Rise Again As A Rich Man

Rise Again As A Rich Man
Rise 13 - Perdebatan



"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melukai adikmu sendiri?!" Gerald masih tak mengerti kenapa George suka sekali menindas Isaac yang padahal notabenenya adalah adik kandungnya sendiri.


George diam dengan wajah masam. Ia mengalihkan perhatiannya ke arah lain, enggan bertatapan dengan sang ayah.


"George! Jawab pertanyaan papa," bentaknya lagi. Ia mulai jengkel karena George terus tak merespon setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya sejak beberapa saat lalu.


"Aku benci dia! Aku tidak suka dengannya?! Apakah papa mengerti sekarang?!" teriak George. Anak itu sama kesalnya dengan Gerald karena rasanya ia semakin tersisihkan dengan sikap protektif kedua orangtuanya terhadap Isaac.


Gerald tersentak begitu mendapati putra sulungnya itu membentak ucapannya.


"Tapi dia adikmu!" katanya sambil menurunkan intonasi bicaranya secara perlahan.


"Pokoknya aku benci dia! Aku juga benci papa dan mama! Aku benci kakek! Aku benci kalian semua?!" George berlari keluar dari kamar Isaac.


"George, kita belum selesai bicara! George!" Gerald mengikuti anak itu dari arah belakang. Mengejarnya serta berusaha untuk menangkapnya, karena semua ini harus ia bereskan.


Perilaku George benar-benar sudah membuat seisi rumah ini resah.



...*...


Tak kusangka George memiliki tenaga yang begitu kuat untuk menyerang ku.


Tubuhku sampai sakit semua karena berusaha menahan setiap serangannya yang begitu membabi-buta.


Isaac terdiam. Pikirannya entah kenapa mendadak kembali teringat akan kejadian beberapa saat yang lalu ketika George secara tiba-tiba menyerangnya seperti orang kerasukan.


Kira-kira setelah ini, apa yang akan dilakukan oleh orangtuanya? Apakah dia akan di hukum? Aku ingin tahu hukuman seperti apa yang pantas untuk anak seperti dia.


Ceklek!


Pintu terbuka. Membuat perhatian Isaac beralih pada Gerson yang datang dengan membawakan segelas susu hangat untuknya.


"Ini dia. Kakek bawakan susu yang kau inginkan, dan seperti yang kau minta, kakek sendiri yang membuatkannya." Gerson menaruh gelas di nampan yang dibawanya itu ke atas meja.


Sebelumnya, setelah selesai di obati. Isaac meminta Gerson agar lelaki itu mau membuatkan susu untuknya. Tak ada tujuan lain selain berusaha menghindar dari aura Gerson yang masih terasa menakutkan baginya.


Kenapa dia membuat susunya begitu cepat? Padahal aku kira dia akan menghabiskan waktu lama di dapur.


Aura tubuhnya benar-benar membuatku takut. Bahkan setiap kali melihat wajahnya masih terbayang dalam benakku betapa menakutkannya dia ketika marah.


Isaac meraih gelas berisi minumannya lalu meneguk isinya perlahan.


"Terima kasih, kek. Rasanya enak sekali."


Apakah aku sudah cukup terlihat menggemaskan? Aku harap dia suka dengan aktingku, batinnya. Anak itu memasang wajah tersenyum, dan berusaha terlihat seimut mungkin agar wajah garang pria itu sedikit berkurang.


Gerson tersenyum simpul. Ia menghampiri cucunya, mengusap puncak kepalanya penuh kelembutan lalu berkata, "kau terlihat sangat menggemaskan."


Bagus. Ternyata aktingku berhasil! Isaac menaruh gelas dalam genggamannya ke atas meja.


"Isaac!" Donna masuk ke dalam ruangan tempat mereka berada. Isaac dan Gerson langsung menoleh ke arah datangnya suara.


"Kau baik-baik saja 'kan, sayang? Mama sangat cemas kau terluka parah karena George tadi." Wanita itu tampak sangat amat cemas. Sejak tadi dirinya berdiri di depan pintu ruangan tersebut, tak memiliki keberanian untuk masuk karena larangan dari Gerson yang menekannya untuk menunggu di luar.


