Rise Again As A Rich Man

Rise Again As A Rich Man
Rise 17 - Pertanyaan



"Sekali lagi mama ingatkan, jangan terlalu mencemaskan Isaac. Karena bagaimanapun, dia senang tinggal di sini. Mengenai pelajarannya, mama akan minta sekretaris Lim untuk mencarikan guru private yang terbaik untuk mengajarkannya," kata Tasya.


"Baiklah kalau mama bilang begitu," gumam Gerald. Pria itu pada dasarnya memang tidak bisa berbuat banyak kalau Tasya sudah mengambil keputusan. Begitu juga dengan Donna. Mereka sama-sama tahu bagaimana sifat wanita yang menjadi orang tua mereka itu.


"Kalau begitu, kami pamit dulu, ma…" ujar Donna.


"Ya, hati-hati di jalan. Oh, dan George! Bawa ini untukmu." Tasya memberikan camilan yang sudah di bungkusnya.


Sementara Gerald tak suka dengan George dan lebih menyayangi Isaac dalam segala hal, beda halnya dengan Tasya yang tak pernah membeda-bedakan sikapnya antara kedua cucunya. Wanita itu mampu bersikap adil bagi kedua kakak beradik yang menjadi cucunya tersebut.


"Kapan-kapan, kau juga menginaplah di sini, ya?"


"Ya, aku akan menginap kalau aku libur, nek." George mengangguk pelan.


"Bagus. Kalau begitu nenek akan menunggumu datang."


...*...


Aku sangat ingin tahu apa yang mendasari kakek begitu benci dengan George. Tapi apa yang harus kulakukan untuk bisa mengetahuinya?


Apakah aku harus menanyakannya secara langsung?


Tapi bagaimana reaksinya nanti?


Aku hanya takut kalau kakek tiba-tiba marah saat aku tanya akan hal ini.


Lagipula, tampaknya kakek sangat sibuk pagi ini.


Isaac menatap Gerson yang masih sibuk mengecek beberapa berkas di tangan. Sesekali pria itu mengalihkan pandangannya pada layar komputer yang ada dihadapannya.


"Ehem!" Isaac berdehem panik. Ia melirik pada Gerson yang masih anteng dengan pekerjaannya.


"Kakek! Boleh aku tanya sesuatu?" tanyanya memberanikan diri. Sebisa mungkin, Isaac memasang wajah terpolosnya.


Gerson meliriknya sekilas kemudian kembali pada layar komputernya.


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


Glup!


Isaac menelan saliva-nya susah payah.


Ayo tanyakan saja! Lebih baik bertanya daripada hanya diam dengan pertanyaan yang sama sekali tidak aku ketahui jawabannya. Isaac meyakinkan dirinya.


"Aku hanya ingin tahu kenapa kakek terlihat sangat tidak suka dengan George?" katanya yang diakhiri dengan napas tertahan, mencoba menyiapkan diri dari semprotan kakeknya.


Gerson terdiam seketika begitu mendengar penuturannya barusan. Wajahnya mendadak berubah menakutkan.


Dengan tatapan tajam, ia melirik Isaac yang sudah mulai mengeluarkan keringat dingin.


Tatapannya benar-benar mengintimidasi, batin Isaac sambil menundukkan kepalanya.


Tidak! Aku tidak boleh terlihat takut. Aku harus bisa mengontrol wajahku dan sebisa mungkin bersikap seperti anak polos yang tidak tahu apa-apa, dengan begitu aku akan bisa menghadapinya. Kalau aku takut seperti ini, kakek akan sadar kalau aku menanyakan sesuatu yang tidak seharusnya aku tanyakan.


Isaac menarik napas lalu menghembuskannya berulang kali hingga dirinya benar-benar merasa lebih tenang.


Tak lama, ia mengubah mimik wajahnya agar terlihat polos di mata Gerson.


"Kakek tidak menyukainya karena dia itu anak yang tidak bisa diam dan sering melakukan masalah," kata Gerson setelah beberapa saat terdiam.


Isaac menghela napas lega karena ternyata Gerson tak marah sama sekali, bahkan pria itu bicara dengan intonasi normal seperti sebelumnya.


