Rise Again As A Rich Man

Rise Again As A Rich Man
Rise 6 - Bekas luka



Sudah aku duga. Dari ekspresinya dia tampak kaget dengan kalimatku.


Isaac mengangkat sebelah sudut bibirnya sambil melirik George di sampingnya.


"Aku memang tidak ingat apa-apa mengenai kejadian kenapa aku bisa sampai terluka. Tapi itu pasti karena kecerobohanku 'kan, sampai aku terluka? Jadi kau tidak perlu merasa bersalah." Ia kembali menambahkan kata yang membuat keringat mengucur keluar dari pori-pori wajah George.


"I-iya…" lirihnya sambil mengalihkan pandangannya pada arah lain.


Gelagatnya terlihat jelas kalau dia menyembunyikan sesuatu. Pasti dia menyembunyikan sebuah kebenaran dari kedua orangtuanya.


Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tubuh ini bisa sampai terluka?


Isaac termangu menatap George di sampingnya.



...*...


Aku nyaris saja tertipu.


Dia benar-benar aktor yang hebat. Bahkan aktingnya nyaris mengelabui ku dengan kebaikan palsu yang dia tunjukkan.


Ucapannya juga sangat meyakinkan, jadi siapapun yang melihatnya akan langsung percaya bahwa dia bersungguh-sungguh dengan permintaan maafnya.


Selain itu, sepertinya kalau pak Isaac benar-benar berada dalam tubuhnya, dia juga akan percaya dengan kebohongan kakaknya.


Pria itu terlalu baik.


Isaac terdiam. Pikirannya tiba-tiba saja melayang, menerawang lebih jauh pada kejadian ketika pertama kali dia bertemu dengan lelaki yang kini dipikirannya.


First impression mereka bisa di bilang cukup baik. Pria yang menjadi atasannya itu adalah orang yang sangat baik dan ramah. Maka tidak heran dulu dia bisa langsung percaya dengannya. Selain itu, dia pikir sebelumnya George akan sebaik Isaac yang asli.


Namun seperti kata pepatah terkadang realita tak seindah ekspektasi. Begitulah kenyataan pahit yang diterimanya dulu ketika George dengan seenaknya menyuruh-nyuruhnya layaknya seorang office boy.


Kalau aku benar-benar kembali ke tahun dua ribu dua dalam kondisi masuk ke dalam tubuh Isaac. Itu artinya semua yang aku alami belum terjadi 'kan?


Oh tunggu. Itu artinya… aku bisa mengubah masa depan dengan melawan takdir yang seharusnya ku terima.


Selain itu, kalau aku kembali ke tahun ini. Maka aku bisa menghentikan papa dan mama jatuh miskin. Jadi mereka tidak perlu pergi ke Isotown City untuk memulai kehidupan baru.


Isaac tertunduk lesu. Ia jadi teringat akan Lucas dan Trixie, kedua orangtuanya di kehidupan sebelumnya.


Aku merindukan mereka… kira-kira, bagaimana keadaan mereka sekarang? Dan… apa yang terjadi dengan tubuhku kalau jiwaku berada dalam tubuh ini?


Apakah Isaac yang justru hidup dalam jiwaku?


"Aku jadi penasaran," gumamnya pelan.


...*...


Walaupun tubuhku adalah anak berusia lima tahun, tapi dalam jiwaku ini hidup seorang pria berusia dua puluh lima tahun.


Rasanya benar-benar memalukan karena tanpa di duga ada banyak orang yang membantuku mandi.


Rasanya seperti aku telanjang di depan banyak orang. Terlebih yang membantuku adalah para maid yang kebanyakan wanita yang bekerja di sini.


Isaac terdiam dengan wajah merah merona. Ia masih merasa kurang nyaman setelah beberapa maid membantunya bersiap.


Kini dirinya berada di dalam kamarnya tengah di bantu bersiap oleh Donna yang sibuk memilihkan pakaian untuknya.


Isaac berdiri di depan cermin dengan hanya mengenakan celana pendek. Sementara Donna sibuk mencari baju pasangan dari celana yang sudah ia kenakan.