Tapi setelah menunggu cukup lama, akhirnya hati nuraninya membuat tekadnya membuat hingga akhirnya ia punya keberanian melanggar perintah ayah mertuanya dan melangkah masuk guna mengecek kondisi Isaac.


"Aku baik-baik saja." Anak itu kembali tersenyum.


Donna berjongkok dan memeluknya erat. Ia merasa lega karena Isaac ternyata jauh lebih kuat dari yang mereka bayangkan.


"Apa yang kau lakukan di sini? Sudah aku bilang 'kan untuk menunggu di luar?!" Ekspresi kesal Gerson mendadak muncul kembali. Pria itu nampak tak suka dengan kedatangan Donna.


"Maaf pa, tapi aku tidak bisa. Mana mungkin aku menunggu di luar sementara tahu anakku terluka? Aku hanya mengikuti kata hatiku."


"Pa, mereka adalah saudara kandung. Jadi tidak ada salahnya untuk bermain bersama 'kan?"


"Kau anggap kekerasan ini adalah permainan?"


"Bukan begitu maksudku. Tapi—"


"Mulai hari ini, papa akan membawa Isaac untuk tinggal di rumah papa."


"Tunggu! Apa?! Maksud papa?" Donna speechless mendengar ucapan ayah mertuanya barusan.


"Apakah ucapanku kurang jelas? Papa akan membawanya pulang bersama papa. Terlalu berbahaya kalau Isaac terus tinggal bersama kakaknya yang nakal dan pembangkang itu!"


"Maksud papa, papa akan memisahkan kami dengan Isaac?"


"Hanya itu caranya agar dia tetap aman. Setidaknya dengan Isaac tinggal di rumahku, dia akan tetap aman. Tidak akan ada yang mengganggunya."


"Tidak. Aku tidak mengizinkan papa untuk membawanya."


"Aku kakeknya, dan aku bisa membawanya kapan saja."


"Tapi aku ibunya. Jadi aku berhak untuk—"


"Keputusanku sudah bulat. Pokoknya aku akan membawanya pulang."


Gerson membungkuk dihadapan Isaac, menatap anak laki-laki yang jadi cucunya itu lekat.


"Isaac, kau mau tinggal dengan kakek 'kan?" tanyanya penuh kelembutan.


"Huh? Tinggal dengan kakek?" Isaac mengulang kalimatnya. Ia diam tanpa menjawab.


...*...


"George, buka pintunya. Kita perlu bicara!"


"Pergi! Aku tidak ingin bicara dengan papa!"


"George!" Gerald terus menggedor-gedor pintu kamar putranya itu dengan penuh emosi. Ia semakin jengkel dengan sikap George yang membangkang seperti ini.


"Dasar keras kepala," gerutu Gerald yang mulai merasa usahanya percuma karena George tidak akan membuka pintunya sama sekali.


"Kalau sudah seperti ini, hanya Donna yang bisa bicara dengannya. Sekarang dimana istriku itu? Kenapa dia tidak ada."


Gerald baru menyadari istrinya tak ada. Pria itu lantas beranjak, hendak mencari istrinya dan memintanya untuk bicara dengan George.


Putra sulungnya memang lebih mudah luluh dan lebih mudah bicara kalau sudah di tangani ibunya.


Setelah mencari cukup lama, Gerald akhirnya tiba di ruang tengah tempat dimana ia melihat Donna dan Gerson tengah berdebat.


Ia segera menghampiri istri dan ayahnya itu.


"Ada apa ini, sayang?" Gerald berucap hingga membuat fokus keduanya terpecah.


Isaac refleks menoleh ke arah laki-laki yang baru tiba di sana.


Akhirnya, aku harap papa bisa meredakan pertengkaran mereka, batinnya.


"Papa akan membawa Isaac pulang," kata Gerson tanpa sempat memberikan Donna kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi.


"Apa?! Papa ingin membawa Isaac?"


"Hanya itu caranya agar cucuku ini tetap aman. Kau mau tinggal dengan kakek 'kan, sayang?" Gerson kembali menatap cucu laki-lakinya.


...***...