
"Huft~" Isaac menghela napas lega. Ia sungguh merasa tenang karena alasan yang dibuatnya benar-benar berhasil membuat Donna percaya.
Untungnya di percaya. Sekarang aku bisa menjadi lebih tenang.
Isaac melirik George yang kini terduduk disampingnya sambil menatap keluar jendela.
Aku melakukan hal tadi bukan karena aku melindungi mu agar tidak di marahi oleh ibumu. Tapi aku melakukannya karena aku harus melihat gerak-gerik mu hingga ke depan.
Aku harus memastikan apakah kau akan terus berakting baik padaku, atau kau akan menindas ku ketika orangtuamu lengah.
Selain itu… ada yang harus aku pastikan juga mengenai luka di bahu ini.
Kenapa luka ini ada di tubuh Isaac? Padahal seingatku, aku terluka dalam tubuh asliku.
Isaac terdiam seribu bahasa. Kini dirinya tengah berada dalam berjalanan menuju rumah sakit. Tentunya dengan Gerald, George dan Donna yang hendak mengantarkannya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Tapi sebelum berangkat ke rumah sakit, mereka akan mengantarkan George lebih dulu ke sekolah.
...*...
"Bagaimana hasilnya, dok?" tanya Donna dengan raut wajah serius. Ia benar-benar penasaran dengan hasil yang di dapatkan putranya setelah menjalani pemeriksaan yang kemarin di sarankan oleh Helio yang tak lain merupakan dokter pribadi keluarga mereka.
"Hasilnya kurang baik," gumam Helio pelan.
"Apa maksud anda, dok?"
"Setelah melakukan pemeriksaan tadi, semuanya jadi sangat jelas. Ada sedikit luka pada bagian dalam kepala tuan Isaac yang menyebabkan beliau mengalami hilang ingatan sebagian."
"Hilang ingatan sebagian?" ulang Gerald.
Helio mengangguk pelan lalu berkata, "Dan sepertinya ini yang menyebabkannya tidak bisa ingat siapa-siapa."
"Apakah Isaac bisa pulih kembali, dok?"
"Ini hanya hilang ingatan yang bersifat sementara. Jadi ingatannya sewaktu-waktu bisa kembali tanpa pernah kita duga."
"Syukurlah, kami lega mendengarnya." Donna menghela napas lega.
...*...
Sejak tadi aku terus kepikiran. Apa yang terjadi dengan tubuh asliku kalau jiwaku berada dalam tubuh Isaac?
Aku benar-benar penasaran.
Apakah lebih baik aku pergi untuk mengeceknya?
Isaac diam tanpa kata. Kedua netranya tertuju keluar jendela. Menatap lalu-lalang mobil dan beberapa gedung yang mereka lewati.
"Sayang, bagaimana kalau kita mengunjungi tempat yang dulu biasa kita kunjungi dulu sebelum pulang?" tanya Donna sambil menoleh ke kursi belakang tempatnya terduduk.
Isaac seketika beralih fokus padanya.
"Mengunjungi tempat yang biasa kita kunjungi?" ulangnya.
"Ya. Dokter bilang itu bisa membantu ingatanmu cepat pulih."
"Dengan mengunjungi tempat-tempat yang familiar dan sering kita kunjungi, itu bisa memicu ingatanmu kembali," tambah Gerald sambil meliriknya sekilas.
"Bagaimana? Kau mau?"
Isaac terdiam sejenak. Ia berusaha memikirkan kembali tawaran Donna dan Gerald barusan.
Mengunjungi tempat-tempat yang dulu sempat mereka kunjungi?
Ini akan menjadi kesempatan yang bagus! Aku bisa meminta mereka untuk pergi ke rumah orangtuaku berada. Dengan begitu, aku bisa mengecek keadaan mereka!
Isaac tersenyum simpul. Waktunya benar-benar tepat sekali.
"Aku mau!" katanya sambil menganggukkan kepala.
...*...
Brukk!
Isaac menjatuhkan tubuhnya di atas rerumputan. Napasnya terengah-engah, dan keringat mengucur membasahi tubuhnya.
"Hosh… hosh…"
"Benar-benar melelahkan."
"Tapi akhirnya aku bisa melarikan diri dari mereka," lirihnya pelan.
