Rise Again As A Rich Man

Rise Again As A Rich Man
Rise 7 - Beralasan



Beberapa waktu lalu…


Hendry melangkah keluar begitu selesai membayar semua barang yang baru saja dibelinya.


Di tangannya, pria itu menggenggam dua kotak stand kopi dan tak lupa camilan kecil.


Tadi, ketika sedang sibuk membersihkan kaca di lantai sepuluh, dirinya tiba-tiba saja di datangi oleh sekretaris George yang memintanya untuk membelikan kopi dan beberapa camilan untuk divisi yang di pimpin langsung oleh George.


Tanpa bisa menolak, Hendry langsung menuruti ucapan pria itu dan segera pergi ke coffee shop terdekat untuk membelikan apa yang mereka pesan.


Pria itu kini berdiri di tepi jalan, hendak menyeberang dan segera kembali ke kantor.


Hendry beralih fokus pada ponselnya. Mengecek kembali semua barang yang di minta oleh atasannya guna memastikan tidak ada yang dia lewatkan.


Sementara sibuk mengecek ponselnya, ia tak sadar kalau sejak tadi seorang pria berdiri tepat disampingnya dengan membawa setumpuk barang yang cukup tinggi dan nyaris menghalangi pandangannya.


Pria itu tampaknya sama-sama hendak menyeberang seperti dirinya.


Brukk!


Tanpa aba-aba, beberapa barang di bagian atas terjatuh tepat mengenai Hendry. Membuat pria itu seketika tersentak dibuatnya.


Hendry meringis menahan sakit yang dirasakannya pada bagian bahu. Salah satu benda yang di bawa pria itu melukai bahunya dengan cukup parah.


"Astaga, aku minta maaf." Pria itu dengan segera menaruh semua barang yang dibawanya di atas trotoar lalu bergegas membantu Hendry yang kini dalam keadaan terduduk di tanah bersemen.


"Arrgghh…"


"Aku sungguh tidak sengaja. Kau baik-baik saja?" Pria itu menatapnya dengan wajah cemas.


"Bahuku agak sedikit sakit," lirih Hendry.


"Biar aku bantu kau berdiri." Pria itu membantunya untuk bangun.


"Aww…" Hendry memekik kesakitan saat pria itu berusaha mengalungkan tangannya ke leher.


"Astaga, apakah sangat sakit? Aku sungguh minta maaf. Biar aku antar kau ke rumah sakit agar kau di periksa, okay?"


"Tidak apa-apa. Aku tidak memiliki banyak waktu. Aku harus kembali ke kantor sebelum atasanku marah."


"Sudahlah jangan menolak, aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit. Takutnya lukamu parah."


"Kondisiku baik-baik saja. Yang lebih aku cemaskan adalah makanan yang di pesan oleh atasanku." Hendry melirik pada kopi yang tumpah di jalanan dan cemilannya yang sudah hancur terlindas mobil.


Kalau aku kembali dengan tangan kosong, mereka pasti akan marah. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Uangku saja bahkan tidak akan cukup untuk membeli yang baru.


"Kalau begitu, biar aku belikan yang baru sebagai permintaan maafku."


"Eh?"


"Tunggu sebentar!"


Pria itu beranjak memasuki toko yang tadi di masuki Hendry. Tak lama, ia kembali dengan membawa beberapa barang di tangannya.


"Ini. Aku sungguh minta maaf karena sudah membuatmu terluka, tapi apakah kau yakin tidak ingin di bawa ke rumah sakit?"


"Tidak apa-apa. Biar aku sendiri yang mengobati lukanya. Terima kasih karena sudah mengganti makannya."


"Ini kulakukan karena aku merasa bersalah sudah membuatmu terluka. Oh ya, ambil ini juga." Pria itu menyodorkan sebuah kartu pada Hendry.


Hendry meraih kartu yang diberikannya. Ia menatap kartu nama yang dia berikan.


"Aku tidak akan tenang sebelum memastikan kau benar baik-baik saja. Kalau kau membutuhkan biaya pengobatan, hubungi saja nomor yang tertera di sana. Okay?"


"I-ini…" Hendry terdiam. Ia kembali menatap kartu nama dalam genggamannya.


