
Ceklek!
Isaac melangkah masuk ke dalam ruang kerja Gerson. Pria itu masih duduk di kursinya. Namun kali ini sedang sibuk berbicara dengan seseorang di telpon.
"Segera selidiki siapa orangnya. Segera kabari aku kalau kau mendapatkan informasinya."
"Baik, tuan. Saya akan lakukan sesuai yang anda perintahkan."
Gerson menutup telponnya. Menaruh gagang telpon kembali ke tempatnya.
Apa yang sedang kakek bicarakan, ya? Dan lagi dengan siapa kakek bicara? Sepertinya pembicaraan yang cukup serius.
Isaac melangkah menghampiri Gerson perlahan.
"Oh, Isaac. Maaf kau pasti menunggu lama, ya? Kakek baru saja selesai dan baru akan menemui mu."
"Tidak apa-apa, kek." Isaac tersenyum simpul. "Kalau begitu sekarang kakek bisa bermain denganku?"
"Iya, tentu saja. Sekarang kita bisa bermain." Gerson bangun dari tempat duduknya, berjalan menghampiri Isaac di sana.
Gerson duduk di sofa yang ada sambil mendudukkan Isaac dalam pangkuannya.
"Tapi, siapa yang tadi menelpon kakek? Sepertinya kakek memiliki urusan penting. Apakah tidak apa-apa kalau kita bermain?"
"Tentu saja tidak apa-apa. Lagipula yang tadi itu bukan urusan penting."
Aku masih penasaran dengan siapa tadi kakek bicara, batin Isaac.
"Baiklah, sekarang bagaimana kalau kita main bersama? Apa yang ingin kau mainkan?" Gerson mengalihkan pembicaraan.
"Ayo!" Isaac mengangguk penuh semangat.
Mungkin aku bisa mengorek informasi dengan terus bersamanya. Untuk sekarang lebih baik aku melakukan apa yang dia inginkan, lalu menunggu hingga kakek benar-benar lengah.
...*...
"Hari ini, kita ada beberapa pertemuan penting, pak. Salah satunya adalah membahas tentang proyek baru kita dengan perusahaan T Corp dari Neotopia," jelas Shannon.
"Jadi, pertemuannya hari ini?"
"Benar, pak. Sekitar pukul sembilan pagi."
"Di mana lokasinya?"
"Tuan Sariel dari T Corp sendiri sudah menentukan tempatnya di Blueast Restaurant."
Lucas melirik jam yang kini melingkar di pergelangan tangannya. "Masih ada waktu sebelum rapatnya di mulai 'kan?"
"Benar, pak."
"Kalau begitu kau berangkat lebih dulu ke Blueast Restaurant. Saya akan pergi untuk menemui istri dan anak saya dulu. Saya sudah janji pada Hera kalau saya akan menemaninya membeli barang yang dia inginkan."
"Baik, pak. Saya mengerti."
"Kalau begitu, saya duluan."
Lucas melangkah keluar dari lift. Berjalan menyusuri koridor hingga akhirnya tiba di lobby kantornya.
Bersamaan dengan Lucas dan sekretarisnya, pegawai lain yang juga satu lift dengannya melangkah keluar.
Pegawai pria itu melangkah menuju toilet di lobby. Begitu tiba di dalam, ia segera masuk ke salah satu bilik yang ada.
Selanjutnya, pria itu sibuk menghubungi seseorang lewat ponselnya.
"Bagaimana? Kau mendapatkan sesuatu?"
"Saya sudah mendapatkan informasi yang bapak butuhkan."
"Benarkah? Bagus! Segera beritahu aku detailnya. Bagaimana kalau kita bertemu siang ini di tempat biasa?"
"Baik. Saya akan segera ke sana."
"Aku akan menunggumu."
Pip—
...*...
"Okay, aku mengerti. Terima kasih banyak atas kerja kerasmu." Pria itu tersenyum simpul. Tangannya bergerak merogoh sebuah amplop dari balik jas yang dikenakannya.
Ia lalu menyodorkan amplop di tangannya. "Ini adalah imbalan untuk kerja kerasmu."
"Terima kasih, pak. Lain kali, kalau anda membutuhkan bantuan lagi, jangan sungkan untuk menghubungi saya."
"Tentu."
Pria itu beranjak bangun dari tempat duduknya. Melangkah meninggalkan tempat tersebut.
