalu pandai dalam mencari alasan.


"A-aku hanya terkejut karena tadi ada suara ketukan di pintu, tapi ketika aku menoleh tidak ada siapa-siapa. Aku kira ada orang, setelah aku mengeceknya ternyata hanya burung yang tidak sengaja menabrak pintu," dalihnya.


Semoga papa dan mama percaya, pikirnya. Anak perempuan itu kini tampak gugup, cemas apakah Trixie dan Lucas akan percaya dengan ucapannya atau tidak.


"Mama kira kenapa. Ternyata hanya karena itu." Trixie menghela napas lega.


"Kau benar-benar membuat papa dan mama cemas, sayang. Tadinya papa kira ada sesuatu yang membuatmu menjerit seperti itu."


"Tidak ada, hehe…"


Syukurlah mereka percaya dengan ucapanku. Hera menghela napas lega.


"Ya sudah, sekarang ayo kita ke ruang makan. Mama sudah membuatkan makan siang untuk kita."


"Kau pasti lapar setelah bermain seharian 'kan?" Trixie beranjak bangun, menggenggam tangan Hera dan hendak membawanya keluar.


"T-tunggu. Bolehkah papa dan mama pergi lebih dulu?" Hera menghentikan keduanya.


"Kenapa? Apakah ada sesuatu yang harus kau lakukan?"


"Hm." Hera mengangguk. "Hanya sebentar," tambahnya.


"Baiklah, jangan terlalu lama. Karena papa sudah tidak sabar untuk makan siang," ujar Lucas.


"Okay."


Trixie dan Lucas melangkah keluar meninggalkan Hera seorang diri di dalam kamarnya. Gadis itu harus mengecek sesuatu sebelum pergi.


Dia harus memastikan apakah anak laki-laki yang dilihatnya masih ada atau tidak.


Hera menghampiri pintu, membukanya pelan sambil melangkah keluar.


Di mana anak laki-laki tadi?


Hera mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berusaha mencari Isaac yang mendadak hilang entah kemana.


Kedua netranya lantas menangkap sosok yang dicarinya. Terduduk di dekat pintu, bersandar di dinding dengan posisi wajah tertelungkup di antara kedua tangannya yang terlipat di lutut.


Hera berjalan menghampiri anak laki-laki itu. Berdiri tepat dihadapannya sambil menatapnya lekat.


Dia kenapa? Hera menaikkan sebelah alisnya—bingung.


Anak perempuan itu berjongkok dihadapannya. Mensejajarkan pandangannya dengan posisi Isaac sekarang.


Sementara itu, Isaac yang menangkap siluetnya seketika mendongakkan kepalanya.


Begitu mendongak, pandangan mata mereka tepat beradu satu sama lain.


Mimik wajah Hera berubah. Ia tampak terkejut dengan Isaac yang ternyata sejak tadi duduk dalam keadaan menangis. Air mata membasahi wajah anak laki-laki itu.


D-dia menangis?


"K-kau baik-baik saja?" Hera mengulurkan tangannya. Tanpa sadar tangannya menyeka air mata Isaac.


Hal itu refleks membuat Isaac bergerak mengusap kedua pipinya—menghapus air matanya cepat-cepat.


"Aku tidak apa-apa," kata Isaac sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Kau yakin?"


...***...