CDS Corps. Nama itu tertera di sana.


CDS? Bukankah ini adalah perusahaan besar?


Hendry mendongak hendak bertanya pada pria yang ditemuinya. Tapi begitu ia beralih dari kartu namanya, pria itu telah raib entah kemana.


Pria tadi… dia kemana?


Hendry mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tapi pria itu benar-benar sudah hilang dari pandangannya.



...*...


Hendry melangkah keluar dari kamar mandinya dengan hanya mengenakan handuk yang kini membalut bagian bawah tubuhnya.


Sebelah tangan pria itu sibuk membersihkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


Ia berjalan menghampiri lemari guna mencari pakaian untuk ia kenakan.


"Bahuku masih terasa sakit akibat kejadian tadi siang," gumamnya pelan sambil menutup lemarinya.


Hendry mendadak berhenti. Atensinya langsung tertuju pada bahunya.


Ia diam menatap pantulan dirinya di cermin.


"Pantas saja masih terasa sakit. Ternyata lukanya cukup parah."


Hendry memperhatikan lagi luka di bahunya. Luka itu membekas cukup parah di bahunya. Tak heran seharian ini dirinya merasa kesakitan.


Hendry beranjak dari cermin seraya mengenakan pakaiannya. Setelah itu menghampiri ranjang untuk mengambil pengering rambut agar rambutnya lebih cepat kering.


Sekali lagi, ia perhatiannya di sita oleh kartu nama yang diberikan pria asing tadi siang.


Hendry meraih kartu nama itu dan memperhatikannya sekali lagi. Rasanya sulit di percaya dirinya baru saja di beri kartu nama dengan label bertuliskan CDS Corps.


"Kalau dipikir-pikir, darimana pria itu tahu isi pesanan yang aku buat? Bagaimana dia tahu kopi apa saja yang aku beli dan cemilan yang juga aku pesan?"


"Rasanya aneh…"


...*...


Saat ini…


Isaac berjalan dengan langkah besar mengikuti Donna yang kini melenggang di sepanjang lorong, hendak pergi ke tempat di mana putra pertamanya berada.


"Mama!" Anak laki-laki itu memberanikan diri memanggilnya. "Tunggu sebentar!"


Isaac menahan Donna, memegangi kakinya hingga membuat wanita itu langsung terhenti.


"Ada apa? Kau berusaha menghentikan mama agar tidak memarahi kakakmu?" Tanya wanita itu dengan nada yang masih agak kesal.


"Tidak, bukan." Isaac menggelengkan kepalanya pelan.


"Lalu kalau begitu kenapa kau mengikuti mama?"


"Aku ingin menjelaskan yang sebenarnya terjadi."


"Huh?"


"Mama sudah salah paham. Aku terluka bukan karena George. Tapi aku terluka karena jatuh."


"Jatuh?" Donna mengerutkan kening—bingung. "Kau jatuh di mana? Lalu kenapa lukanya bisa separah itu?"


"A-aku berusaha mengambil mainanku yang ada di atas rak. Tapi karena terlalu tinggi, aku menggunakan kursi dan tidak sengaja jatuh hingga mainan itu mengenai bahuku," tuturnya.


Bagus. Alasan yang benar-benar tidak masuk akal. Aku harap dia percaya dengan alasan yang aku buat.


Walaupun sebenarnya aku tidak yakin Isaac menaruh mainannya di atas rak.


Wajah anak laki-laki itu tampak agak sedikit gugup. Keringat mengucur di keningnya, selain karena lelah tapi karena anak itu juga baru saja melakukan kebohongan dan berharap Donna tak menyadarinya.


"Benarkah? Kapan itu terjadi?"


"S-semalam…"


"Jadi bukan karena George menjahilimu lagi?" tanya Donna memastikan.


Isaac menggelengkan kepalanya pelan.


"Syukurlah kalau itu memang bukan karena George. Tadinya mama pikir kau terluka karena George. Tapi ternyata mama sudah berprasangka buruk padanya." Donna menghela napas lega. Ia tampak lebih tenang mendengar pengakuannya barusan.


Untungnya dia percaya dengan alasan yang kubuat.


...***...