...*...
Isaac terus melangkah dengan bola di tangannya. Saat ini dirinya sedang menikmati bermain bola dengan Gerson.
Sudah beberapa hari berlalu, dan setelah pembicaraan terakhir, Isaac sama sekali belum menemukan jawaban atas pertanyaannya mengenai pembicaraan yang dilakukan oleh Gerson lewat telpon.
Isaac juga sama sekali tidak bisa memulai rencananya karena Gerson terus mengalihkan perhatiannya.
Dia punya pertanahan yang tinggi, batin Isaac.
Tap!
Isaac menghentikan langkahnya saat ia melihat Gerson tengah sibuk mengangkat telpon entah dari siapa.
Kakek sedang menelpon? Dengan siapa?
Apakah jangan-jangan dengan orang yang waktu itu?
Isaac terdiam memperhatikan gerak-gerik kakeknya. Anak laki-laki itu berjalan mendekat, mengikis jarak antara dirinya dan sang kakek.
Isaac pura-pura duduk dan bermain dengan bola yang tadi diambilnya.
"Baiklah, aku tunggu kau."
Pip—
Gerson menutup sambungan telponnya sepihak lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong yang ada di celana.
"Kau sudah menemukan bolanya, sayang?"
"Sudah, kek."
"Baiklah, ayo bermain lagi!" Gerson tersenyum.
...*...
Waktu berlalu. Setelah selesai bermain bola di luar, Isaac dan Gerson memutuskan untuk bermain di dalam rumah.
Gerson mengajak Isaac untuk bermain puzzle.
"Yang ini pasti dengan ini," gumam Gerson sambil menaruh salah satu potongan puzzle di tangannya.
"Tidak, kakek. Itu bukan di sana," kata Isaac sambil mengambil potongan puzzle di tangan kakeknya lalu menaruhnya di posisi yang benar. "Harusnya di sini," katanya.
Gerson cukup terkejut dengan cucunya yang ternyata begitu pintar dalam bermain puzzle.
"Wah, cucu kakek memang pintar!" Gerson tersenyum simpul. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala Isaac dengan penuh kelembutan.
Bermain puzzle seperti ini saja hanyalah hal yang mudah, pikir Isaac.
"Tuan!" Seorang pria tiba-tiba saja datang, dan membuat perhatian keduanya beralih.
Isaac mendongak menatap laki-laki yang tampak asing itu. Ia sama sekali tidak tahu siapa pria yang baru saja datang tersebut.
"Kau sudah datang?"
"Ya, tuan. Dan saya membawa semua yang anda butuhkan."
"Kalau begitu, kita bicara di ruanganku saja."
"Baik, tuan."
Jemmy beranjak meninggalkan tempat tersebut. Gerson beralih fokus pada Isaac.
"Maaf sayang, tapi kita lanjutkan mainnya nanti, okay? Ada yang harus kakek bicarakan dengan Jemmy. Kau main dulu sendiri, ya?"
"Baik," gumam Isaac pelan.
Pasti ada yang coba mereka sembunyikan. Aku harus memanfaatkan ini.
Aku harus tahu apa yang kakek dan pria bernama Jemmy itu bicarakan. Siapa tahu ini adalah hal penting.
Gerson dan Jemmy pergi bersama menuju ruang kerjanya. Mereka harus membicarakan sesuatu yang penting.
Di saat yang bersamaan, Isaac mengikuti mereka tanpa sepengetahuan mereka.
Isaac terus melangkah hingga akhirnya tiba di depan pintu yang langsung di tutup rapat oleh Gerson.
Aku tidak bisa masuk. Kalau begini, bagaimana caranya agar aku bisa mendengar pembicaraan kakek dan pria itu?
Isaac terdiam sejenak, berusaha mencari cara agar dia tetap bisa mendengar pembicaraan Gerson dan Jemmy tanpa perlu masuk ke dalam sana.
Tunggu. Ada pintu lain yang aku lihat terhubung dengan ruang kerja kakek.
Kalau tidak salah, pintunya terhubung dengan ruangan di bagian Utara ruang kerjanya.
Mungkin, aku bisa menguping dengan lebih jelas di sana.
Isaac segera melangkah pergi menuju salah satu ruangan yang terletak bersebelahan dengan ruang kerja Gerson.
...***...