
"Pa! Papa mau kemana? Ayo duduk sebentar dan minum teh bersama kami," ujar Donna yang kini berjalan mengikuti ayah mertuanya dari arah belakang. Ia harus menahan pria itu untuk menemui putranya.
"Tidak perlu! Sejak awal tujuanku kemari karena ingin bertemu dengan Isaac. Dia ada di kamarnya 'kan?"
Aduh, gawat! Kalau papa sampai tahu Isaac kenapa-kenapa, kami pasti dimarahi habis-habisan. Donna mulai panik. Ia tidak tahu harus berbuat apa agar bisa mengalihkan perhatian ayah mertuanya.
"Bagaimana kalau nanti saja papa bertemu dengan Isaac nya? Sekarang ini Isaac sedang bermain dengan George, aku tidak ingin—"
"Aku tidak akan mengganggunya. Aku hanya ingin menemuinya, dan setelah itu tetap membiarkannya bermain. Tapi kau membiarkan George bermain dengannya juga? Apakah kau tidak cemas anak nakal itu akan melukai cucuku?"
"I-itu tidak mungkin terjadi, pa… George dan Isaac tidak akan mungkin bertengkar."
"Pa! Berhenti membeda-bedakan antara Isaac dan George. Bagaimanapun, mereka adalah cucu papa!" Gerald benci kalau ayahnya itu terus membedakan antara kedua bersaudara itu.
"Ya, dia memang cucuku juga. Tapi aku tidak suka dengan sikapnya yang nakal. Selain itu, kau bilang tidak mungkin George melukai Isaac? Apakah kau lupa sudah berapa kali anak itu membuat cucuku celaka?" ketusnya.
Donna hanya diam tanpa menjawab. Memang benar ucapan ayah mertuanya, George pernah beberapa kali membuat Isaac terluka, tapi ia yakin itu hanya sebuah kecelakaan.
"Tuan, nyonya!" Perhatian mereka bertiga mendadak beralih ketika seorang maid berlari ke arah mereka dengan wajah panik.
"Apa yang kau lakukan?! Berani sekali kau teriak-teriak seperti itu pada majikan mu!" bentak Gerson yang berhasil membuat maid itu diam seribu bahasa dengan kepala tertunduk.
"M-maaf, tuan. Saya tidak berniat untuk berteriak, tapi… ada keadaan darurat," gumamnya setelah diam beberapa saat guna mengumpulkan keberaniannya untuk bicara.
"Keadaan darurat apa maksudmu?"
"Tuan muda George dan Isaac bertengkar."
"Apa?! Di mana?!" Gerson tersentak mendengarnya. Ia berteriak kencang saking kagetnya sampai membuat si maid terperanjat dengan reaksinya.
"Di kamar tuan muda Isaac."
"Lihat apa yang aku katakan?! Aku baru saja bicara kalau anak itu bisa saja mencelakai cucuku! Kalian tidak pernah mau mendengarkan ucapanku!" kesal Gerson pada putra dan menantunya.
Pria itu bergegas berlari menuju kamar Isaac di mana katanya Isaac dan George tengah bertengkar.
...*...
Bugh!
Satu pukulan lagi mendarat di wajahnya. Meninggalkan bekas yang cukup terlihat jelas.
Isaac lagi-lagi hanya bisa meringis menahan sakit sembari terus meronta dan berteriak meminta agar George berhenti memukulinya.
"Aku benci kau! Kau telah merebut semua kebahagiaanku!" kesalnya sambil terus melukai Isaac
Brakk!
Pintu terbuka, dan begitu melihat apa yang terjadi di dalam, wajah Gerson langsung berubah merah.
"Apa yang kau lakukan?!" teriaknya penuh emosi. Suaranya menggelegar mengisi seluruh ruangan yang dalam sekejap membuat George membatu.
Anak laki-laki berusia enam tahun itu melirik ke arah Gerson secara perlahan. Air mukanya mendadak berubah pucat ketika mendapati siapa yang dilihatnya di depan pintu.
"George! Apa yang kau lakukan?!" Gerald berlari menghampiri putranya dan memisahkannya dengan Isaac. Sementara Donna dan Gerson segera memastikan keadaan Isaac baik-baik saja.
