Rise Again As A Rich Man

Rise Again As A Rich Man
Rise 10 - Memancing perkara



"Kau siapa? Apakah kau tersesat?" tanya Hera mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Karena tampaknya Isaac kurang nyaman dengan pertanyaannya tadi.


"Aku tidak tersesat. Terlebih, jawab pertanyaanku. Siapa kau? Apakah kau putri keluarga ini?" Isaac kepalang penasaran dengan identitas gadis yang tiba-tiba saja muncul dari dalam kamarnya.


Seharusnya aku yang asli yang ada di dalam sana, tapi kenapa bisa malah ada anak perempuan seperti dia di sana? Apakah posisiku digantikan oleh anak perempuan ini?


"Ya, aku anak dari pemilik rumah ini. Apakah kau kenal dengan kedua orangtuaku? Kenapa kau bertanya demikian?" Hera masih tampak tak mengerti.


Isaac tertunduk lesu. Rasanya benar-benar sulit di percaya, posisinya di keluarga Hamilton harus digantikan oleh seorang anak perempuan seperti dia.


Jadi, posisiku benar-benar digantikan olehnya? Itu artinya, aku benar-benar tidak pernah terlahir sebagai Hendry Hamilton?


Papa, mama… itu artinya, aku tidak akan pernah bertemu kalian lagi sebagai keluarga?


Hera masih memperhatikan Isaac. Anak laki-laki yang tampak seusianya itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya barusan.


Isaac tiba-tiba saja bangun dari tempatnya lalu beranjak meninggalkan Hera.


"Tunggu! Kau mau kemana?" teriak Hera padanya.


"Aku akan pergi," jawabnya tanpa menoleh.


...*...


"Isaac! Sayang, kau darimana saja?" Donna berjongkok di hadapan anak laki-laki yang menjadi putranya itu.


Donna dan Gerald memeluknya erat. Kini mereka bisa bernapas lega setelah melihat Isaac kembali dengan selamat. Mereka sempat kebingungan mencari keberadaan putranya itu yang mendadak hilang entah kemana sesaat setelah dia mengajak mereka bermain petak umpet.


"Kau baik-baik saja 'kan, sayang? Kau tidak terluka?" Gerald menatapnya dari atas sampai bawah, memastikan tubuh putranya itu tak lecet sedikitpun.


"Aku baik-baik saja," gumamnya pelan.


"Syukurlah, mama dan papa lega mendengarnya." Donna tersenyum.


"Kau darimana saja sejak tadi? Kami sudah mencarimu kemana-mana dan kami tidak bisa menemukanmu. Kau tahu? Mama dan papa sampai cemas kalau terjadi sesuatu yang tidak-tidak padamu," ujar Gerald.


"Aku bersembunyi di dekat semak-semak di sana." Isaac menunjuk ke arah semak-semak tak jauh dari tempat mereka berada. Memang pada dasarnya tempat itu juga terhubung dengan hutan lindung kecil yang sengaja di buat untuk penghijauan kota.


"Kau benar-benar hebat bersembunyi. Papa dan mama sampai kalang kabut karena kau tidak ada."


"Maaf sudah membuat mama dan papa cemas."


"Sudahlah, karena hari semakin siang. Bagaimana kalau kita pulang sekarang?"


"Ayo kita mampir dulu ke restoran untuk makan siang bersama," usul Donna yang di angguki setuju oleh Gerald.


Detik berikutnya, mereka melangkah meninggalkan pantai. Menggunakan mobil dan pergi menuju restoran tak jauh dari pantai tempat mereka berada.



...*...


Posisiku benar-benar digantikan oleh anak perempuan itu?


Bagaimana ini bisa terjadi?


Kalau aku tidak pernah ada, maka itu artinya masa depan sudah berubah?


Aku tidak pernah terlahir sebagai Hendry Hamilton, melainkan sebagai Isaac Constantine?


Itu sama artinya dengan…


Aku kehilangan segala hal yang berharga di masa laluku.


Isaac menatap keluar jendela. Wajahnya tampak murung.


Sekarang ini, mereka sedang berada di perjalanan pulang usai makan siang bersama di restoran tak jauh dari tempat yang tadi mereka kunjungi.


