Rise Again As A Rich Man

Rise Again As A Rich Man
Rise 18 - Alasan



Klik!


Gerson menekan satu tombol sebagai penanda pekerjaannya pagi ini sudah berakhir.


Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya.


"Akhirnya selesai juga. Sekarang aku bisa bermain dengan cucu tersayang ku," gumam Gerson sambil tersenyum senang. Ia meregangkan tubuhnya, mencoba membuat otot-otot kaku di tubuhnya agar kembali lentur seperti semula.


Hari ini Gerson memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor karena pekerjaan yang dimilikinya tidak terlalu banyak, dan semuanya sudah ia serakah pada sekretaris Lim untuk ditangani. Jadi dengan demikian, Gerson bisa menikmati hari ini dengan bermain bersama Isaac di rumah.


Bermain dengan cucu kesayangannya, sudah lama Gerson berharap hal ini terjadi. Tapi karena kesibukan yang dimilikinya, ia jadi jarang bertemu dengan Isaac.


Dan sekarang, setelah sekian lama menunggu, akhirnya ia bisa memenuhi semua impiannya tersebut.


Gerson terdiam dengan posisi kepala menengadah menatap langit-langit ruang kerjanya.


Entah kenapa, ia jadi kepikiran mengenai pertanyaan Isaac beberapa saat yang lalu ketika anak itu mendadak menanyakan mengenai alasannya yang kenapa bisa tak menyukai George.


Alasan, ya…?


Isaac terdiam. Perlahan otaknya menerawang menuju ingatan terdalamnya.



...*...


Future City, Sciencetopia, enam tahun yang lalu.


1996


Gerson melangkah masuk dengan langkah tergesa-gesa. Tiba di sana, ia segera menghampiri meja administrasi dan meminta informasi mengenai Tasya yang katanya di rawat di salah satu kamar yang ada.


Begitu mendapatkan informasi yang dibutuhkannya, ia segera melangkah mencari letak kamar istrinya itu berada.


"Tuan!" Beberapa maid yang sejak tadi duduk di sana segera bangkit setelah melihatnya datang.


"Bagaimana keadaan istriku di dalam sana?"


"Dokter masih di dalam, tuan. Dokter masih melakukan pemeriksaan," jelasnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kondisi istriku bisa sampai down? Apa kalian tidak bisa bekerja dengan benar?!" Gerson menatap satu persatu maid yang ada dengan raut wajah kesal. Bagaimana tidak? Istrinya bahkan sampai bisa masuk rumah sakit seperti ini, padahal ketika Gerson meninggalkannya terakhir kali di rumah, kondisi istrinya itu baik-baik saja.


"Sepertinya, nyonya merindukan tuan muda, tuan."


"Apa? Kenapa kau bisa menyimpulkan seperti itu?"


"Nyonya sedang menangis sambil memandangi foto tuan muda sesaat sebelum kondisi beliau down," jelasnya.


"Jadi karena itu kondisinya semakin buruk…" gumam Gerson. Tak lama perhatiannya teralihkan oleh suara pintu ruang rawat yang terbuka. Bersamaan dengan itu, seorang pria berpakaian dokter melangkah keluar dari sana.


Gerson segera berjalan menghampiri pria tersebut dengan wajah cemas.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?"


"Istri bapak hanya kelelahan, selain itu beliau mengalami kekurangan cairan dalam tubuh yang disebabkan karena tidak adanya makanan yang masuk ke dalam tubuh. Sebelumnya, apa yang terjadi dengan beliau? Apakah ada sesuatu yang membuat beliau stres hingga tidak nafsu makan atau tidur?"


"Itu mungkin karena putra kami. Setahun yang lalu dia pergi dari rumah hanya karena kami tidak memberikan restu atas pernikahannya. Dan… sampai saat ini, dia tidak pernah kembali. Itu yang nampaknya membuat kondisi kesehatannya memburuk sampai akhirnya hal ini terjadi."


"Gerald. Apakah itu putra anda?"


"Bagaimana dokter bisa tahu?"


"Beberapa saat yang lalu istri anda sempat sadar, beliau mengigau dan terus memanggil namanya."


