Rise Again As A Rich Man

Rise Again As A Rich Man
Rise 16 - Cokelat



Hening. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing. Hanya ada suara denting dari garpu dan pisau yang menghiasi meja makan tempat mereka menikmati momen sarapan bersamanya.


Isaac terdiam di kursi dekat Tasya berada. Sementara Donna, George dan Gerald duduk berseberangan dengannya.


Sejak tadi mereka hanya diam dan menuruti ucapan nenek. Apakah itu artinya papa takut dengan nenek?


Tapi ada bagusnya, karena ini bisa membuatku tetap berada di sini. Isaac mengeluarkan seringai kecil. Tanpa disadarinya, sejak tadi George menatapnya lekat.


"Kenapa kau tersenyum?! Memangnya ada yang lucu?" tukas George yang berhasil memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti kebersamaan mereka.


Isaac tersentak dan spontan menoleh ke arah anak laki-laki itu. Yang lain melirik pada George sekilas kemudian memandang Isaac yang ditatapnya.


"Apa? Aku tidak tersenyum," kata Isaac.


"Bohong! Jelas-jelas aku melihat kau itu tersenyum tadi!" balasnya dengan nada ketus.


"Aku hanya senang karena mama dan papa ada di sini. Itu saja! Memangnya kenapa? Tidak boleh aku tersenyum?" Isaac membalas dengan nada sewot yang berhasil membuat pukulan telak.


George speechless dibuatnya. Ini adalah pertama kalinya Isaac membalas perkataannya seperti itu.


Apa? Dia berani membalas ucapanku? Dia… dia benar-benar sudah seenaknya! Menyebalkan. Mentang-mentang kakek dan nenek lebih suka padanya dibandingkan padaku, dia jadi sok!


Lihat saja. Aku akan membuat perhitungan padamu nanti!


George mengepalkan tangannya erat, matanya menatap tajam pada Isaac.


Tapi anak laki-laki yang menjadi adiknya itu seolah tak peduli dengan tatapan menusuknya.


"Oh ya, nek. Kakek di mana? Kenapa tidak makan bersama kita? Akan lebih menyenangkan kalau kakek juga di sini dan makan bersama kita. Akan lebih lengkap jadinya," tanya Isaac.


"Kakek sedang di ruang kerja. Ada pekerjaan yang harus kakek selesaikan pagi ini, jadi kakek tidak bisa makan bersama kita," jawab Tasya.


"Tapi, kakek sudah sarapan 'kan?"


"Tentu saja, sayang. Kau sangat perhatian pada kakekmu, ya…" Tasya mengusap puncak kepala cucunya penuh kelembutan sambil tersenyum. Ia tidak menyangka kalau cucu bungsunya akan bisa bersikap begitu manis.


"Apa papa kerja sampai larut lagi?" tanya Gerald pada Tasya.


"Tidak. Papamu semalam langsung tidur setelah mengantarkan Isaac ke kamarnya. Dia bilang ingin segera tidur agar bisa bangun pagi-pagi dan segera mengajaknya bermain. Tapi tadi pagi, saat dia akan menemui Isaac di kamar, malah ada telpon masuk dari sekretaris Lim."


Isaac terdiam. Ia baru ingat ada hal yang nyaris saja dilupakannya.


Karena terlalu takut papa dan mama membawaku pulang, aku sampai lupa dengan rencana yang sudah kubuat.


Hari ini. Setelah sarapan, aku akan segera pergi dan menemui kakek untuk menanyakan apa yang menggangguku.


Aku benar-benar penasaran kenapa kakek begitu benci dengan George? Padahal jika dibandingkan denganku, seharusnya dia lebih sayang pada cucu pertamanya dibanding dengan cucu keduanya.


Tapi kenapa ini malah sebaliknya?


Isaac mengerutkan kening. Ia tidak mengerti kenapa Gerson bisa lebih sayang padanya dibandingkan dengan George padahal anak itu adalah cucu pertamanya.


Aku jadi ingat dengan kakek dan nenek… Isaac tertunduk lesu. Entah kenapa ia jadi teringat akan kakek dan neneknya dulu ketika dia masih hidup sebagai Hendry Hamilton.



