
Baiklah, karena aku sudah ada di sini. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak mungkin aku hanya diam saja 'kan?
Selama George tidak ada, aku harus memanfaatkan situasi sebaik mungkin. Ketenangan ini harus aku manfaatkan, karena kalau dia ada, maka aku akan terus diganggu olehnya.
Tapi aku sungguh tidak tahu apa yang harus kulakukan. Apakah aku perlu menyelidiki sesuatu? Atau menyusun rencana untuk membalas George lewat kakek?
Sepertinya pilihan kedua lebih seru.
Isaac terus melangkah dengan ditemani oleh beberapa maid yang kini akan mengantarkannya ke ruang makan untuk sarapan bersama. Di sana, sudah ada Tasya yang menunggunya sejak tadi.
Tapi… ada sesuatu yang baru aku sadari di sini.
Mengenai hubungan kakek dengan George. Kenapa mereka sepertinya memiliki hubungan yang kurang baik?
Memang seperti itu atau hanya perasaanku saja?
Kemarin, ketika George sedang menyerang ku, dia langsung berhenti saat melihat kakek datang dan wajahnya berubah pucat dalam sekejap.
Tidak! Bukan hanya dia. Wajahku juga pasti berubah pucat saat itu.
Lagipula aku tidak mengerti kenapa kakek memiliki wajah yang begitu menyeramkan.
Mengingatnya saja membuatku merinding.
Isaac bergidik. Ia masih tak terbiasa dengan wajah Gerson yang tampak menakutkan dimatanya.
Oh, tunggu!
Setelah aku ingat-ingat lagi, ini bukan hanya perasaanku. Tapi sepertinya mereka memang memiliki hubungan yang kurang baik.
Di kehidupanku yang sebelumnya, saat aku masih hidup sebagai Hendry, George saat itu memiliki jabatan yang lebih rendah dari Isaac yang notabenenya adalah adiknya.
Bukankah ini aneh?
Sekarang, kalau dipikir-pikir semua itu masuk akal. Alasan kenapa George memiliki jabatan lebih rendah dari adiknya karena Isaac lebih dekat dengan kakeknya. Secara, Demi Corp adalah perusahaan yang didirikan oleh kakeknya. Gerson Demi Constantine.
Isaac menghentikan langkahnya begitu akhirnya mereka tiba di ruang makan. Makanan yang begitu banyak sudah tertata dengan sangat rapi di atas sebuah meja jamuan besar dengan banyak kursi.
Matanya langsung berbinar begitu melihat semua makanan yang tampak sangat lezat itu. Bersamaan dengan itu, perutnya seketika terasa keroncongan, dan air liurnya nyaris saja menetes.
"Isaac!" panggil Tasya, membuat fokusnya beralih. Wanita paruh baya itu tersenyum ke arahnya. "Selamat pagi."
Kenapa nenek duduk di sana? Bukankah itu tempat duduk kakek? Isaac mengerutkan kening. Tapi tak ingin ambil pusing, ia segera menghampiri wanita itu.
"Selamat pagi, nek!" sapanya sambil tersenyum.
"Nenek sudah menunggumu sejak tadi." Tasya merangkul dan memeluknya sambil mendaratkan sebuah kecupan di kening.
Isaac langsung menghapusnya tanpa disadari wanita itu.
"Maaf sudah membuat nenek menunggu lama. Tadi, aku harus bersiap dulu."
"Tidak apa-apa. Bagaimana tidurmu semalam?"
"Aku tidak bisa tidur nyenyak saking senangnya bisa tinggal dengan kakek dan nenek."
"Benarkah?"
"Hm… tapi setelah itu aku memaksakan untuk tidur agar hari ini bisa menghabiskan waktu bersama kakek!" Isaac berakting semanis mungkin. Bagaimanapun, ia harus terlihat seperti seorang anak berusia lima tahun yang polos.
Benar! Untuk bisa menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang ada di benakku, aku harus mendekati kakek! Dengan begitu, aku bisa menemukan jawaban yang aku cari.
"Baiklah, ayo duduk, sayang." Tasya menarik kursi di sampingnya agar Isaac bisa duduk.