Gerson terdiam mendengar penuturan si dokter. Ia beralih menoleh pada jendela kaca kecil berbentuk persegi panjang yang ada di pintu. Dari posisinya, ia bisa melihat dengan jelas Tasya yang tengah terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang.


Apakah sebegitu rindunya kau pada Gerald sampai-sampai kau sakit seperti ini?


...*...


Gerson terdiam tanpa kata. Pikirannya benar-benar penuh dengan istrinya yang sampai saat ini masih terbaring di rumah sakit.


Tok-tok!


Pintu ruangannya itu di ketuk pelan. Membuat atensinya seketika beralih pada pria yang kini berjalan masuk ke dalam sana.


"Ya. Aku memiliki tugas penting untukmu."


"Tugas apa yang harus saya kerjakan, tuan?"


"Aku ingin kau mencari putraku. Cari dan temukan dia sampai dapat, lalu bawa dia ke hadapanku."


"Baik, tuan. Akan saya laksanakan sesuai permintaan anda. Secepatnya, saya akan membawa tuan muda pulang."


"Kalau begitu kau boleh kembali."


Pria itu membungkuk sebelum akhirnya melangkah keluar meninggalkan ruang kerjanya.


...*...


"Kau harus makan agar kau cepat sembuh."


"Aku tidak nafsu makan," lirih Tasya.


Gerson menghela napas pelan lalu menaruh piring dalam genggamannya ke atas meja kecil di dekat ranjang tidurnya.


"Kalau seperti ini, kondisimu akan semakin parah. Memangnya kau tidak ingin cepat pulang? Apakah kau tidak kasihan padaku yang harus kesepian sendiri di rumah? Ayolah makan, agar kau bisa cepat pulang."


"Percuma aku pulang pun kalau Gerald tidak ada. Aku ingin di sini lebih lama saja."


"Jangan bicara seperti itu."


Tasya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia terdiam dengan tatapan mata sayu seperti biasanya.


Gerson menghela napas pelan lalu meraih tangan istrinya. Ia menggenggam tangannya erat.


"Dengar, aku sudah meminta orang kepercayaan ku untuk mencari Gerald. Dan aku pastikan, secepatnya Gerald akan pulang."


"Benarkah?" Mimik wajah wanita itu langsung berubah begitu mendengar penuturannya. Gerson mengangguk pelan.


"Maka dari itu, kau harus sembuh agar kau bisa menunggunya di rumah."


"Baiklah, aku akan makan."


...*...


Pria itu melangkah keluar dari dalam mobil yang mereka tumpangi. Ia berdiri sesaat di depan rumah besar yang kini berdiri kokoh dihadapannya.


"Jemmy, bisakah kau membawanya dulu?"


"Tentu, tuan muda. Dengan senang hati." Jemmy tersenyum sumringah. Dengan penuh semangat pria itu meraih tubuh George yang sejak tadi berada di gendongan Donna. Anak laki-laki itu baru saja berusia satu tahun.


"Terima kasih."


"Bukan masalah, tuan muda. Baiklah, ayo masuk." Jemmy melangkah lebih dulu dengan membawa George kecil dalam gendongannya.


Gerald hendak melangkah mengikutinya. Tapi langkahnya langsung dihentikan Donna.


"Apakah kau yakin dengan ini?" tanya wanita itu dengan wajah ragu.


Gerald menatap istrinya yang kini tampak cemas.


"Aku masih tidak yakin kalau papamu akan menerimaku. Apalagi, kalau dia tahu kita sudah menikah, dan aku takut kalau orangtuamu tidak mau menerimaku dan George… kau tahu sendiri 'kan bagaimana sifat papamu?" gumamnya dengan suara pelan.


Gerald meraih dan menggenggam tangan istrinya. Berusaha membuat wanita itu lebih tenang.


"Kau tidak perlu cemaskan semua itu. Apapun yang akan terjadi, kita hadapi semuanya bersama, okay?"


Pria itu tersenyum ke arahnya. Hanya dengan kalimatnya saja, Donna sudah langsung di buat tenang.


"Baiklah."


"Kalau begitu ayo masuk dan temui orangtuaku."


Donna mengangguk pelan. Tak lama kemudian, ia melangkah masuk ke dalam rumah kediaman Constantine yang kini berdiri tegak dengan begitu megah tepat dihadapannya.


...***...