...*...


Klap!


"Kakek!" panggilnya pelan.


Gerson beralih dari layar komputer yang ada dihadapannya. Ia menurunkan kacamata yang dikenakannya lalu beranjak sambil tersenyum.


"Isaac, cucu kakek!" Pria itu mengangkat dan memeluk tubuhnya dengan begitu agresif. "Kau sudah bangun ternyata. Apakah kau sudah sarapan?"


Isaac hanya bisa mengangguk pelan sebagai jawaban. Tubuhnya mematung saat Gerson secara tiba-tiba memeluknya begitu saja. Isaac belum terbiasa dengan perlakukan seperti ini.


"Syukurlah kalau kau sudah sarapan. Sekarang, bagaimana kalau kau duduk sambil makan camilan?" Gerson mendudukkannya di sofa. Dihadapannya sudah terdapat nampan berisi camilan manis yang sepertinya sudah sejak tadi ada di sana tapi belum di sentuh sama sekali.


"Kakek sudah siapkan ini sejak tadi untukmu. Sementara kau makan camilan, kakek akan mengerjakan beberapa pekerjaan kakek dulu. Kau menunggu di sini bersama kakek tidak apa-apa 'kan? Kakek janji tidak akan lama, setelah itu kita bermain bersama," ujar Gerson dengan begitu bersemangat sampai-sampai auranya membuat Isaac sedikit terbebani.


"Baiklah…" lirihnya pelan.


"Bagus! Kau memang cucu kakek yang paling pintar." Gerson mengusap rambutnya. Ia lalu beranjak bangun dan menghampiri kursinya lagi untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum sepenuhnya selesai.


Isaac terdiam memandang semua hidangan yang ada dihadapannya.


Kebetulan sekali aku ingin makan makanan manis. Setelah sarapan memang enak kalau memakan makanan manis sebagai penutup.


Gara-gara selesai sarapan aku langsung pergi, aku sampai tidak sempat bisa memakan makanan enak yang sudah nenek siapkan.


Tapi melihat kakek sudah menyiapkan ini semua, sepertinya ini semua juga enak.


Isaac mengedarkan pandangannya ke atas meja. Melihat setiap hidangan yang ada. Perhatiannya lantas tersita oleh satu makanan yang sampai saat ini masih melekat di ingatannya.


Isaac meraih cokelat berbentuk bulat. Cokelat khas yang dulu menjadi salah satu makanan favoritnya.


Cokelat ini…


Ini adalah cokelat yang dulu aku sukai. Aku sampai lupa kalau di tahun ini, cokelat ini masih ada.


Kalau saja keluargaku dulu tidak bangkrut, mungkin aku bisa makan cokelat ini sepuasnya dulu. Selain itu, mungkin aku juga bisa meminta papa untuk membantu tuan Alonso untuk mempertahankan usahanya makanan manisnya.


Isaac melahapnya dalam satu kali gigit. Saat sedang sibuk mengunyah, ia mendadak berhenti. Kedua matanya membulat. Ia baru saja menyadari satu hal yang sempat ia lupakan selama ini.


Tunggu!


Benar! Ini adalah tahun di mana papa dan mama mengalami kebangkrutan yang mengharuskan kami pindah ke Isotown City untuk memulai hidup baru.


Dulu, papa dan mama begitu kesulitan saat kami pindah ke sana.


Dulu aku sangat egois sampai tidak pernah sadar dengan kesulitan yang mereka alami.


Mungkin dulu aku hanya bisa berandai-andai untuk bisa kembali ke masa lalu dan membantu memperbaiki keadaan. Tapi sekarang, aku sudah melakukannya.


Sekarang aku ada di masa lalu, dan itu artinya aku bisa mengubah apa yang akan terjadi.


Aku… akan menghentikan agar perusahaan papa tidak bangkrut. Dengan begitu, papa tidak perlu pindah ke Isotown City dan mereka tidak perlu mengalami kesulitan yang sama.


Benar! Tidak mungkin aku diam saja sementara papa dan mama sekarang ini sedang mengalami kesulitan yang besar.


Aku harus membantu mereka, dan memastikan keadaannya!


...***...