Aku tidak menyangka kalau keluarga Isaac dan George seperti ini. Sepertinya mereka memang sangat kaya sampai-sampai ada begitu banyak maid yang bekerja.


Rasanya aku jadi seperti pangeran di masa sebelum revolusi pertama.


Pelayanan layaknya keluarga kerajaan pada masa sebelum revolusi dimulai. Atau lebih tepatnya masa sebelum Sciencetopia memutuskan mengubah bentuk pemerintahan mereka dari kerajaan menjadi negara republik seperti sekarang ini.


"Ketemu!" Donna mengangkat kemeja pendek berwarna putih yang baru saja dia temukan.


Wanita itu segera berjalan menghampiri putranya yang sudah lama menunggu di depan cermin.


"Mama benar-benar heran, kau itu sangat rapi tapi kenapa lemari pakaianmu itu sangat berantakan? Padahal mama sudah meminta maid untuk membereskannya, tapi tetap saja berantakan. Apakah kemarin George meminjam pakaianmu lagi?"


"Huh?" Isaac menampakkan raut wajah bingung.


Aku tidak ingat, pikirnya.


"Huft~ mama lupa kalau kau tidak ingat apa-apa. Maaf," lirihnya.


Wanita itu mulai sibuk membantunya berpakaian. Ia memakaikan kemeja itu ke tubuhnya.


Setelah beres memasang kemeja, ia beralih mengambil sebuah dasi kupu-kupu kecil yang akan dia pakaikan.


Aku baru sadar kalau Isaac telah berpakaian seperti ini sejak kecil. Apakah karena pengaruh kasta? Jadi sejak kecil mereka sudah diajarkan untuk berpakaian rapi seperti ini?


Isaac terdiam sementara Donna memasangkan dasi itu di lehernya. Wanita itu mendadak berhenti ketika sesuatu menyita perhatiannya.


"Isaac, apa ini?" Donna menemukan sebuah luka di bagian pundaknya. Wanita itu menekannya pelan, membuat Isaac spontan meringis menahan sakit.


"Shhh… sakit."


"Kau terluka? Kenapa bisa sampai terluka seperti ini? Coba mama lihat." Donna melepaskan kembali beberapa kancing kemeja bagian atas putranya lalu mengecek bahunya.


Isaac melirik ke arah cermin, membuatnya bisa dengan jelas melihat luka yang ada pada bahunya.


"Astaga, luka apa ini sayang?"


Luka? Isaac memperhatikan lebih intens lagi luka yang ada pada pundaknya. Kedua matanya seketika membelalak begitu sadar mengenai luka yang di maksud oleh Donna.


Luka itu…


"Apakah George menjahilimu lagi?" tanyanya sambil menatap Isaac lekat.


Isaac terdiam tanpa kata. Otaknya berusaha memproses apa yang baru saja dilihatnya.


Luka itu…


Bagaimana mungkin? Kenapa bisa luka itu ada di tubuh ini?


Bukankah luka itu adalah luka yang aku dapat ketika secara tidak sengaja bertabrakan dengan seorang pria yang berjalan di sampingku?


Luka itu seharusnya ada di tubuhku yang dulu.


Tapi kenapa bisa ada luka itu di tubuh ini?


Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya. Sungguh tidak masuk akal bagi Isaac mengingat luka itu seharusnya ada di tubuh Hendry ketika secara tak sengaja bertabrakan dengan pria tak di kenal.


"Kenapa kau diam? Apakah dugaan mama benar? George menjahilimu lgi? Anak itu benar-benar, ya!" Donna beranjak bangun dari posisinya, membuat Isaac spontan tersadar dari lamunannya.


"M-mama mau pergi kemana?" teriaknya pada wanita yang kini sudah melangkah menuju pintu keluar.


"Mama akan marahi dia karena sudah membuatmu terluka. Kenakalannya terus saja membuatmu terluka dan mama sudah mulai tidak tahan!" tukasnya sambil terus melangkah tanpa hendak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.


Gawat! Aku harus menghentikannya. Karena ini memang bukan salah George.


Isaac bergegas lari mengejar wanita yang menjadi ibunya itu. Ia harus menghentikannya sebelum terlambat.


...***...