Rise Again As A Rich Man

Rise Again As A Rich Man
Rise 21 - Pencurian proyek



"Jadi bagaimana? Apakah kau sudah menemukan petunjuk mengenai siapa yang telah merebut proyek T Corp yang seharusnya kita kerjakan?"


"Saya sudah melakukan sesuai dengan permintaan tuan, dan saya sudah mendapatkan informasi kalau perusahaan yang telah merebut proyek T Corp dari perusahaan kita adalah Lucompany."


"Apa?!"


"Informasi dari mata-mata yang saya bayar mengatakan kalau Lucompany tiba-tiba saja menangani proyek ini, dan pimpinan mereka langsung menyetujuinya. Setelah diskusi singkat dalam beberapa hari, mereka langsung memutuskan untuk bekerja sama dan langsung tanda tangan kontrak saat itu juga. Setelah itu, bisa di pastikan T Corp langsung membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita."


"Sial!"


Gerson mengepalkan kedua tangannya erat. Ia tidak bisa percaya dengan apa yang di dengarnya ini. Lucompany—salah satu perusahaan kelas teri—jika dibandingkan dengan perusahaannya—tidak pernah ia bayangkan akan melakukan hal tak terduga seperti ini.


"Berani sekali mereka merebut proyek yang seharusnya ditangani oleh perusahaan ku. Selama ini padahal aku hanya menganggap mereka sebagai perusahaan kecil yang bahkan tidak akan pernah bisa menyaingi ku dan tidak akan pernah menjadi penghalang. Tapi di luar dugaan, mereka malah mengibarkan bendera perang dengan naik ke tingkat lebih tinggi dengan cara yang salah."


"Langkah mereka sungguh berani. Mereka bahkan mengambil resiko tanpa pernah berpikir dua kali dengan siapa mereka berhadapan."


"Ini tidak bisa di biarkan. Aku tidak akan tinggal diam."


Gerson mendongak menatap orang kepercayaannya itu. Jemmy masih dengan raut wajah yang sama. Tak gentar walau ekspresi tuannya itu amat kentara dengan wajah kesal penuh emosinya.


"Jemmy, aku perintahkan kau untuk kembali dan awasi setiap pergerakan dari Lucompany. Beritahu setiap gerak-gerik dan langkah yang mereka ambil dalam menangani proyek ini. Aku harus tahu secara detail, apa saja yang mereka lakukan."


"Baik, tuan."


"Kau boleh pergi."


Jemmy membungkuk sebelum akhirnya melangkah meninggalkan ruang kerja Gerson. Pria itu menghilang dibalik pintu keluar.


...*...


Isaac terdiam tanpa kata. Wajahnya tampak sedikit memucat dengan keringat yang mengucur membasahi keningnya. Jantungnya memburu, tubuhnya gemetar sampai hampir membuatnya jatuh.


"L-Lucompany?"


"Itu adalah perusahaan papa."


"Tapi, apa maksud kakek mencuri proyek? Apakah dulu, papa mencuri proyek keluarga Constantine?"


Isaac masih berusaha mencerna setiap kata yang baru saja di dengarnya lewat pembicaraan sang kakek dengan Jemmy—orang kepercayaannya.


Rasanya sungguh tak percaya hal ini terjadi. Ia tidak pernah menyangka kalau perusahaan ayahnya akan terucap dari mulut Gerson—sang pimpinan keluarga Constantine.


Tidak mungkin papa mencuri proyek. Papa adalah orang yang jujur, dan sejak dulu, papa tidak pernah bermain kotor dalam urusan bisnis. Karena dulu papa pernah berkata, bermain kotor dalam bisnis sama artinya dengan menggali kubur untuk keluarganya sendiri.


Dan aku percaya, papa tidak akan pernah melakukan hal itu.


"Sebentar. Kalau papa di tuduh mencuri proyek keluarga Constantine, bukankah itu artinya ada kemungkinan kalau keluarga Hamilton bangkrut beberapa tahun yang lalu adalah ulah dari keluarga Constantine?"


Wajah Isaac berubah pucat. Semua informasi yang dia miliki seolah saling berkesinambungan satu sama lain dan perlahan saling melengkapi setiap kepingan yang selama ini berusaha dicarinya.