"Isaac!" panggilnya.
Atensi keduanya langsung beralih ke arah datangnya suara. Di sana, mereka melihat Donna datang bersama Gerald dan George.
Ah, menyebalkan. Kenapa si brengsek itu harus ada di sini pagi-pagi begini? Mengganggu saja. Padahal aku baru saja akan menikmati masa-masa tenang ku tanpamu! Isaac berdecak pelan begitu melihat George datang dengan orangtuanya. Tapi sebisa mungkin ia berusaha menyembunyikan kekesalannya itu.
"Mama! Papa!" teriaknya dengan wajah gembira. Ia segera berlari menghampiri mereka dan memeluknya.
"Pagi sayang!" Gerald melerai pelukan mereka yang hanya berlangsung sesaat itu.
"Pagi. Kenapa mama dan papa ada di sini?"
"Tentu saja papa dan mama datang kemari untuk bertemu denganmu."
"Denganku?"
"Kebetulan kalian datang saat kami hendak sarapan. Ayo makan bersama, sudah lama kita tidak sarapan bersama." Tasya berjalan menghampiri mereka.
"Tidak perlu, ma… aku dan Donna tidak akan lama. Kami kemari hanya ingin menemui Isaac dan membawanya pulang," tolak Gerald.
"Pulang?" Isaac mengulang kalimatnya.
"Ya, sayang. Kita akan pulang." Donna menjawab. Isaac yang mendengar itu langsung berlari menghampiri Tasya dan bersembunyi di belakangnya. "Kau kenapa? Apakah kau tidak ingin pulang?"
"Aku tidak ingin pulang. Aku masih ingin di sini."
Tidak! Ya, tentu saja aku tidak boleh pulang begitu saja. Enak saja kalian mau menghancurkan segala rencana yang sudah aku buat susah payah. Aku tidak akan melangkah sedikitpun sebelum aku mendapatkan harta karun di rumah ini, batin Isaac sambil bersembunyi di balik punggung Tasya. Berpegangan pada baju yang dikenakan si nenek.
"Tapi kau harus pulang sayang. Kau masih harus berangkat ke sekolah, dan semua peralatan sekolahmu ada di rumah. Jadi kau harus pulang."
"Tidak mau!"
"Biarkan saja Isaac di sini untuk sementara waktu," kata Tasya.
"Tidak bisa, ma. Dia harus pulang, tidak mungkin dia bolos." Gerald berusaha membantu ibunya itu mengerti akan kedatangannya.
"Isaac tidak ingin pulang. Dia sudah nyaman tinggal di sini. Lagipula kalau untuk sekolah dan pelajaran tidak perlu kalian cemaskan. Mama akan memanggilkan guru private untuknya agar dengan begitu dia tidak perlu repot-repot bolak-balik ke rumahmu hanya untuk mengambil pakaian. Mama juga akan belikan alat tulis baru."
"Ma—"
"Aku setuju dengan nenek!" potong Isaac cepat. Membuat fokus seorang orang tertuju padanya.
"Isaac…"
"Pokoknya aku tidak mau!"
Enak saja, George harus di hukum dulu baru aku mau pulang. Setelah dia melukaiku dia lolos begitu saja? Big no! gerutu Isaac dalam hatinya.
"Lihat? Dia tidak ingin pulang, jadi jangan paksa dia. Kalau kalian terus memaksa, nanti papamu marah."
"Tapi—"
"Sudahlah, jangan membantah. Lebih baik ikuti ucapan mama. Sekarang daripada kalian terus berdiri dan memaksa, mending kita duduk dan sarapan bersama. Kalian juga belum sempat sarapan 'kan?"
Tasya tak memberikan mereka kesempatan untuk bicara. Wanita itu segera berbalik dan melangkah dengan menggendong Isaac dalam dekapannya.
"Aku tidak ingin pulang, nek…" bisik Isaac di telinganya.
"Tenang saja, percayakan semuanya pada nenek. Kau akan tetap di sini." Tasya mengedipkan sebelah matanya, memberikannya isyarat untuk mempercayakan semua itu padanya.
Isaac beralih menatap ke belakang dimana mereka berjalan mengikutinya.
...***...