"Benarkah? Sejak kapan kakek tidak —"


"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Kakek banyak kerjaan, kalau kau terus mengganggu kakek, bisa-bisa kerjaan kakek tidak selesai-selesai. Nanti kalau sudah begitu, kakek jadi tidak bisa bermain denganmu 'kan?"


"Maaf…" Isaac mengatupkan mulutnya cepat. Kepalanya tertunduk.


Sudah kuduga ada yang aneh. Dari jawabannya tadi, ada jeda cukup lama sebelum akhirnya kakek menjawab. Itu berarti bisa dipastikan kalau ada sesuatu yang kakek sembunyikan.


Tapi apa? Hal apa yang disembunyikan kakek sampai-sampai kakek tidak suka dengan George dan kenapa kakek tidak mau jujur?



...*...


Menyebalkan! Tidak aku sangka ternyata dia sudah mulai berani melawanku. Padahal biasanya dia tidak pernah melawan.


Ada apa dengannya sekarang? Apakah karena kakek dan nenek lebih menyayanginya, jadi dia pikir bisa berbuat seenaknya?


Tadinya aku ingin memberinya pelajaran karena sudah berani melawanku, tapi ternyata lebih cerdik dari dugaanku. Dia langsung melarikan diri begitu selesai sarapan, sampai-sampai aku tidak sempat membuatnya menyesal karena sudah membalas perkataanku.


George terdiam sambil memandang keluar jendela. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus dipenuhi oleh kejadian di meja makan pagi ini. Ketika Isaac secara tak terduga membalas kalimatnya, dan membuatnya jengkel dengan sikapnya yang mulai semena-mena.


"Aku benar-benar cemas. Apakah tidak apa-apa kita biarkan Isaac tinggal di rumah papa?" tanya Donna dengan wajah resah. Ia masih terus kepikiran mengenai putra kecil mereka.


"Isaac akan baik-baik saja. Lagipula sepertinya dia bisa bersikap biasa 'kan? Mama saja tadi terlihat tidak sadar kalau Isaac itu mengalami hilang ingatan," balas Gerald yang kini terduduk di kursi kemudi sambil memperhatikan jalan.


"Tapi tetap saja ini membuatku resah. Bagaimana kalau mama atau papa sampai sadar kalau ternyata Isaac itu hilang ingatan? Itu akan jadi masalah. Kita akan di marahi, dan Isaac bisa-bisa tinggal lebih lama di rumah papa. Aku tidak ingin itu terjadi…"


Gerald melirik wanita yang menjadi istrinya itu. Meraih dan menggenggam tangannya, berusaha menenangkan wanita itu.


"Semuanya pasti akan baik-baik saja. Kau tidak perlu cemaskan itu. Isaac itu anak yang cerdas, jadi aku yakin kalau dia tidak akan mengatakan apa-apa mengenai hal ini, baik pada papa atau mama. Aku harap kau bisa lebih tenang."


"Kalau Isaac terus tinggal di rumah papa, maka artinya akan lebih sulit untuk kita memantau keadaannya dan memastikan ingatannya pulih atau tidak 'kan?"


"Kita bisa mendatanginya setiap saat. Lagipula hanya di rumah papa. Kita kunjungi dia setiap pagi untuk memastikan. Jadi sudah, jangan cemas lagi, okay?"


"Huft~ baiklah, aku akan berusaha agar tidak terlalu mencemaskan hal ini," gumam Donna sambil menghela napas pelan.


Sementara keduanya terus berbincang, beda halnya dengan George yang sejak tadi mengepalkan tangannya erat.


Ia benar-benar jengkel dengan pembicaraan kedua orangtuanya yang terus membahas dan mencemaskan Isaac sementara dirinya ada di sana—di antara mereka, tapi sama sekali tak dihiraukan.


Aku benar-benar benci dengannya. Dia sudah merebut segalanya dariku! batinnya.


Setelah perjalanan cukup jauh, mereka akhirnya menghentikan mobil yang mereka tumpangi di depan gerbang sekolah dasar yang tak lain adalah tempat George menuntut ilmu.


George segera melangkah keluar dengan tas di punggungnya, ia berpamitan pada Donna dan Gerald sebelum akhirnya melangkah menuju gerbang masuk di sana.


...***...