"Sekarang semuanya masuk akal."


"Kalau papa bangkrut karena ulah dari keluarga Constantine, maka itu menjelaskan kenapa keluargaku sulit untuk kembali bangkit begitu kembali ke ibukota."


"Tapi, dalam kasus ini. Ada yang tidak beres."


"Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal. Terlebih saat aku mendengar tuduhan kakek mengenai papa yang melakukan pencurian pada proyeknya."


"Apakah jangan-jangan ada kepingan yang hilang?"


"Mungkin saja kepingan yang hilang itu adalah alasan kenapa tuduhan kakek bisa mengarah pada papa."


"Jangan-jangan… ada yang menjebak papa agar keluarga Constantine membenci keluarga Hamilton hingga akhirnya berusaha menghancurkannya? Apakah jangan-jangan, semua ini sudah di rencanakan?"


"Kalau semua dugaanku benar, maka aku harus mencari kunci permasalahannya lebih dulu, dengan begitu akan mudah untukku mencegah agar keluarga Hamilton jatuh bangkrut."


Isaac mengepalkan tangannya erat.



...*...


Tok-tok!


Pintu di ketuk secara perlahan, membuat atensi lelaki yang sejak tadi duduk di dalam sana beralih ke arah datangnya suara.


"Masuk!" katanya, mempersilahkan wanita yang menjadi sekretarisnya itu untuk masuk.


"Pak, tamu anda sudah tiba," ujar wanita yang kini berdiri diambang pintu itu.


"Persilahkan dia masuk."


"Baik."


Wanita itu beranjak keluar seraya mempersilahkannya masuk.


Klap!


Pintu di tutupnya dengan rapat agar tidak ada yang bisa mendengarkan pembicaraan mereka.


"Akhirnya kau datang juga. Aku sudah menunggumu sejak beberapa hari lalu." Pria itu beranjak dari kursi kebesarannya, melangkah menghampiri sofa sambil mempersilahkan lelaki yang baru saja tiba itu untuk ikut duduk di sofa kosong yang ada dihadapannya.


"Kau begitu sulit untuk aku hubungi. Membuatku gelisah saja. Aku pikir kalau rencananya akan gagal karena kau tidak bisa dihubungi."


"Tentu saja tidak, tuan. Saya memang sengaja tidak mengangkat tuan agar misi yang saya kerjakan berjalan dengan lancar. Dan anda lihat sendiri hasilnya. Semuanya berjalan sesuai yang tuan harapkan."


"Benarkah? Maksudmu, kau berhasil membuat mereka percaya dengan jebakan ini?" Air muka pria itu langsung berubah begitu mendengar kalimatnya.


Si lelaki yang baru saja datang itu mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Saya sudah melakukan semuanya sesuai dengan permintaan tuan, dan semuanya sudah saya selesaikan dengan baik sesuai harapan."


Pria dihadapannya tertawa renyah sambil bertepuk tangan. Ia terlihat sangat puas dengan cara kerjanya yang benar-benar sesuai dengan ekspektasinya.


"Tidak salah aku memilihmu untuk menjalankan tugas ini. Kau memang hebat, dan kau bisa aku andalkan. Aku sungguh puas dengan cara kerjamu itu."


"Terima kasih, tuan."


Pria dihadapannya itu merogoh kantong jasnya sambil menghentikan tawanya yang menggelegar. Ia lantas mengeluarkan sebuah amplop tebal yang tampaknya berisi uang.


Brakk!


Benda itu dilemparkannya keras tepat ke arah meja yang ada di hadapan mereka.


"Ini adalah bayaran untuk hasil kerja kerasmu!"


Lelaki itu tersenyum lalu meraih amplop dihadapannya. Ia membuka dan menghitung isinya.


"Terima kasih, tuan. Lain kali, jika anda membutuhkan jasa saya lagi, saya akan sangat siap untuk menjalankan setiap tugas yang anda berikan."


"Ya, aku pasti akan menghubungimu lagi."


"Saya permisi."


Lelaki itu beranjak bangun, meninggalkan ruang kerja pria tersebut dan membuatnya terdiam seorang diri di ruangannya.


Sepeninggalan lelaki itu, ia beranjak menghampiri jendela dan berdiri di sana.


...***...