Isaac berusaha mengatur napasnya yang tersengal.
Sejak tadi dirinya berusaha keras agar bisa melarikan diri dari Donna dan Gerald. Tapi kesempatannya berakhir gagal berulang kali.
Donna dan Gerald mengajaknya mengunjungi beberapa tempat yang biasa keluarga mereka kunjungi. Mulai dari mall tempat biasa mereka bermain di arena permainan, taman hiburan, dan beberapa tempat lain.
Setiap mengunjungi tempat itu, kepalanya benar-benar terasa sakit, bersamaan dengan itu pula berbagai potongan ingatan bermunculan di benaknya.
Sebagian besar dari potongan-potongan ingatan yang didapatkannya justru adalah ingatan mengenai kejadian di mana George memperlakukannya secara kasar.
Sudah kuduga George itu penjahat. Dia benar-benar ahli dalam berakting. Coba saja kalau kemarin aku termakan dengan aktingnya, bisa-bisa aku mengalami hal yang sama seperti dulu.
Isaac menatap lurus ke arah dahan-dahan pohon dari tempatnya terbaring.
Anak laki-laki itu sekarang sedang berada di semak-semak, bersembunyi agar Donna dan Gerald tak menemukannya.
Setelah mengunjungi banyak tempat yang membuatnya sakit kepala, Isaac minta Donna dan Gerald untuk mereka pergi ke pantai bersama agar lebih tenang.
Tanpa curiga sedikitpun, Gerald dan Donna menyetujui ajakannya.
Setibanya di pantai, Isaac mengajak mereka untuk bermain petak umpet. Tentu saja itu hanya dalihnya agar bisa pergi mengunjungi rumah Lucas dan Trixie. Karena rumah kedua orangtua aslinya berada tepat tak jauh dari pantai tersebut.
"Baiklah! Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan. Waktunya benar-benar sedikit, dan aku harus memanfaatkannya sebaik mungkin."
Isaac bangkit dari posisinya. Terduduk di rerumputan yang kini menjadi tempatnya beristirahat.
"Mari kita lihat. Kalau dari tempatku sekarang, kira-kira tidak akan terlalu memakan waktu untuk aku tiba di rumahku dulu. Jaraknya memang cukup jauh, tapi akan lebih cepat jika aku memotong jalan lewat jalan rahasia yang dulu aku buat dengan papa."
"Akan butuh waktu lima sampai sepuluh menit hingga kedua orangtua Isaac sadar anak mereka hilang. Dan sebelum mereka sadar, aku harus sudah kembali."
Isaac menatap jam yang kini melingkar di pergelangan tangannya
"Kalau perhitunganku tidak salah, aku bisa memotong sekitar dua sampai tiga menit dengan menggunakan jalan rahasia, sedangkan jika menggunakan jalan alternatif ke pantai, akan memakan waktu lebih lama."
"Itu artinya aku bisa memiliki waktu untuk melihat-lihat agak lama rumahku."
"Tapi yang jadi masalahnya, apakah jalan rahasiaku itu ada? Masalahnya, aku tidak berada dalam tubuhku dan itu artinya, bisa saja apa yang seharusnya ada, jadi tidak ada."
"Dan kalau itu sampai terjadi, maka akan jadi masalah besar untukku."
Isaac berdiri dan membersihkan sedikit pakaiannya yang kotor.
"Aku lebih baik mengeceknya dulu. Kalau jalan itu tidak ada, maka terpaksa aku harus mengubah rencana awalku."
Anak laki-laki itu berlalu meninggalkan tempatnya berada. Melenggang dengan tergesa-gesa menuju arah jalan rahasia yang di maksudnya.
Sepanjang perjalanan, ia berusaha agar jalan itu ada. Karena dengan begitu, akan lebih cepat baginya tiba di rumah Lucas dan Trixie.
Setelah berjalan cukup jauh, Isaac akhirnya menemukan tempat yang dicarinya.
"Ketemu! Tak kusangka, jalan rahasia ini ternyata ada!"
Isaac tersenyum simpul melihat jalan yang kini ada dihadapannya. Jalan rahasia yang di buat oleh dirinya dan Lucas ketika masih tinggal di Future City dulu.
...***...