Anak itu terisak dalam pelukan ibunya, sementara George kini berada dalam masalah besar.
"Apa yang kau lakukan itu? Kenapa kau memukuli adikmu sendiri?!" tukas Gerald dengan wajah kesal.
George mendadak diam tanpa suara wajahnya yang pucat kini tertunduk dengan tubuh gemetar. Ia tentunya ketakutan, apalagi saat menyadari siapa yang sekarang ada di antara mereka. Gerson.
"Jawab papa!" kata Gerald sekali lagi. Tapi George benar-benar tak memiliki keberanian untuk bertutur kata.
Di sisi lain, Isaac menangis dengan Donna memeluk berusaha untuk menenangkannya.
Bagus, kalian semua datang di saat yang tepat, batin Isaac sembari melirik George yang kini terlihat sedang dimarahi Gerald. Ia kembali meneruskan tangisannya.
"Astaga, lihat kakek. Kau pasti sangat kesakitan 'kan?" Gerson membalikkan tubuh cucunya. Menatap Isaac dari atas sampai bawah.
Anak itu mendadak diam begitu menyadari siapa yang kini memperhatikannya.
Hiiy! P-pria ini…
Wajah Isaac memucat. Bagaimana tidak? Pria yang kini berdiri dihadapannya adalah pria yang berteriak padanya dengan penuh emosi ketika Gerson tahu dirinya sudah membunuh Isaac yang asli saat berada dalam tubuh aslinya.
D-dia… bukankah dia adalah pak Presdir Demi Corp? K-kenapa dia ada di sini?
Tunggu. Dia bilang apa tadi? K-kakek?
Oh, aku ingat. Sesaat sebelum aku di tembak, dia sempat berteriak padaku dengan wajah murka, sambil menyebut Isaac dengan sebutan "cucuku."
Selain itu, George juga menyebutnya dengan sebutan kakek.
Isaac diam memandangi wajah pria tua itu dengan gugup. Keringat sampai mengucur bahkan lebih deras dari pada air mata yang semula mengalir membasahi pipinya.
"Kau terluka sangat parah. Biar kakek obati dulu lukamu, ayo!" Gerson tanpa aba-aba lebih dulu mengangkat tubuh Isaac dalam gendongannya. Hal itu spontan membuatnya kaget.
Isaac membatu dalam posisinya, ia benar-benar takut sekarang.
"George! Kita bicara nanti?!" Gerson mendelik ke arah anak itu, membuat George semakin ketakutan. Saking takutnya, Isaac bahkan bisa melihat tubuh anak itu gemetar.
Ada apa ini? Situasi macam apa ini? Kenapa George seperti ketakutan begitu dengan kakeknya sendiri? Apakah mereka memang memiliki hubungan yang kurang baik?
...*...
"Selesai. Kau sudah merasa lebih baik?" Gerson tersenyum ke arahnya begitu ia selesai mengobati luka di tubuh Isaac.
Isaac terdiam tanpa kata. Matanya masih tertuju pada pria tua yang kini tersenyum dihadapannya.
Ternyata, dia bisa tersenyum juga, ya… tadinya kupikir ekspresi wajahnya tidak akan pernah bisa berubah, dan akan terus terlihat menakutkan.
Sama seperti saat melihatku ketika aku di jebak George untuk membunuh adiknya sendiri.
Tapi ternyata semuanya tak seperti yang aku duga. Dia bisa bersikap hangat, dan bisa tersenyum juga ternyata.
Gerson yang merasa diperhatikan lantas mengubah air mukanya.
"Kau kenapa melihat kakek seperti itu?" tanya Gerson yang merasa terganggu dengan tatapan cucunya.
"T-tidak apa-apa," gumam Isaac.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah masih ada yang terasa sakit? Apa perlu kakek membawamu ke dokter untuk di periksa?"
"Tidak perlu… aku sudah baik-baik saja."
"Syukurlah, kakek lega mendengarnya." Gerson memeluk tubuh Isaac.
"T-terima kasih karena sudah mengobatiku."
"Kau tidak perlu berterima kasih. Memang sudah menjadi tugas kakek untuk memastikan kondisimu baik-baik saja," jawab Gerson. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala Isaac penuh kelembutan.
...***...