"Isaac, apa yang terjadi denganmu? Sejak tadi mama perhatikan kau terus saja diam." Donna melirik pada putranya.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya bosan saja. Ingin segera pulang." Isaac tersenyum simpul.


"Oh ya, aku belum memastikan apakah George sudah sampai di rumah atau belum." Gerald baru ingat akan putra pertama mereka itu.


"Kau benar, aku juga lupa kalau dia pergi ke sekolah. Biar aku hubungi gurunya lebih dulu." Donna mengeluarkan ponselnya, ia segera menghubungi guru yang mengajar di sekolah tempat George belajar.


...*...


George melangkah masuk ke dalam kamar adiknya. Menghampiri Isaac yang sejak tadi terduduk di ranjang tidur setelah selesai mengganti pakaiannya.


"Kau tadi sungguh pergi ke rumah sakit? Apa kata dokter?" George duduk di sampingnya.


"Aku tidak tahu karena aku menunggu di luar bersama perawat yang memeriksaku. Mama dan papa hanya bilang kalau kondisiku tidak terlalu serius."


"Benarkah? Syukurlah." George menghela napas lega. Tampak jelas bahwa rasa bersalahnya berkurang sedikit.


Isaac melirik ke arahnya.


Kenapa dia terlihat begitu senang begitu mendengar kondisiku baik-baik saja?


Maksudku, apakah dia tulus senang seperti itu atau lagi-lagi hanya topeng?


Isaac meragukan segalanya.


Aku masih penasaran apa sebenarnya yang membuat tubuh ini bisa sampai terjatuh dan tidak bisa ingat apa-apa?


Dan lagi, kejahatan apa yang sudah dilakukan oleh George sampai dia berpura-pura seperti itu?


Aku sangat ingin tahu, apakah lebih baik aku coba pancing dia?


Tapi bagaimana caranya?


Isaac mengerutkan kening—bingung. Setelah terdiam beberapa saat, ia akhirnya menemukan ide bagus untuk memancing George bicara.


"Ehem, George."


"Ya?"


"Aku ingin menanyakan sesuatu. Mengenai kejadian kemarin… apa yang sebenarnya terjadi padaku, dan kenapa aku bisa sampai tidak sadarkan diri dan tidak bisa ingat apa yang terjadi? Bisakah kau ceritakan semuanya padaku? Aku sungguh ingin tahu."


"K-kau ingin tahu? Tapi untuk apa?" Wajah anak laki-laki itu berubah gugup.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu saja."


"M-mengenai itu, saat itu kita sedang bermain di luar. Lalu kau secara tak sengaja terjatuh dari anak tangga hingga kau tidak sadarkan diri," jelas George.


"Benarkah?"


"Y-ya."


Dari tadi dia bicara dengan terbata-bata, apakah benar begitu kejadiannya? batin Isaac.


"Oh begitu rupanya… tadinya kupikir kau mendorongku jatuh dari tanggal hingga aku tidak sadarkan diri," gumam Isaac, sengaja memancing perkara guna melihat bagaimana reaksi anak itu setelah mendengar ucapannya.


"Apa?! Kenapa kau berpikir begitu?" bentaknya hingga membuat Isaac tertegun dibuatnya.


"Aku hanya berasumsi. Maaf kalau itu membuatmu tersinggung."


Reaksinya, dia seperti pencuri yang baru saja tertangkap basah.


"Oh ya, omong-omong apakah kau tahu? Hari ini aku, mama dan papa pergi bersenang-senang."


"Apa?" Air muka George berubah begitu Isaac kembali memancingnya ke arah lain.


"Sepulang dari rumah sakit, mama dan papa mengajakku ke tempat yang katanya dulu sering kita kunjungi. Kita ke arena permainan, taman hiburan, lalu pergi ke pantai bersama. Hari ini sungguh menyenangkan. Sayang sekali kau tidak bisa ikut karena kau sekolah."


"Apa? Tapi mama dan papa tidak bilang kalau—"


"Mama sebenarnya bilang kalau aku tidak boleh bicarakan hal ini padamu, karena katanya ini rahasia."


...***...